Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 26

No harm.... ENJOY!!!!

Brother's Love

Bagian 26

Dean masih terpaku. Seperti sebuah perasaan aneh berhadapan dengan pemuda tanggi ini. Jantungnya berdebar kencang, tidak mempercayainya. ‘Tapi mungkinkah…?’

“Dean…?” dia memanggilnya pelan takut-takut.

‘Ya Tuhan, dia bersuara. Mungkinkah ini dia? Tapi wajah ini memang dia. Tidak mungkin ia melupakan wajah kecil itu. Wajahnya tidak berubah, meski tubuhnya sudah menjulang tinggi’

Air matanya mulai keluar dengan semakin yakinnya dirinya, begitu juga dia yang tak dapat lagi menahan air matanya.

“Sammy…?”

Serta merta dia menghambur ke pelukannya dengan isaknya. Dean menyambutnya dengan penuh perasaannya.

“Kamu pulang, Sam,” penuh erat Dean memeluk adik tercintanya ini, seperti yang tidak ingin dilepaskannya lagi.

“Ya, kak, aku pulang,” terisak-isak di pelukan kakaknya.

“Aku tahu kau pasti pulang, Sammy, aku tahu kau pasti pulang.”

Sam hanya mengangguk-angguk masih dengan penuh air mata.

“Dan kau berbicara sekarang,” dengan tertawa geli. “Kukira aku tidak akan mendengar suaramu lagi.”

Sam ikut tertawa di tengah isaknya. “Tidak ada lagi yang melarangku bersuara.”

“Ya, aku tahu, Sam,” kembali mempererat pelukannya, disertai kecupan gemas.

Gabriel dan Lisa ikut terharu melihatnya. Mereka akhirnya bertemu kembali setelah 12 tahun terpisah.

Lama mereka berpelukan, seperti yang tidak ingin dilepaskannya lagi. Hingga akhirnya salah satu dari mereka melepaskannya.

Dean memandangi dengan takjub, “Kau tinggi sekali sekarang. Mereka memberimu makan apa?” setengah tergelak.

Sam tertawa kecil. “Banyak!”

Kemudian Dean beralih pada pemuda di samping Sam.

“Gabriel?” Dean dengan ragu.

Gabriel tersenyum lebar, “Kita bertemu lagi, Dean.”

Serta merta Dean langsung memeluk Gabriel erat. Kemudian saling melepaskan pelukan.

“Aku kira aku tidak akan bertemu denganmu lagi,” Dean berucap.

“Aku juga,” Gabriel harus tersenyum lega.

“Terima kasih banyak,” ucap Dean tulus.

Gabriel mengangguk.

“Kapan kalian tiba?”

“Sehari yang lalu. Kapal kami tertahan badai. Tapi syukurlah kami dapat selamat tiba disini,” Sam menjawab.

Dean tercekat, ‘mimpi itu’. Berarti benar, mimpi itu sebuah pertanda. Dia tersenyum sendiri.

Dipandanginya dengan takjub adiknya ini. Tak percaya dia pulang. Sam pulang ke rumah!

“Baiklah, bagaimana kalau kita rayakan malam ini dengan makan malam yang istimewa?” Lisa memecah kecanggungan dengan ceria. “Aku sudah memasakkan makan malam yang istimewa.”

“Tentu! Kita rayakan malam ini,” sambut Dean penuh semangat. Dan Lisa pun segera mengeluarkan masakan makan malamnya yang istimewa

Mereka makan malam penuh dengan kehangatan. Bayangan seram atas kenangan buruk di rumah ini terlupakan oleh Sam. Dia selalu merasa aman dan nyaman bila berdekatan dengan Dean. Dean yang selalu melindunginya, dan melakukan apapun untuknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Lisa mengenal Dean, ia melihat wajah bahagia yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Jauh lebih bahagia saat mereka menikah dulu, bahkan saat Sammy kecil lagi. Wajah bahagia itu sangat berbeda. Bahagia yang terlepaskan setelah 12 tahun dipendamnya. Lisa tersenyum dengan bahagianya.

Selepas makan malam, mereka berbincang-bincang. Tentu banyak yang ingin mereka bicarakan setelah 12 tahun tidak bertemu, semua yang tidak tertulis dalam surat mereka. Gabriel dan Lisa ikut bergabung, dan mereka menjadi sebuah keluarga. Keakraban dan kehangatan tercipta dengan sendirinya, membuat Sam sangat nyaman. Ia telah merasakan pulang kembali ke rumah. Kembali pada Dean.

“Ada sesuatu untukmu, Dean.”

Dean tercenung, dan tersenyum penasaran.

Sam sempat tersenyum pada Gabriel, sebelum mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya, dan menyodorkannya pada Dean.

“Apa ini?” Dean menerimanya dengan tersenyum.

“Bukumu.”

Dean terkatup, terlebih dengan judul buku di sampul depannya, ‘Dean, Kakakku’ dengan nama pengarang ‘Sam Winchester’ bukan ‘Sam Sullivan’ seperti yang selalu ia bubuhkan di setiap bukunya.

“Mudah-mudahan kau tidak keberatan aku menulis semua tentangmu di buku itu. Buku itu juga yang menjadi obat rindu jika aku ingin bertemu denganmu. Aku menceritakan semua tentangmu, merasakan kehadiranmu dan melihat kau di sana. Buku itu juga menjadi barang berharga untukku. Aku tidak akan pernah berniat mempublikasikan. Aku simpan hanya untukku dan kuberikan untukmu.”

“Sammy…” Dean benar-benar tak dapat berucap, dan membuka lembaran-lembaran pertama buku tersebut. Semua bertuliskan tentang dirinya.

“Semua yang ingin kuucapkan saat itu, tertulis di sana.

“Mudah-mudahan kau tidak keberatan, dan mau menerimanya.”

Dean hanya bisa tersenyum haru, dan langsung memeluk Sam dengan erat.

“Terima kasih, tentu akan kuterima buku ini dan akan baca juga kusimpan baik-baik,” setelah melepaskan pelukannya. Dilihatnya kembali buku tersebut, dan terlihat semua apa yang ada di kepala dan di hati Sam.

“Aku pun ada buku untukmu. Mungkin kau sudah melupakannya, tapi aku masih menyimpannya Tertinggal saat kau pergi, dan aku menyimpannya untukmu.” Dikeluarkannya buku dari balik jasnya dan disodorkannya pada Sam.

Sam hampir tak percaya melihatnya, “Buku ini?” dengan melihat judul sampulnya. ‘Oliver Twist’. “Gabriel?”

Gabriel pun tersenyum takjub.

“Maaf, keadaannya sudah tidak sebagus dulu. Tapi ia aman bersamaku.”

Sam masih tersenyum takjub pada Gabriel dengan keharuan.

“Terimakasih telah menyimpannya, Dean, aku mengira aku telah kehilangannya.”

“Dean tidak pernah meninggalkannya Sam, dia selalu membawanya kemana pun ia pergi, bahkan hanya buku itu yang ia bacakan setiap malam untuk Sam,” Lisa ikut menyela untuk suaminya.

Sam semakin takjub mendengarnya. “Terimakasih, Dean.”

Dean hanya tersenyum.

Mereka kembali dalam perbincangan hangat.

Hingga Lisa menarik diri masuk ke kamar untuk menemani Sammy tidur, dan Gabriel yang terlebih dahulu naik ke ke kamar, meninggalkan kakak beradik ini untuk lebih berleluasa melepas kerinduan mereka.

“Kenapa kau tinggalkan aku, Dean? Kenapa kau tinggalkan aku bersama keluarga itu?”

“Karena aku menginginkan kehidupan yang lebih baik untukmu”

“Tapi kenapa kau tidak ikut serta?”

“Karena aku tidak ingin menambah beban mereka. Mereka terlalu baik, aku tidak bisa menerima kebaikan lainnya. Tapi aku tahu mereka mereknya menolongmu. Kamulah yang terpenting untukku. Karena itu aku harus melepasmu.”

“Tapi tidakkah kau tahu, beratnya hidupku tanpa dirimu. Kau meninggalkan aku dengan keluarga yang tidak kukenal sama sekali.”

“Tapi mereka menyayangimu, Sam.”

“Tapi rasa saying yang kutahu hanyalah darimu. Meski mereka begitu menyanyangiku, dan merawatku seperti putra mereka sendiri, aku masih membutuhkanmu. Karena itu sakit sekali saat kau meninggalkanku.”

“Maafkan aku, Sam, aku hanya berpikir yang terbaik untukmu, bersama mereka.”

Sam terdiam, mencerna semua ucapan Dean.

“Lalu kenapa kau memutuskan hubungan kita? Kau tidak pernah lagi menjawab surat-suratku.”

“Karena aku tidak ingin menganggumu. Kehidupanmu sudah sangat baik. Kau sudah menjadi pemuda terpelajar, anggota keluarga terpandang, dan menjadi seorang penulis terkenal. Aku tidak perlu mengganggumu lagi. Dan aku tidak keberatan jika kau tidak lagi mengingatku.”

“Bodoh! Bodoh sekali kau berpikiran seperti itu. Tidakkah kau tahu aku sangat sedih kau tak pernah lagi menjawab surat-suratku. Kukira kau sudah tidak ingat padaku, kau ingin melupakanku, dan tidak mengharapkan kepulanganku.

“Dan aku sangat tersiksa dengan pikiran itu. Karena itu aku memaksa untuk pulang, untuk bertemu denganmu.”

Dean tersenyum kecil, “Maafkan aku. Saat itu aku hanya tidak ingin menganggu kehidupanmu yang sudah jauh dari jangkauanku.”

“Dean,” dengan menggenggam tangan kakaknya, “Aku masih adikmu. Aku masih membutuhkan kasih sayangmu,” matanya memandang lekat mata Dean.

Dean mengangguk mengerti. Digenggamnya erat tangan Sam yang sudah tidak tertutupi sarung tangan kulit hitamnya, dan merasakan tangan tersebut tidak terasa halus dan mulus.

Dibukanya telapak tangan Sam, dan terlihat bekas luka-luka itu. Ia beralih pada kedua pergelangan tangan Sam, juga terlihat jelas parutan luka-luka itu. Dean perih melihatnya.

“Tidak akan bisa hilang, Dean. Ini akan selalu ada. Juga luka-luka yang ada di seluruh tubuhku ini, tidak akan pernah hilang.”

Semakin perih Dean mendengarnya.

“Aku menerimanya,” Sam penuh kelapangan.

Dean terheran, “Tidakkah kau membencinya?”

“Benci? Entahlah. Aku tidak merasakannya. Aku meyakini aku berhak menerimanya. Aku pantas mendapatkannya.”

“Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”

“Karena aku telah menyebabkan mama meninggal. Karena itu ‘dia’ menyalahkanku.”

“Bukan Sam, mama meninggal bukan karenamu.”

“Tapi ‘dia’ terus mengatakannya. ‘Dia’ begitu membenciku.”

“Itu karena kamu sangat mirip dengan mama, dan dia tidak bisa menerimanya. Bayangan mama selalu ada di wajahmu. Dia sangat merindukan mama tapi salah melampiaskan kerinduannya. Kamu tidak berhak diperlakukan seperti itu, Sam, kau tidak salah apa-apa. ‘Dia’ hanya tidak bisa menerima kenyataan kehilangan mama. Hanya itu. Dan aku sangat membencinya.

“Aku benci karena tidak bisa menghalangi perlakuannya padamu, tidak bisa melindungimu, dan karena dia tidak mau berubah kembali seperti papa yang dulu.”

“Itukah alasanmu kenapa kau tidak memberitahuku saat ‘dia’ meninggal?”

Dean harus mengangguk, “Aku hanya tidak ingin kau teringat lagi padanya. Kau barus aja memulai hidup barumu bersama keluarga itu, dan aku tidak ingin kau terluka lagi. Aku lega saat ia akhirnya mati.”

“Apa yang terjadi dengannya?”

“Alkohol, Sam. Pa terlalu banyak minum, dan itu membunuhnya.”

Sam menggigit bibirnya.

“Maafkan aku, Sammy,” Dean tak dapat menahan air matanya, mengingat kembali semua itu. “Aku tidak bisa mencegah apa yang dilakukannya padamu. Aku tidak terlalu kuat untuk mencegahnya.”

“Tidak. Kau sudah berbuat semampumu, Dean, dan aku sudah merasa sangat nyaman bila berada di pelukanmu. Semua sakit itu terobati saat kau ada di sisiku, dan memelukku. Kau sudah mengurangi sakit itu, Dean.”

“Sammy…,” ditariknya adiknya ke pelukannya, dan dipeluknya sangat erat. “Aku selalu berharap dapat mengurangi rasa sakitmu, dan aku selalu berharap ‘dia’ beralih melampiaskannya padaku dan melupakanmu.”

“ ‘Dia’ tidak pernah membencimu.”

“Aku berharap dia membenciku,” semakin mempererat pelukannya. “Dan aku berharap… aku tidak pernah melepaskanmu. Rindu yang selama ini kupendam terlalu berat, Sam. Aku sangat merindukanmu.”

Sam tidak perlu lagi menjawabnya. Ia hanya mempererat pelukannya, dan merasakan kembali nyamannya berada di pelukan Dean yang selalu melindunginya. Sampai ia tertidur di sana.

Dean membiarkan Sam tertidur di pelukannya. Ia pun menikmati benar bagaimana ia merasa tenang dapat memeluk dan melindungi Sam lagi. Adik satu-satunya yang sangat ia sayangi kini telah kembali.

*

Gabriel membuka matanya. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak dapat tidur, mendengar semua percakapan kakak beradik itu. Ia tidak meragukan Dean seirang kakak yang hebat, tapi mendengar sendiri apa yang telah Dean lakukan untuk Sam, sangatlah di luar bayangannya. Dean tidak pernah memntingkanya dirinya. Yang Dean pikirkan hanyalah adiknya. Dean sangat mencintai adiknya melebihi apapun, dan wajar jika Sam begitu menyayangi Dean. Ikatan persaudaraan mereka melebihi apapun. Gabriel merasa sungguh bersyukur dapat bertemu dengan dua sosok kakak beradik yang begitu hebatnya. Gabriel salut dengan mereka. Dengan menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk tidur.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar