Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 23

There you go.... ENJOY!!!!

Brother's Love

Chapter 23

Pertama kali Sam menginjakkan kakinya di pelabuhan, ia hampir tidak mempercayainya. Matanya berbinar. Dipandanginya, orang-orang berlalu lalang di sekitarnya, juga teriakan mereka. Suasana sama seperti di Inggris. Tapi ini di Amerika. Dia sudah samapi di Amerika! Sam tersenyum sendiri.

‘AKU MENUNGGUMU DI SINI, SAAMM!!!!’ masih teringat jelas pekikan terakhir Dean saat mengantarnya pergi.

Mata Sam berkeliling, mengingat di mana persisnya Dean berdiri saat itu. ‘Ya, Tuhan, sudah 12 tahun’.

“Di situ!” Sam menunjuk sebuah titik di tepi pelabuhan yang berhadapan persis dengan sebuah kapal yang siap untuk diberangkatkan.

Sam menujunya, dan berdiri di sana.

“Di sini, Gab. Di sini dulu dia berdiri, melambaikan tangannya, membiarkan aku pergi bersama kalian. Iya di sini!” Sam penuh semangat keyakinan dan berbinar.

Gabriel mengangguk dengan tersenyum, ia pun masih ingat. Saat itu ia hanya bisa melihat dari balkon dengan perih dan berlinang air mata, Dean berteriak mengiklaskan adiknya itu ikut bersama keluarganya. Gabriel masih ingat dengan jelas. Dia yakin, ia tidak akan bisa seperti Dean bila ada di posisinya.

Lama Sam berdiri di sana ditemani Gabriel, tidak mengindahkan orang-orang yang meminta mereka pergi karena menghalangi jalan dengan tas-tas besar mereka, juga menolak tawaran kuli-kuli pelabuhan yang menawarkan tempat-tempat menginap andalan mereka.

“Sam, apakah tidak lebih baik kita mencari tempat menginap dahulu, agar kita punya tempat menetap sementara di sini? Juga kau harus istirahat. Nanti setelah itu kita bisa kembali lagi ke sini,” ucapan Gabriel sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Sam.

Sam menarik menghela nafas dengan tersenyum, “Kau benar, kita cari tempat menginap dulu. Nanti kita bisa kembali ke sini lagi.”

Gabriel hanya mengangguk. Dia sudah berjanji dalam hati, akan mengiringi Sam kemana pun dia pergi.

Sebuah hotel terbaik di sekitar pelabuhan menjadi pilihan mereka. Hotel yang terletak di tengah kota dan tak jauh dari pelabuhan. Mereka sudah berada di kota yang sama dengan Dean, hanya saja kota ini cukup luas untuk dijelajahi dalam satu hari. Mudah-mudahan dengan bekal alamat yang mereka bawa dari surat terakhir yang Dean kirimkan, dapat membawa mereka pada alamat Dean. Semoga tidak terlalu lama dalam mencarinya. Namun setelah mereka merebahkan badan di tempat tidur empuk itu, mereka menjadi sulit terbangun. Rasa nyaman membuat mereka terlena. Rencana untuk kembali ke pelabuhan terpaksa ditunda hingga besok. Lagi pula waktu mereka di sini masih panjang.

*

Dean pulang dengan langkah gontai dan kecewa. Ia masih bersikap biasa, walau di hatinya penuh dengan rasa cemas, takut dan gembira, meyakini Sam akan pulang. Lisa mulai mencurigai ia lebih menghabiskan waktunya di pelabuhan menunggu Sam. Tapi Dean tetap yakin Sam akan pulang, walau ia tahu, akan menyakitkan bila apa yang ia yakini salah. Bahwa hanya sebuah halusinasi mengharapkan Sam pulang. Semoga tidak.

“Aku akan ikut ke kota,” ucap Lisa saat Dean hendak pergi ke tempat kerjanya keesokan harinya.

“Untuk apa?”

“Ada keperluan yang harus kubeli, dan juga untuk Emily. Lagi pula sudah lama aku tidak mengunjungi orangtuaku, kau juga.”

Dean terdiam. “Maafkan aku.” Kemudian mengangguk, “Kita ke sana bersama-sama.”

Lisa hanya mengangguk dengan senyuman.

Sungguh beruntung, Dean mendapatkan Lisa Braiden menjadi istrinya. Seorang gadis cantik kaya terhormat yang tidak pernah menganggap dirinya kaya. Ia bersedia menikah dengan Dean yang hanyalah seorang pemilik perusahaan pengiriman kecil, dan tidak memiliki siapa-siapa selain orang tua angkatnya, dengan cerita masa kecil yang sangat menyedihkan. Ia pun tidak keberatan harus tinggal di rumah kecil milik ayah Dean, karena tidak ingin meninggalkan kenangan adiknya, Sam. Walau kenangan itu membuat Dean lebih banyak menderita. Menderita karena kerinduannya.

Kedua orang tua Lisa sangat mengerti dan membiarkan pilihan hidup putrinya tanpa kekangan dan tekanan. Lisa akan selalu berbahagia bersama Dean Winchester. Terlebih dengan kehadiran Sam kecil sebagai cucu pertama mereka yang sangat mereka banggakan.

Selepas dari rumah Kel. Braiden, Dean hanya mengantarkan Lisa sampai toko yang ia tuju, sementara ia melanjutkan ke tempat kerjanya dan menengok pelabuhan, menunggu kapal-kapal penumpang yang baru merapat.

*

“Apa rencana kita pagi ini, Sam?” Gabriel tersenyum menyambut pagi yang sangat cerah setelah badai menerpa dua hari yang lalu. “Kita kembali ke pelabuhan?”

“Tidak. Aku berpikir untuk mencari rumahku dulu,..” Sam terdiam seketika dengan ucapannya. ‘Rumahnya dulu. Rumahnya bersama laki-laki itu, laki-laki yang seharusnya menjadi ayah yang baik. Rumah dimana dia menjalani hari-hari penuh siksaan. Dan sekarang ia akan kembali ke sana. Mungkinkan dia masih hidup? Mungkinkah dia akan kuat bila bertemu dengannya lagi’ Wajahnya menjadi pucat mengingatnya.

“Lebih baik jangan bila kau belum siap,” Gabriel yang menangkap perubahan wajah Sam, sangat mengkhawatirkan perasaannya. “Kita bisa berkeliling kota dulu, atau pun menunggu di pelabuhan. Mungkin dia pun menunggu kamu di sana.”

Sam memandang ragu ucapan Gabriel. ‘Ini sudah 12 tahun. Dean sudah memutuskan kontak suratnya, mungkinkah dia masih menginginkanku pulang?’ Tiba-tiba rasa takut menyergap. ‘Bagaimana kalau memang Dean tidak menginginkan dia pulang. Bagaimana kalau Dean memang sudah berusaha melupakannya? Tidak! Tolong, jangan!’ “JANGAN!!” sebuah pekikan terlepas tanpa sadar dari bibir tipis Sam.

“Sam? Kau tidak apa-apa?” semakin cemas Gabriel jadinya.

Sam segera tersadar. “Tidak, Gabriel, aku tidak apa-apa.”

“Yah, mungkin kita tidak perlu ke mana-mana dulu. Kita tetap di sini sampai kau siap_”

“Tidak. Kita harus keluar hari ini. Aku harus menemukan Dean secepatnya,” putusnya tanpa dapat diganggu gugat, dan Gabriel hanya bisa menurutinya.

Sebuah mobil yang disewakan atas fasilitas hotel tempat mereka menginap, memudahkan mereka untuk mencari alamat yang mereka tuju. Berbekal alamat yang tercantum dari surat terakhir yang dikirimkan Dean tiga tahun yang lalu, mereka mencari rumah yang dulu Sam tempati.

Sunggguh mengherankan, Sam sama sekali tidak mengenali jalan-jalan di kota ini. Bahkan jalan menuju rumahnya pun dia tidak tahu.

“Aku tidak pernah diperbolehkan keluar oleh ‘dia’, kecuali ke toko kelontong untuk membeli minuman buat ‘dia’,” bergetar Sam mengucapkannya dan mengingat kembali.

Gabriel langsung mengusap punggung adiknya.

Tiba-tiba mata Sam menangkap sesuatu di seberang jalan. Dilihatnya seorang anak kecil bersama seseorang yang tak jauh lebih tinggi darinya berdiri di depan sebuah etalase toko. Sam membaca nama toko tersebut, ‘Pojok Buku’.

“STOP!!!” Sam memekik tiba-tiba, mengagetkan supir dan Gabriel.

“Ada apa, Sam?” Gabriel dengan cemasnya.

Sam tidak mendengarkan, matanya mencari kedua anak itu. Tetap tidak ada. Tidak mungkin mereka menghilang sekejap mata. Atau mungkin…

Jantung Sam berdetak sangat kencang dengan kemungkinan yang muncul di kepalanya. Dilihatnya kembali tulisan itu, dan apa yang di balik etalase itu. ‘Buku.’

“Sam?”

“Apa yang kau lihat?”

“Aku dan Dean,”dan segera turun dari mobil dan melintas jalanan itu dan menuju toko tersebut, meninggalkan Gabriel yang terheran, membuatnya berlari menyusulnya.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar