There, chapter 27 :)
Brother's Love
Chapter 27
Gabriel terbangun di pagi hari dan segera menemukan pemandangan yang indah namun mengusik hatinya di sofa. Sam tertidur lelap di kaki Dean. Dean pun masih tertidur lelap. Tangan Dean ada di kepala Sam menggenggam beberapa helai rambut Sam, sementara tangan yang lain ada di dada Sam dengan Sam menggenggam tangan tersebut erat seperti yang tidak ingin dilepaskan. Dean terlihat sangat nyaman dengan Sam di dekatnya dan sam tertidur dengan pulasnya. Sudah pasti mereka sangat nyaman seperti itu. Ada perasaan cemburu di sana. Gabriel harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya.
Dean membuka matanya, dan tersenyum lega menemukan Sam masih ada di sana, tertidur lelap di pangkuannya, berarti bukan mimpi. Perasaannya sangat damai, ia seperti melihat Sam kecil dulu meski tubuhnya kini besar dengan kaki yang panjang, jauh dari perkiraannya. Dean tidak menyangka Sam akan sebesar ini Dikecupnya kening Sam sebelum tersadar keberadaan Gabriel di sana yang melihatnya, dan mata merekapun saling beradu. Dean langsung merasa tidak enak, terlebih dengan wajah kikuk Gabriel
“Maaf, kuharap kau tidak keberatan, Gab.”
“Tentu, tentu saja tidak,” Gabriel harus tersenyum kikuk.
“Jangan takut, Gab, dia masih milikmu juga.”
Gabriel terpaku pucat. Saat ia ingin mencoba menjelaskan, Sam terlanjur terbangun.
“G…Gabriel?” mata kecil Sam terbuka perlahan-lahan.
“Bukan, ini aku,” sempat kecut juga Dean mendengar nama Gabriel yang pertama tersebut, bukan dirinya.
“Dean?” Sam memastikannya dengan membuka matanya lebih lebar.
“Ya,” disertai senyuman.
“Oh, maaf,” Sam menjadi tidak enak
Dean hanya tersenyum, “Tidak apa-apa.”
Sam segera menyadari posisinya yang masih berada di kaki Dean. Ia langsung bangun, “Maafkan aku,” dengan merah, terlebih Lisa pun melihat mereka. “Maaf, Lisa.”
Lisa justru tersenyum geli, “Tidak apa-apa, Sam, dia milikmu juga.”
Sam melirik Gabriel yang juga tersenyum menenangkan, terlebih Dean. Dean tersenyum kegelian dan maklum.
“Jangan takut, Sam, kita sama-sama menikmatinya, kan?” dengan mengacak-ngacak rambut Sam, membuat Sam semakin merah karena malu.
*
“Kau akan pergi bekerja?” tanya Sam hati-hati saat mereka sarapan.
Dean terdiam sesaat, “Kenapa?”
“Ah, tidak,” Sam menjadi ragu melanjutkannya.
“Kenapa, Sam?” Dean jadi penasaran.
Sam hanya menggeleng.
“Tidak, aku tidak akan kerja hari ini,” putus Dean.
Sahutan Dean membuat Sam terheran walau ada perasaan senang.
“Aku tidak akan bekerja, untuk berjaga-jaga mungkin saja kau akan pergi lagi,” tambahnya dengan tersenyum renyah.
Sam tersenyum malu, “Aku tidak akan pergi secepat itu, Dean. Kita baru saja bertemu.”
Dean tersenyum geli, “Iya, aku tahu. Tapi karena itu, aku tidak ingin pergi hari ini. Aku ingin hari ini penuh bersamamu.”
Senyum senang merekah di bibir Sam.
Maka Dean dan Sam tetap berada di rumah, menikmati dan memuaskan kerinduan mereka. Sam pun bermain dengan puasnya bersama keponakannya. Tidak terkira lagi wajah bahagia Sam. Sam dapat melupakan kenangan buruk di rumah ini.
Saat siang hari, tiba-tiba Sam mengajak untuk keluar rumah
“Bisakah kita pergi ke pelabuhan ke tempatmu bekerja?” tanyanya halus.
“Tentu, Sam. Apa yang kau cari di sana?” Dean dengan tersenyum
“Tidak ada, hanya ingin melihat tempatku bekerja dulu.”
Dean harus tersenyum, “Sam, kau hanya bekerja satu hari.”
“Yeah, satu hari, satu hari aku merasa bebas. Aku tidak pernah merasa bebas sebelumnya seperti yang kurasa di hari itu, Dean. Aku tidak akan bisa melupakannya.
Dean menggigit bibirnya, ‘Tentu saja, iapun masih mengingatnya. Takkan pernah terlupakan bagaimana wajah bahagia Sam di hari itu; tidak ada pukulan dan mendapatkan uang sendiri. Ia bahkan bisa membeli buku yang ia sukai dengan uang itu. Yah, hari yang paling bahagia untuk Sam, diantara hari-hari bersama ‘dia’.
“Dan aku juga ingin menemui Mr. Singer. Dia sudah sangat baik padaku,” Sam tersenyum penuh semangat.
Tapi hanya membuat Dean terdiam. ‘Sam belum mengetahuinya.’
Dean menarik nafas, “Sam… Mr Singer sudah berpulang dua tahun yang lalu.”
Dan Sam langsung terdiam pucat.
“Maafkan aku, Sam,” Dean menggenggam tangan Sam.
“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya.”
“Tidak perlu, dia sudah mengetahuinya,” Dean memberikan senyuman hangat.
“Bisakah kita pergi ke makamnya?”
“Tentu, Sam, akan kuantar kau ke sana.”
Akhirnya Sam dapat tersenyu.
Bersama Dean dan Gabriel, Sam diantar ke makam Mr. Singer.
Sam berdiri di depan pusarnya dan mengucapkan sesuatu dalam hati. Gabriel harus tersenyum melihatnya. Rasa kagum bertambah, Sam tidak melupakan semua orang yang bersikap baik padanya, dan tetap menghormati mereka. ‘Kau memang istimewa, Sam’
Gabriel mengalihkan pandangannya ke pemakaman ini, dan tiba-tiba perasaan aneh menyergapnya. Ada sesuatu dengan nisan yang tepat di belakangnya, sesuatu dari masa lalu Sam. Ia menoleh dan melihat nama di pusaranya. Terbaca nama yang mengagetkannya; ‘John Winchester’. Mungkinkah ini ‘dia?’ mudah-mudahan bukan. Gabriel mencoba untuk mengabaikannya, tapi sebelum sempat ia beralih pandangan, Sam terlanjur melihatnya Ia menengok ke arah Dean yang sudah terdiam.
Tanpa berucapa, sam beralih pada ‘dia’ dan menemukan dimana ‘dia’ sekarang berbaring, dan membuatnya terpaku. John Winchester terbaring berdampingan dengan istri tercintanya, ‘Mary Winchester’, ibunya. Ibu yang tidak pernah ia kunjungi pusaranya, karena ‘dia’ tidak pernah mengizinkannya keluar.
Gabriel langsung mendekati Sam dan menggenggam tangannya. Ia tahu Sam belum siap untuk ini. Sam belum siap bertemu dengan ‘dia’ meski hanya pusaranya.
“ ’Dia’ di sini, Gab.”
“Iya, Sam. Kita bisa pergi kalau kau belum siap.”
Dean juga terlihat khawatir. Tapi Sam tidak juga beranjak dari depan pusara. Ia menangis perlahan.
“Sam…”
“Nggak, Gab, aku tidak apa-apa, Gab, hanya sedikit kaget,” Sam menarik nafas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya.
Dean tidak dapat berucap apa-apa. Ia tidak bermaksud membawa Sam ke depan ‘dia’, karena ia tahun Sam belum siap untuk menemuinya.
“Maafkan aku, Sam, seharusnya aku tidak membawamu kemari.”
“Tidak, tidak apa-apa, dean. Hanya sedikit aneh, bertemu lagi dengan ‘dia’, meski hanya namanya saja, dan ma.”
“Yeah, aku tahu.”
