Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 22

I'm in a very good mood . ENJOY!!!!

Brother's Love

Bagian 22

“Tidak apa-apa, Dean, hanya mimpi buruk,” Lisa hanya bisa menenangkan suaminya yang hampir setiap malam memimpikan adiknya.

Nafas Dean masih terengah-engah.

“Aku melihatnya, Lisa. Aku melihatnya terapung-apung di tengah laut, di tengah badai besar,” saat itu juga ia tersadar, tidak terdengar lagi gemuruh badai di luar sana. “Badai sudah berhenti?”

“Sepertinya sudah. Hujan sudah berhenti sejak beberapa saat yang lalu.”

Dean mendesah lega. “Kau tidak tidur?” terheran Lisa terjaga di tengah malam.

“Sammy terbangun untuk susunya.”

Dean hanya mengangguk, ‘Tentu saja.’

Dia menarik nafas dalam-dalam. “Benar, Lisa, aku melihat dia terapung di tengah laut bersama seseorang. Kapal yang mereka tumpangi bertabrakan dengan kapal kami. Tapi aku tidak bisa mencapainya. Badai terlalu besar. Angin terlalu kencang dan membawa mereka jauh dari jangkauanku. Mau ke mana mereka, Lisa? Ataukah… dia akan pulang?” Dean berusaha mencari-cari arti mimpinya. “Mungkinkah Sam pulang, Lisa?” dengan wajah penuh harap.

“Entahlah, Dean, aku tidak tahu.”

“Kalau dia memang pulang, berarti dia memang terjebak dalam badai baru saja,” seketika wajahnya memucat kembali. “Mungkinkah mimpiku memang sebuah kenyataan? Kapal mereka karam dan dia terapung-apung di tengah lautan?” ketakutan semakin menyergap Dean.

“Shss, jangan berpikiran yang tidak-tidak Dean. Percayalah, Sam baik-baik saja, dan belum tentu dia dalam perjalanan pulang kemari. Mungkin saja ia seperti kita, berada di dalam kamarnya yang hangat terlindungi dari badai, bahkan mungkin di sana lebih hangat dari di sini. Sudahlah jangan berpikiran macam-macam. Sam baik-baik saja. Bukankah kita selalu berdoa untuknya.”

Dean hanya mengangguk. ‘Ya, berdoa untuk keselamatanya, dan kepulangannya.’

“Ya. Dan pasti Sam baik-baik saja. Sekarang tidurlah kembali,” seraya membimbing Dean kembali tidur.

Dean hanya menurutinya, dan kembali pada posisi tidurnya.

Dikecupnya kening suaminya. Cukup prihatin Lisa dengan suaminya yang hampir setiap malam seperti ini.

“Terima kasih, Lisa.” Dean cukup bersyukur mendapatkan Lisa sebagai istrinya yang sangat pengertian, dan menerima semua tentang dirinya.

Dean berusaha memejamkan matanya, namun tetap tidak bisa. Bayangan Sam terus memenuhi matanya. Sam…

*

“Dean!!” Sam setengah panik, dan mengantarkannya bangun dari tidurnya.

“Sam?” suara Gabriel menyambutnya dengan sedikit cemas. “Ada apa, sam. Kau bermimpi buruk?”

Butuh beberapa saat Sam untuk menyadari di mana dia dan apa yang sedang terjadi. Dia masih berada di atas sofa di mana tadi mereka duduk setelah ia muntah karena mabuk laut.

‘Badai!’

Tapi kapal tampak tenang.

“Badai sudah berhenti?” tanyanya terheran.

Gabriel mengangguk dengan tersenyum.

“Kita baik-baik saja? Kapal tidak mengalami kerusakan, kan? Kita tidak akan tenggelam, bukan?” dengan nada sedikit cemas.

“Tentu saja kita baik-baik saja. Kenapa? Kau bermimpi sesuatu yang buruk terjadi pada kapal ini?”

“Aku bermimpi aneh. Kapal mengalami kerusakan dan akan tenggelam. Kau dan aku terjatuh ke laut saat berebut naik ke atas sekoci. Dan saat kita berada di atas air, sebuah kapal datang hendak menolong kita. Dan kau tahu, siapa yang di atasnya?”

Gabriel menggeleng.

“Dean. Dean di atas sana meneriakkan namaku dan berusaha menolong kita. Tapi kita terbawa arus semakin jauh dan lepas dari mereka. Aku hanya bisa mendengar ia meneriakkan namaku. Aku pun berteriak memanggilnya. Aku menangis karena tidak bisa bertemu dengan Dean yang sudah berada di depan mata. Aku takut sekali Gabriel.”

Gabriel segera mengusap-usap punggung adiknya menenangkannya. “Tidak usah takut. Itu hanya mimpi. Dan kau akan segera bertemu dengan kakakmu lagi. Mungkin besok pagi kita akan tiba di Amerika,” meyakinkan Sam.

“Aku ingin segera bertemu dengannya, Gabriel.”

“Aku tahu. Kau pasti akan menemuinya.”

Sam hanya mengangguk.

“Yuk, kita keluar, melihat matahari terbit,” ajaknya pelan.

Walau sedikit malas, Sam memenuhi permintaan Gabriel, dan mereka keluar dari kamar.

‘Syukurlah Tuhan, hanya mimpi.’

**

Walau hanya mimpi seperti yang ia alami setiap malam,Dean yakin mimpi semalam sangat berbeda, dan ia tidak bisa tenang. Masih dengan perasaan tidak tenang, ia memaksakan pergi ke pelabuhan.

Dean geleng-geleng kepala melihat hasil yang dilakukan badai semalam. Potong-potongan kayu berserakan di sepanjang jalan yang becek, dan kapal-kapal kecil yang ditambatkan di pelabuhan terkoyak-koyak.

Ia berdiri di tepi pelabuhan dan memandang jauh ke depan, ke lepas pantai, memastikan sebuah kapal penumpang yang membawa Sam pulang akan datang dan merapat.

“Badai semalam sangat mengerikan, ya?”

Dean segera menoleh dengan suara yang sangat dikenalnya itu. Dan hanya mengangguk.

“Untung saja kita tidak jadi mengirimkan barang. Tentu tidak akan selamat sampai tujuan.”

Kembali Dean mengangguk, tanpa lepas matanya ke arat laut.

Castiel memperhatikan dengan terheran. Seakan sahabatnya ini sedang menunggu sesuatu.

“Hey, apa yang kau lihat?”

Dean tidak menyahut. Tanpa bersuara Dean beranjak dari berdirinya dan berjalan meninggalkan Castiel.

“Dean…?”

“Siapkan pengiriman barang. kita kirim siang ini,” tanpa menoleh, tak mempedulikan Castiel mengejarnya di belakang.

Saat siang hari, Dean kembali ke pelabuhan untuk mengawasi pengiriman barang, sekaligus memperhatikan kapal-kapal penumpang yang selamat dari badai merapat ke pelabuhan. Penuh harap akan ada sosok yang ia kenal turun dari sana. Sosok Sam. Waktu 12 tahun tidak akan dapat melupakan tubuh kecil Sam. Dean yakin masih akan dapat mengenali Sam.

Tapi tidak ada. Tidak ada sosok yang ia kenal turun dari kapal-kapal penumpang itu. Sam belum pulang. ‘Mungkin besok ia akan sampai’.

Entah mengapa, mimpi semalam membuatnya sangat yakin Sam akan pulang, menjauhi pikiran kapal yang ditumpanginya karam di tengah laut karena badai. Sam pasti pulang!

Keesokan harinya, Dean kembali ke pelabuhan, kembali memperhatikan kapal-kapal penumpang yang baru merapat. Namun sayang hanya sebentar, masih banyak yang harus ia lakukan di kantor sebelum ia kembali ke pelabuhan untuk pengiriman barang selanjutnya.

Tak berapa saat berselang,

“Kita sudah sampai, Sam!” suara Gabriel penuh kelegaan.

Sam mengangguk dengan tersenyum jauh melebihi kelegaan Gabriel. ‘Aku pulang, Dean.’ Dan segera turun dari kapal menyusul Gabriel.

TBC

So, still enjoying this ...? let me know what you are thinking

Tidak ada komentar:

Posting Komentar