“Aneh sekali, Dean, aku merindukan ‘dia’, tapi aku juga takut untuk menemuinya. Juga aku begitu lega tak perlu lagi menemuinya. Tapi aku lega, aku bisa menemuinya sekarang. Dan aku tidak yakin ia mau menemuiku.”
Dean mengangguk.
“Dia menginginkannya, Sam. … Kau tahu, apa yang ia ucapkan sebelum ia pergi?”
Sam menggeleg lirih.
“Dia mengatakan: ‘Aku ingin melihat lelaki kecilku pulang.’ Dia ingin bertemu denganmu dan menciummu. Dia berharap satu ciuman selamat tinggal dapat menghapus semua kesalahannya padamu.”
Sam terkatup. Pikirannya berputar tidak mengerti.
“Apakah dia mengatakan dia mencintaiku?”
“Mungkin dia tidak mengucapkannya, tapi aku tahu dia mencintaimu-walau dia tidak tahu bagaimana menunjukkannya. Dia sangat bahagia melihat bagaimana miripnya kamu dengan mama, tapi dia tertutupi dengan rasa rindunya yang besar pada mama hingga melampiaskan kerinduannya dengan …,” Dean tidak perlu lagi melanjutkannya.
Sam mengangguk lirih, “Ya, aku mengerti.” Ia menarik nafas dalam-dalam. “Dan aku pun tidak pernah membencinya. Aku sangat menyayanginya.” Kemudian kembali pada dua pusara di hadapannya “Aku menyayangimu, pa,” tanpa sadar air mata sudah mengalir di pipinya.
Dean menepuk pundaknya, “Dia selalu tahu itu, Ci.”
Sam menarik nafas dalam-dalam, “Bisa kita pergi sekarang?”
Dean mengangguk. “Yeah, tentu saja,” dengan tersenyum ringan. “Oh, maukah bertemu dengan Nyonya Singer?” Dean mencoba mengalihkan percakapan.
Dan Sam tersenyum, “Ya, tentu saja.”
Dean hanya mengangguk dan menunjukkan jalan ke rumah Keluarga Singer.
Dalam perjalanan mereka menyempatkan ke rumah Kel. Sullivan yang dulu, yang kini sudah dijual dan berganti pemilik. Gabriel harus tersenyum, seperti dibawa kembali ke masa lalu saat tinggal di rumah itu.
Dan saat tiba di rumah Kel. Singer, Sam seperti bertemu sosok Ibu lainnya. Nyonya Singer sangatlah baik, dan terlihat sangat menyayangi Dean. Dia pun terkejut dengan kepulangan Sam. Ia tahu Dean sudah lama menunggu kepulangan Sam, dan ia dapat merasakan kebahagiaan yang dirasakan Dean, dan diapun merasakan hal yang sama. Dia hanya berharap, suaminya dapat menyaksikan ini semua, dan melihat Sam yang sekarang ini. Anak lelaki kecil yang malang sudah banyak menarik perhatiannya. Tapi mungkin suaminya melihat dari atas sana.
Mereka menghabiskan waktu di rumah Kel. Singer hingga petang hari, dan kembali ke rumah tepat saat Lisa menyiapkan makan malam.
Mereka makan malam seperti sebuah keluarga yang bahagia. Sudah tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Dengan lepas Sam dapat bercerita bahkan tertawa saat Gabriel mengeluarkan gurauannya. Semua terlihat indah. Dan Gabrial mengira akan ada kelanjutannya setelah makam malam usai, seperti ‘obrolan pria’, tapi Sam sudah terlihat kelelahan. Ya, tidak bisa dipungkiri, emosi Sam terkuras sehari ini, baik secara fisik maun mental. Sudah cukup Sam untuk hari ini.
“Mau tidur awal, Sam?” Gabriel menanyakan dengan hati-hati
Sam menggigit bibirnya, dan menengok ke atas, satu-satu ruang tidur yang tersisa. Rumah ini hanya memiliki dua kamar tidur; kamar dean dan Lisa, dan kamar tamu yang dahulunya adalah kamar dirinya bersama Dean. Terlihat rona pucat di wajah Sam, bayangan saat dulu ia tidur di sana muncul di matanya. Disadarinya ia bahkan belum naik ke atas sejak pertama kali mereka sampai di sini.
“Kau tak perlu tidur di atas, Sam,” lanjut Gabriel dengan menengok ke arah Dean.
“Ya, Sam, kau bisa tidur di sini, di sofa seperti semalam,” Dean mencoba mencairkan ketegangan.
Sam menelan ludah, dan tersenyum, “Tidak terima kasih, di atas juga tidak apa-apa,” ia tampak seperti melawan sesuatu dalam dirinya.
Justru Gabrile yang tampak lebih khawatir, “Sam…”
Tapi Sam meraih tangan Gabriel, “Antar aku ke atas, Gab.”
Gabriel hanyamengehla nafas dan mengangguk.
“Kami permisi,” ucap Sam sopan.
Dean dan Lisa hanya mengangguk. Dean melihat kedekatan Gabriel dengan Sam. Ada rasa cemburu di sana, tapi ia dapat dimakluminya, Gabriel-lah yang mendampingi Sam selama 12 tahun ini setelah Sam tinggal bersama keluarga itu. Rentang waktu 9 tahun yang dimiliki Dean, tidaklah sebanding dengan rentang waktu 12 yang dimiliki Gabriel terlebih di masa-masa pemulihan Sam. Gabriel sudah menjadi kakak hebat bagi Sam. Saat ini Gabriel-lah kakak Sam, dan Dean bisa memahami itu.
Gabriel mengantarkan Sam naik ke atas. Sam menaiki tangga kecil itu perlahan-lahan selangkah demi selangkah. Ia tidak melepaskan pegangan tangannya pada Gabrile, bahkan semakin erat saat mereka akan mencapai atas.
Dan Sam harus menahan nafas dan melawan semua perasaannya. Ia melawan aura yang terasa di ruangan ini. Aura kepedihan dan rasa sakit masih sangat terasa.
“Aku di sini, Sam” Gabrile siap di belakangnya, berjaga-jaga Sam pingsan
Tapi Sam bertahan.
Ia mendekati tempat tidurnya dan duduk si sana. Mungkin bukan tempat tidur yang sama, tapi auranya masih tetap sama.
“Aku dulu tidur di sini, Gab, setiap malam, dengan kesakitan,” suara sangat kecil.
“Aku tahu, Sam,” Gabriel mendekapnya.
“Meringkuk, mencoba untuk mengenyahkan rasa sakit di seluruh tubuhku. Mencoba untuk tidur, mencoba untuk tidak menangis.”
“Aku tahu, Sam,” Gabriel manahan nafas, dia tidak ingin mendengarnya. Tapi Sam tetap melanjutkan.
“Dulu sangat sulit melakukannya, tapi harus atau ‘dia’ akan memukulku lagi. Lalu Dean akan memelukku, membawaku ke tempat yang paling aman seduani,” dengan tersenyum perih
“Iya, aku tahu,” Gabriel mendekapnya erat. “Kau tak perlu tidur di sini, Sam,” dengan sedikit memaksa. Ia tidak ingin sam terluka kembali.
“Tidak apa-apa, Gab, aku baik-baik saja. Kau akan di sini, kan?”
“Tentu.”
“Kalau begitu aku akan baik-baik,” dan mencoba membaringkan tubuhnya di tempat tidur ini. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosi dan perasaannya..
“Temani aku, di sini, Gab, agar aku tidak bermimpi buruk.”
Gabriel mengangguk dan membaringkan tubuhnya di samping Sam dan menariknya dalam pelukan, membawa Sam ke tempat yang paling aman, seperti yang Dean lakukan dulu.
“Aku di sini, Sam, kau tidak akan bermimpi buruk,” dengan memeluknya erat. Ada perasaan lega di sana, Sam masih membutuhkannya. Sempat ada perasaan takut Sam akan melupakannya setelah bertemu Dean, menyadari Dean tetaplah kakak nomor satu untuk Sam. Tapi dengan ini, Gabriel merasa ia masih menjadi kakak yang dibutuhkan sam,dan Gabriel akan selalu siap untuk Sam. Dikecupnya kening Sam sebelum ia ikut tertidur.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar