Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 27

There, chapter 27 :)

Brother's Love

Chapter 27

Gabriel terbangun di pagi hari dan segera menemukan pemandangan yang indah namun mengusik hatinya di sofa. Sam tertidur lelap di kaki Dean. Dean pun masih tertidur lelap. Tangan Dean ada di kepala Sam menggenggam beberapa helai rambut Sam, sementara tangan yang lain ada di dada Sam dengan Sam menggenggam tangan tersebut erat seperti yang tidak ingin dilepaskan. Dean terlihat sangat nyaman dengan Sam di dekatnya dan sam tertidur dengan pulasnya. Sudah pasti mereka sangat nyaman seperti itu. Ada perasaan cemburu di sana. Gabriel harus menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya.

Dean membuka matanya, dan tersenyum lega menemukan Sam masih ada di sana, tertidur lelap di pangkuannya, berarti bukan mimpi. Perasaannya sangat damai, ia seperti melihat Sam kecil dulu meski tubuhnya kini besar dengan kaki yang panjang, jauh dari perkiraannya. Dean tidak menyangka Sam akan sebesar ini Dikecupnya kening Sam sebelum tersadar keberadaan Gabriel di sana yang melihatnya, dan mata merekapun saling beradu. Dean langsung merasa tidak enak, terlebih dengan wajah kikuk Gabriel

“Maaf, kuharap kau tidak keberatan, Gab.”

“Tentu, tentu saja tidak,” Gabriel harus tersenyum kikuk.

“Jangan takut, Gab, dia masih milikmu juga.”

Gabriel terpaku pucat. Saat ia ingin mencoba menjelaskan, Sam terlanjur terbangun.

“G…Gabriel?” mata kecil Sam terbuka perlahan-lahan.

“Bukan, ini aku,” sempat kecut juga Dean mendengar nama Gabriel yang pertama tersebut, bukan dirinya.

“Dean?” Sam memastikannya dengan membuka matanya lebih lebar.

“Ya,” disertai senyuman.

“Oh, maaf,” Sam menjadi tidak enak

Dean hanya tersenyum, “Tidak apa-apa.”

Sam segera menyadari posisinya yang masih berada di kaki Dean. Ia langsung bangun, “Maafkan aku,” dengan merah, terlebih Lisa pun melihat mereka. “Maaf, Lisa.”

Lisa justru tersenyum geli, “Tidak apa-apa, Sam, dia milikmu juga.”

Sam melirik Gabriel yang juga tersenyum menenangkan, terlebih Dean. Dean tersenyum kegelian dan maklum.

“Jangan takut, Sam, kita sama-sama menikmatinya, kan?” dengan mengacak-ngacak rambut Sam, membuat Sam semakin merah karena malu.

*

“Kau akan pergi bekerja?” tanya Sam hati-hati saat mereka sarapan.

Dean terdiam sesaat, “Kenapa?”

“Ah, tidak,” Sam menjadi ragu melanjutkannya.

“Kenapa, Sam?” Dean jadi penasaran.

Sam hanya menggeleng.

“Tidak, aku tidak akan kerja hari ini,” putus Dean.

Sahutan Dean membuat Sam terheran walau ada perasaan senang.

“Aku tidak akan bekerja, untuk berjaga-jaga mungkin saja kau akan pergi lagi,” tambahnya dengan tersenyum renyah.

Sam tersenyum malu, “Aku tidak akan pergi secepat itu, Dean. Kita baru saja bertemu.”

Dean tersenyum geli, “Iya, aku tahu. Tapi karena itu, aku tidak ingin pergi hari ini. Aku ingin hari ini penuh bersamamu.”

Senyum senang merekah di bibir Sam.

Maka Dean dan Sam tetap berada di rumah, menikmati dan memuaskan kerinduan mereka. Sam pun bermain dengan puasnya bersama keponakannya. Tidak terkira lagi wajah bahagia Sam. Sam dapat melupakan kenangan buruk di rumah ini.

Saat siang hari, tiba-tiba Sam mengajak untuk keluar rumah

“Bisakah kita pergi ke pelabuhan ke tempatmu bekerja?” tanyanya halus.

“Tentu, Sam. Apa yang kau cari di sana?” Dean dengan tersenyum

“Tidak ada, hanya ingin melihat tempatku bekerja dulu.”

Dean harus tersenyum, “Sam, kau hanya bekerja satu hari.”

“Yeah, satu hari, satu hari aku merasa bebas. Aku tidak pernah merasa bebas sebelumnya seperti yang kurasa di hari itu, Dean. Aku tidak akan bisa melupakannya.

Dean menggigit bibirnya, ‘Tentu saja, iapun masih mengingatnya. Takkan pernah terlupakan bagaimana wajah bahagia Sam di hari itu; tidak ada pukulan dan mendapatkan uang sendiri. Ia bahkan bisa membeli buku yang ia sukai dengan uang itu. Yah, hari yang paling bahagia untuk Sam, diantara hari-hari bersama ‘dia’.

“Dan aku juga ingin menemui Mr. Singer. Dia sudah sangat baik padaku,” Sam tersenyum penuh semangat.

Tapi hanya membuat Dean terdiam. ‘Sam belum mengetahuinya.’

Dean menarik nafas, “Sam… Mr Singer sudah berpulang dua tahun yang lalu.”

Dan Sam langsung terdiam pucat.

“Maafkan aku, Sam,” Dean menggenggam tangan Sam.

“Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya.”

“Tidak perlu, dia sudah mengetahuinya,” Dean memberikan senyuman hangat.

“Bisakah kita pergi ke makamnya?”

“Tentu, Sam, akan kuantar kau ke sana.”

Akhirnya Sam dapat tersenyu.

Bersama Dean dan Gabriel, Sam diantar ke makam Mr. Singer.

Sam berdiri di depan pusarnya dan mengucapkan sesuatu dalam hati. Gabriel harus tersenyum melihatnya. Rasa kagum bertambah, Sam tidak melupakan semua orang yang bersikap baik padanya, dan tetap menghormati mereka. ‘Kau memang istimewa, Sam’

Gabriel mengalihkan pandangannya ke pemakaman ini, dan tiba-tiba perasaan aneh menyergapnya. Ada sesuatu dengan nisan yang tepat di belakangnya, sesuatu dari masa lalu Sam. Ia menoleh dan melihat nama di pusaranya. Terbaca nama yang mengagetkannya; ‘John Winchester’. Mungkinkah ini ‘dia?’ mudah-mudahan bukan. Gabriel mencoba untuk mengabaikannya, tapi sebelum sempat ia beralih pandangan, Sam terlanjur melihatnya Ia menengok ke arah Dean yang sudah terdiam.

Tanpa berucapa, sam beralih pada ‘dia’ dan menemukan dimana ‘dia’ sekarang berbaring, dan membuatnya terpaku. John Winchester terbaring berdampingan dengan istri tercintanya, ‘Mary Winchester’, ibunya. Ibu yang tidak pernah ia kunjungi pusaranya, karena ‘dia’ tidak pernah mengizinkannya keluar.

Gabriel langsung mendekati Sam dan menggenggam tangannya. Ia tahu Sam belum siap untuk ini. Sam belum siap bertemu dengan ‘dia’ meski hanya pusaranya.

“ ’Dia’ di sini, Gab.”

“Iya, Sam. Kita bisa pergi kalau kau belum siap.”

Dean juga terlihat khawatir. Tapi Sam tidak juga beranjak dari depan pusara. Ia menangis perlahan.

“Sam…”

“Nggak, Gab, aku tidak apa-apa, Gab, hanya sedikit kaget,” Sam menarik nafas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya.

Dean tidak dapat berucap apa-apa. Ia tidak bermaksud membawa Sam ke depan ‘dia’, karena ia tahun Sam belum siap untuk menemuinya.

“Maafkan aku, Sam, seharusnya aku tidak membawamu kemari.”

“Tidak, tidak apa-apa, dean. Hanya sedikit aneh, bertemu lagi dengan ‘dia’, meski hanya namanya saja, dan ma.”

“Yeah, aku tahu.”

“Aneh sekali, Dean, aku merindukan ‘dia’, tapi aku juga takut untuk menemuinya. Juga aku begitu lega tak perlu lagi menemuinya. Tapi aku lega, aku bisa menemuinya sekarang. Dan aku tidak yakin ia mau menemuiku.”

Dean mengangguk.

“Dia menginginkannya, Sam. … Kau tahu, apa yang ia ucapkan sebelum ia pergi?”

Sam menggeleg lirih.

“Dia mengatakan: ‘Aku ingin melihat lelaki kecilku pulang.’ Dia ingin bertemu denganmu dan menciummu. Dia berharap satu ciuman selamat tinggal dapat menghapus semua kesalahannya padamu.”

Sam terkatup. Pikirannya berputar tidak mengerti.

“Apakah dia mengatakan dia mencintaiku?”

“Mungkin dia tidak mengucapkannya, tapi aku tahu dia mencintaimu-walau dia tidak tahu bagaimana menunjukkannya. Dia sangat bahagia melihat bagaimana miripnya kamu dengan mama, tapi dia tertutupi dengan rasa rindunya yang besar pada mama hingga melampiaskan kerinduannya dengan …,” Dean tidak perlu lagi melanjutkannya.

Sam mengangguk lirih, “Ya, aku mengerti.” Ia menarik nafas dalam-dalam. “Dan aku pun tidak pernah membencinya. Aku sangat menyayanginya.” Kemudian kembali pada dua pusara di hadapannya “Aku menyayangimu, pa,” tanpa sadar air mata sudah mengalir di pipinya.

Dean menepuk pundaknya, “Dia selalu tahu itu, Ci.”

Sam menarik nafas dalam-dalam, “Bisa kita pergi sekarang?”

Dean mengangguk. “Yeah, tentu saja,” dengan tersenyum ringan. “Oh, maukah bertemu dengan Nyonya Singer?” Dean mencoba mengalihkan percakapan.

Dan Sam tersenyum, “Ya, tentu saja.”

Dean hanya mengangguk dan menunjukkan jalan ke rumah Keluarga Singer.

Dalam perjalanan mereka menyempatkan ke rumah Kel. Sullivan yang dulu, yang kini sudah dijual dan berganti pemilik. Gabriel harus tersenyum, seperti dibawa kembali ke masa lalu saat tinggal di rumah itu.

Dan saat tiba di rumah Kel. Singer, Sam seperti bertemu sosok Ibu lainnya. Nyonya Singer sangatlah baik, dan terlihat sangat menyayangi Dean. Dia pun terkejut dengan kepulangan Sam. Ia tahu Dean sudah lama menunggu kepulangan Sam, dan ia dapat merasakan kebahagiaan yang dirasakan Dean, dan diapun merasakan hal yang sama. Dia hanya berharap, suaminya dapat menyaksikan ini semua, dan melihat Sam yang sekarang ini. Anak lelaki kecil yang malang sudah banyak menarik perhatiannya. Tapi mungkin suaminya melihat dari atas sana.

Mereka menghabiskan waktu di rumah Kel. Singer hingga petang hari, dan kembali ke rumah tepat saat Lisa menyiapkan makan malam.

Mereka makan malam seperti sebuah keluarga yang bahagia. Sudah tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Dengan lepas Sam dapat bercerita bahkan tertawa saat Gabriel mengeluarkan gurauannya. Semua terlihat indah. Dan Gabrial mengira akan ada kelanjutannya setelah makam malam usai, seperti ‘obrolan pria’, tapi Sam sudah terlihat kelelahan. Ya, tidak bisa dipungkiri, emosi Sam terkuras sehari ini, baik secara fisik maun mental. Sudah cukup Sam untuk hari ini.

“Mau tidur awal, Sam?” Gabriel menanyakan dengan hati-hati

Sam menggigit bibirnya, dan menengok ke atas, satu-satu ruang tidur yang tersisa. Rumah ini hanya memiliki dua kamar tidur; kamar dean dan Lisa, dan kamar tamu yang dahulunya adalah kamar dirinya bersama Dean. Terlihat rona pucat di wajah Sam, bayangan saat dulu ia tidur di sana muncul di matanya. Disadarinya ia bahkan belum naik ke atas sejak pertama kali mereka sampai di sini.

“Kau tak perlu tidur di atas, Sam,” lanjut Gabriel dengan menengok ke arah Dean.

“Ya, Sam, kau bisa tidur di sini, di sofa seperti semalam,” Dean mencoba mencairkan ketegangan.

Sam menelan ludah, dan tersenyum, “Tidak terima kasih, di atas juga tidak apa-apa,” ia tampak seperti melawan sesuatu dalam dirinya.

Justru Gabrile yang tampak lebih khawatir, “Sam…”

Tapi Sam meraih tangan Gabriel, “Antar aku ke atas, Gab.”

Gabriel hanyamengehla nafas dan mengangguk.

“Kami permisi,” ucap Sam sopan.

Dean dan Lisa hanya mengangguk. Dean melihat kedekatan Gabriel dengan Sam. Ada rasa cemburu di sana, tapi ia dapat dimakluminya, Gabriel-lah yang mendampingi Sam selama 12 tahun ini setelah Sam tinggal bersama keluarga itu. Rentang waktu 9 tahun yang dimiliki Dean, tidaklah sebanding dengan rentang waktu 12 yang dimiliki Gabriel terlebih di masa-masa pemulihan Sam. Gabriel sudah menjadi kakak hebat bagi Sam. Saat ini Gabriel-lah kakak Sam, dan Dean bisa memahami itu.

Gabriel mengantarkan Sam naik ke atas. Sam menaiki tangga kecil itu perlahan-lahan selangkah demi selangkah. Ia tidak melepaskan pegangan tangannya pada Gabrile, bahkan semakin erat saat mereka akan mencapai atas.

Dan Sam harus menahan nafas dan melawan semua perasaannya. Ia melawan aura yang terasa di ruangan ini. Aura kepedihan dan rasa sakit masih sangat terasa.

“Aku di sini, Sam” Gabrile siap di belakangnya, berjaga-jaga Sam pingsan

Tapi Sam bertahan.

Ia mendekati tempat tidurnya dan duduk si sana. Mungkin bukan tempat tidur yang sama, tapi auranya masih tetap sama.

“Aku dulu tidur di sini, Gab, setiap malam, dengan kesakitan,” suara sangat kecil.

“Aku tahu, Sam,” Gabriel mendekapnya.

“Meringkuk, mencoba untuk mengenyahkan rasa sakit di seluruh tubuhku. Mencoba untuk tidur, mencoba untuk tidak menangis.”

“Aku tahu, Sam,” Gabriel manahan nafas, dia tidak ingin mendengarnya. Tapi Sam tetap melanjutkan.

“Dulu sangat sulit melakukannya, tapi harus atau ‘dia’ akan memukulku lagi. Lalu Dean akan memelukku, membawaku ke tempat yang paling aman seduani,” dengan tersenyum perih

“Iya, aku tahu,” Gabriel mendekapnya erat. “Kau tak perlu tidur di sini, Sam,” dengan sedikit memaksa. Ia tidak ingin sam terluka kembali.

“Tidak apa-apa, Gab, aku baik-baik saja. Kau akan di sini, kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu aku akan baik-baik,” dan mencoba membaringkan tubuhnya di tempat tidur ini. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosi dan perasaannya..

“Temani aku, di sini, Gab, agar aku tidak bermimpi buruk.”

Gabriel mengangguk dan membaringkan tubuhnya di samping Sam dan menariknya dalam pelukan, membawa Sam ke tempat yang paling aman, seperti yang Dean lakukan dulu.

“Aku di sini, Sam, kau tidak akan bermimpi buruk,” dengan memeluknya erat. Ada perasaan lega di sana, Sam masih membutuhkannya. Sempat ada perasaan takut Sam akan melupakannya setelah bertemu Dean, menyadari Dean tetaplah kakak nomor satu untuk Sam. Tapi dengan ini, Gabriel merasa ia masih menjadi kakak yang dibutuhkan sam,dan Gabriel akan selalu siap untuk Sam. Dikecupnya kening Sam sebelum ia ikut tertidur.

TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 26

No harm.... ENJOY!!!!

Brother's Love

Bagian 26

Dean masih terpaku. Seperti sebuah perasaan aneh berhadapan dengan pemuda tanggi ini. Jantungnya berdebar kencang, tidak mempercayainya. ‘Tapi mungkinkah…?’

“Dean…?” dia memanggilnya pelan takut-takut.

‘Ya Tuhan, dia bersuara. Mungkinkah ini dia? Tapi wajah ini memang dia. Tidak mungkin ia melupakan wajah kecil itu. Wajahnya tidak berubah, meski tubuhnya sudah menjulang tinggi’

Air matanya mulai keluar dengan semakin yakinnya dirinya, begitu juga dia yang tak dapat lagi menahan air matanya.

“Sammy…?”

Serta merta dia menghambur ke pelukannya dengan isaknya. Dean menyambutnya dengan penuh perasaannya.

“Kamu pulang, Sam,” penuh erat Dean memeluk adik tercintanya ini, seperti yang tidak ingin dilepaskannya lagi.

“Ya, kak, aku pulang,” terisak-isak di pelukan kakaknya.

“Aku tahu kau pasti pulang, Sammy, aku tahu kau pasti pulang.”

Sam hanya mengangguk-angguk masih dengan penuh air mata.

“Dan kau berbicara sekarang,” dengan tertawa geli. “Kukira aku tidak akan mendengar suaramu lagi.”

Sam ikut tertawa di tengah isaknya. “Tidak ada lagi yang melarangku bersuara.”

“Ya, aku tahu, Sam,” kembali mempererat pelukannya, disertai kecupan gemas.

Gabriel dan Lisa ikut terharu melihatnya. Mereka akhirnya bertemu kembali setelah 12 tahun terpisah.

Lama mereka berpelukan, seperti yang tidak ingin dilepaskannya lagi. Hingga akhirnya salah satu dari mereka melepaskannya.

Dean memandangi dengan takjub, “Kau tinggi sekali sekarang. Mereka memberimu makan apa?” setengah tergelak.

Sam tertawa kecil. “Banyak!”

Kemudian Dean beralih pada pemuda di samping Sam.

“Gabriel?” Dean dengan ragu.

Gabriel tersenyum lebar, “Kita bertemu lagi, Dean.”

Serta merta Dean langsung memeluk Gabriel erat. Kemudian saling melepaskan pelukan.

“Aku kira aku tidak akan bertemu denganmu lagi,” Dean berucap.

“Aku juga,” Gabriel harus tersenyum lega.

“Terima kasih banyak,” ucap Dean tulus.

Gabriel mengangguk.

“Kapan kalian tiba?”

“Sehari yang lalu. Kapal kami tertahan badai. Tapi syukurlah kami dapat selamat tiba disini,” Sam menjawab.

Dean tercekat, ‘mimpi itu’. Berarti benar, mimpi itu sebuah pertanda. Dia tersenyum sendiri.

Dipandanginya dengan takjub adiknya ini. Tak percaya dia pulang. Sam pulang ke rumah!

“Baiklah, bagaimana kalau kita rayakan malam ini dengan makan malam yang istimewa?” Lisa memecah kecanggungan dengan ceria. “Aku sudah memasakkan makan malam yang istimewa.”

“Tentu! Kita rayakan malam ini,” sambut Dean penuh semangat. Dan Lisa pun segera mengeluarkan masakan makan malamnya yang istimewa

Mereka makan malam penuh dengan kehangatan. Bayangan seram atas kenangan buruk di rumah ini terlupakan oleh Sam. Dia selalu merasa aman dan nyaman bila berdekatan dengan Dean. Dean yang selalu melindunginya, dan melakukan apapun untuknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Lisa mengenal Dean, ia melihat wajah bahagia yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Jauh lebih bahagia saat mereka menikah dulu, bahkan saat Sammy kecil lagi. Wajah bahagia itu sangat berbeda. Bahagia yang terlepaskan setelah 12 tahun dipendamnya. Lisa tersenyum dengan bahagianya.

Selepas makan malam, mereka berbincang-bincang. Tentu banyak yang ingin mereka bicarakan setelah 12 tahun tidak bertemu, semua yang tidak tertulis dalam surat mereka. Gabriel dan Lisa ikut bergabung, dan mereka menjadi sebuah keluarga. Keakraban dan kehangatan tercipta dengan sendirinya, membuat Sam sangat nyaman. Ia telah merasakan pulang kembali ke rumah. Kembali pada Dean.

“Ada sesuatu untukmu, Dean.”

Dean tercenung, dan tersenyum penasaran.

Sam sempat tersenyum pada Gabriel, sebelum mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya, dan menyodorkannya pada Dean.

“Apa ini?” Dean menerimanya dengan tersenyum.

“Bukumu.”

Dean terkatup, terlebih dengan judul buku di sampul depannya, ‘Dean, Kakakku’ dengan nama pengarang ‘Sam Winchester’ bukan ‘Sam Sullivan’ seperti yang selalu ia bubuhkan di setiap bukunya.

“Mudah-mudahan kau tidak keberatan aku menulis semua tentangmu di buku itu. Buku itu juga yang menjadi obat rindu jika aku ingin bertemu denganmu. Aku menceritakan semua tentangmu, merasakan kehadiranmu dan melihat kau di sana. Buku itu juga menjadi barang berharga untukku. Aku tidak akan pernah berniat mempublikasikan. Aku simpan hanya untukku dan kuberikan untukmu.”

“Sammy…” Dean benar-benar tak dapat berucap, dan membuka lembaran-lembaran pertama buku tersebut. Semua bertuliskan tentang dirinya.

“Semua yang ingin kuucapkan saat itu, tertulis di sana.

“Mudah-mudahan kau tidak keberatan, dan mau menerimanya.”

Dean hanya bisa tersenyum haru, dan langsung memeluk Sam dengan erat.

“Terima kasih, tentu akan kuterima buku ini dan akan baca juga kusimpan baik-baik,” setelah melepaskan pelukannya. Dilihatnya kembali buku tersebut, dan terlihat semua apa yang ada di kepala dan di hati Sam.

“Aku pun ada buku untukmu. Mungkin kau sudah melupakannya, tapi aku masih menyimpannya Tertinggal saat kau pergi, dan aku menyimpannya untukmu.” Dikeluarkannya buku dari balik jasnya dan disodorkannya pada Sam.

Sam hampir tak percaya melihatnya, “Buku ini?” dengan melihat judul sampulnya. ‘Oliver Twist’. “Gabriel?”

Gabriel pun tersenyum takjub.

“Maaf, keadaannya sudah tidak sebagus dulu. Tapi ia aman bersamaku.”

Sam masih tersenyum takjub pada Gabriel dengan keharuan.

“Terimakasih telah menyimpannya, Dean, aku mengira aku telah kehilangannya.”

“Dean tidak pernah meninggalkannya Sam, dia selalu membawanya kemana pun ia pergi, bahkan hanya buku itu yang ia bacakan setiap malam untuk Sam,” Lisa ikut menyela untuk suaminya.

Sam semakin takjub mendengarnya. “Terimakasih, Dean.”

Dean hanya tersenyum.

Mereka kembali dalam perbincangan hangat.

Hingga Lisa menarik diri masuk ke kamar untuk menemani Sammy tidur, dan Gabriel yang terlebih dahulu naik ke ke kamar, meninggalkan kakak beradik ini untuk lebih berleluasa melepas kerinduan mereka.

“Kenapa kau tinggalkan aku, Dean? Kenapa kau tinggalkan aku bersama keluarga itu?”

“Karena aku menginginkan kehidupan yang lebih baik untukmu”

“Tapi kenapa kau tidak ikut serta?”

“Karena aku tidak ingin menambah beban mereka. Mereka terlalu baik, aku tidak bisa menerima kebaikan lainnya. Tapi aku tahu mereka mereknya menolongmu. Kamulah yang terpenting untukku. Karena itu aku harus melepasmu.”

“Tapi tidakkah kau tahu, beratnya hidupku tanpa dirimu. Kau meninggalkan aku dengan keluarga yang tidak kukenal sama sekali.”

“Tapi mereka menyayangimu, Sam.”

“Tapi rasa saying yang kutahu hanyalah darimu. Meski mereka begitu menyanyangiku, dan merawatku seperti putra mereka sendiri, aku masih membutuhkanmu. Karena itu sakit sekali saat kau meninggalkanku.”

“Maafkan aku, Sam, aku hanya berpikir yang terbaik untukmu, bersama mereka.”

Sam terdiam, mencerna semua ucapan Dean.

“Lalu kenapa kau memutuskan hubungan kita? Kau tidak pernah lagi menjawab surat-suratku.”

“Karena aku tidak ingin menganggumu. Kehidupanmu sudah sangat baik. Kau sudah menjadi pemuda terpelajar, anggota keluarga terpandang, dan menjadi seorang penulis terkenal. Aku tidak perlu mengganggumu lagi. Dan aku tidak keberatan jika kau tidak lagi mengingatku.”

“Bodoh! Bodoh sekali kau berpikiran seperti itu. Tidakkah kau tahu aku sangat sedih kau tak pernah lagi menjawab surat-suratku. Kukira kau sudah tidak ingat padaku, kau ingin melupakanku, dan tidak mengharapkan kepulanganku.

“Dan aku sangat tersiksa dengan pikiran itu. Karena itu aku memaksa untuk pulang, untuk bertemu denganmu.”

Dean tersenyum kecil, “Maafkan aku. Saat itu aku hanya tidak ingin menganggu kehidupanmu yang sudah jauh dari jangkauanku.”

“Dean,” dengan menggenggam tangan kakaknya, “Aku masih adikmu. Aku masih membutuhkan kasih sayangmu,” matanya memandang lekat mata Dean.

Dean mengangguk mengerti. Digenggamnya erat tangan Sam yang sudah tidak tertutupi sarung tangan kulit hitamnya, dan merasakan tangan tersebut tidak terasa halus dan mulus.

Dibukanya telapak tangan Sam, dan terlihat bekas luka-luka itu. Ia beralih pada kedua pergelangan tangan Sam, juga terlihat jelas parutan luka-luka itu. Dean perih melihatnya.

“Tidak akan bisa hilang, Dean. Ini akan selalu ada. Juga luka-luka yang ada di seluruh tubuhku ini, tidak akan pernah hilang.”

Semakin perih Dean mendengarnya.

“Aku menerimanya,” Sam penuh kelapangan.

Dean terheran, “Tidakkah kau membencinya?”

“Benci? Entahlah. Aku tidak merasakannya. Aku meyakini aku berhak menerimanya. Aku pantas mendapatkannya.”

“Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”

“Karena aku telah menyebabkan mama meninggal. Karena itu ‘dia’ menyalahkanku.”

“Bukan Sam, mama meninggal bukan karenamu.”

“Tapi ‘dia’ terus mengatakannya. ‘Dia’ begitu membenciku.”

“Itu karena kamu sangat mirip dengan mama, dan dia tidak bisa menerimanya. Bayangan mama selalu ada di wajahmu. Dia sangat merindukan mama tapi salah melampiaskan kerinduannya. Kamu tidak berhak diperlakukan seperti itu, Sam, kau tidak salah apa-apa. ‘Dia’ hanya tidak bisa menerima kenyataan kehilangan mama. Hanya itu. Dan aku sangat membencinya.

“Aku benci karena tidak bisa menghalangi perlakuannya padamu, tidak bisa melindungimu, dan karena dia tidak mau berubah kembali seperti papa yang dulu.”

“Itukah alasanmu kenapa kau tidak memberitahuku saat ‘dia’ meninggal?”

Dean harus mengangguk, “Aku hanya tidak ingin kau teringat lagi padanya. Kau barus aja memulai hidup barumu bersama keluarga itu, dan aku tidak ingin kau terluka lagi. Aku lega saat ia akhirnya mati.”

“Apa yang terjadi dengannya?”

“Alkohol, Sam. Pa terlalu banyak minum, dan itu membunuhnya.”

Sam menggigit bibirnya.

“Maafkan aku, Sammy,” Dean tak dapat menahan air matanya, mengingat kembali semua itu. “Aku tidak bisa mencegah apa yang dilakukannya padamu. Aku tidak terlalu kuat untuk mencegahnya.”

“Tidak. Kau sudah berbuat semampumu, Dean, dan aku sudah merasa sangat nyaman bila berada di pelukanmu. Semua sakit itu terobati saat kau ada di sisiku, dan memelukku. Kau sudah mengurangi sakit itu, Dean.”

“Sammy…,” ditariknya adiknya ke pelukannya, dan dipeluknya sangat erat. “Aku selalu berharap dapat mengurangi rasa sakitmu, dan aku selalu berharap ‘dia’ beralih melampiaskannya padaku dan melupakanmu.”

“ ‘Dia’ tidak pernah membencimu.”

“Aku berharap dia membenciku,” semakin mempererat pelukannya. “Dan aku berharap… aku tidak pernah melepaskanmu. Rindu yang selama ini kupendam terlalu berat, Sam. Aku sangat merindukanmu.”

Sam tidak perlu lagi menjawabnya. Ia hanya mempererat pelukannya, dan merasakan kembali nyamannya berada di pelukan Dean yang selalu melindunginya. Sampai ia tertidur di sana.

Dean membiarkan Sam tertidur di pelukannya. Ia pun menikmati benar bagaimana ia merasa tenang dapat memeluk dan melindungi Sam lagi. Adik satu-satunya yang sangat ia sayangi kini telah kembali.

*

Gabriel membuka matanya. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak dapat tidur, mendengar semua percakapan kakak beradik itu. Ia tidak meragukan Dean seirang kakak yang hebat, tapi mendengar sendiri apa yang telah Dean lakukan untuk Sam, sangatlah di luar bayangannya. Dean tidak pernah memntingkanya dirinya. Yang Dean pikirkan hanyalah adiknya. Dean sangat mencintai adiknya melebihi apapun, dan wajar jika Sam begitu menyayangi Dean. Ikatan persaudaraan mereka melebihi apapun. Gabriel merasa sungguh bersyukur dapat bertemu dengan dua sosok kakak beradik yang begitu hebatnya. Gabriel salut dengan mereka. Dengan menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk tidur.

TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 25

Well, ENJOY!!!!

Brother's Love

Bagian 25

Lisa terpaku seketika hingga menjatuhkan barang bawaannya.

“Hey,” salah satu dari mereka refleks menolongnya. “Maafkan saya,” seraya memunguti barang-barang yang tercecer dibantu dengan temannya.

Tapi Lisa tidak peduli. Dia masih memastikan pendengarannya. Pemuda tinggi ini mengaku bernama Sam? Di hadapannya?

“K..kau Sam?” Lisa hampir tergagap.

“Ya…”

Air mata langsung membasahi pipi Lisa, dan tak dapat menahannya lagi, langsung memeluknya dengan sangat erat.

“Benarkah ini kau, Sam? Kau benar-benar pulang, Sam?” semakin erat pelukannya seperti yang melepaskan kerinduan.

Sam hampir tak percaya dengan sambutan ini. Seseorang menunggunya pulang. Seseorang yang tidak ia kenal. ‘Siapakah wanita ini?’

Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan memperlihatkan air matanya. Air mata kelegaan.

“Dean sudah menunggumu, Sam. Dean sudah bermimpi kau akan pulang. Dia tahu kau akan pulang.”

“Dean?” Sam terpaku tak percaya.

“Ya. Dia selalu memimpikanmu. Tiada malam tanpa memimpikanmu. Dia terlalu merindukanmu, Sam. Dia sangat merindukanmu!”

Hampir menangis Sam mendengarnya. ‘Dean merindukanku?’

“Hai, Ny. Winchester,” dua orang gadis cilik yang melewatinya menyapanya.

“Oh, hi, Claudia, Suzie,” dia menyambutnya dengan tersenyum hangat.

“Hi, Sam.”

Sam terkaget. Tapi sapaan itu bukan ditujukan padanya, melainkan pada bayi kecil itu, dan mereka menggodanya sebentar sampai bayi mungil itu tertawa riang.

“Sampai nanti, Ny. Winchester, daah Sam,” pamit mereka sebelum berlalu.

“Sampai nanti, Claudia, Suzie.”

Sam masih terkaget. ‘Ny. Winchester. Sam?’ Tapi wanita ini masih tersenyum padanya. ‘Mungkinkah..?’

“Aku istri kakakmu. Namaku Melissa. Kau boleh memanggilku Lisa. Aku kakak iparmu,” seraya meraih tangan Sam dengan hangat. “Dan ini Sam, keponakanmu.”

“Kakak ipar? keponakan” takjub Sam mendengarnya, terlebih dengan bayi yang bernama sama dengannya. “Dia bernama sama denganku?” dengan memandangi bayi kecil lucu itu.

“Ya. Kakakmu sengaja menamakannya sama denganmu agar dia selalu teringat padamu. Dan dia memang menurunkan wajahmu. Kalian berdua mirip sekali,” dengan tersenyum.

Sam hampir tertawa mendengarnya, dan tersanjung.

“Mungkin kita belum pernah saling bertemu sebelumnya. Tapi kerinduan dan kecintaan kakakmu yang besar membuatku dapat merasakan juga rindu dan cinta itu. Aku seperti sudah mencintaimu.”

“Terima kasih,” Sam tersenyum haru.

Lisa tersenyum dengan menarik nafas penuh kelegaan, “Senang bisa bertemu denganmu Sam, dan ….?” beralih pada pria di samping Sam,

Sam segera tersadar, “Oh, maaf, ini Gabriel, Gabriel Sullivan, kakak angkat saya.”

Semakin sumringah wajah Lisa dapat bertemu langsung dengan seorang Sullivan, yang sudah menyelamatkan Sam. Mereka berjabat tangan.

“Senang, akhirnya bertemu dengan Anda Tn. Sullivan. ”

Gabrielle tersenyum, “Saya juga, Nyonya.”

Lisa tersenyum senang. Ia kembali pada Sam.

“Dean pasti sangat senang kau pulang, Sam. Karena itu yang ia tunggu selama ini.”

Sam tersenyum mengangguk.

“Ayo masuk ke dalam. Kita seperti orang aneh berada di depan pintu,” Lisa tertawa geli sendiri.

Gabriel segera membantu membawakan barang-barang yang tercecer tadi. Sementara Sam masih belum dapat menutupi keraguan dan ketakutannya untuk masuk ke dalam, sampai Lisa mendorongnya masuk, “Masuklah, Sam, ini rumahmu juga, bukan.”

Tetap tidak membuat Sam nyaman, terlebih saat ia sudah berada di dalam.

Sam berdiri terpatung melayangkan pandangannya ke sudut-sudut rumah yang tidak terlalu besar ini. Masih belum berubah sejauh ingatannya. Masih terdiri tiga ruangan. Ruang tengah, dimana ia sering terkapar di lantai setelah pemukulan ayahnya; satu kamar tidur yang dulunya menjadi kamar ‘dia’; dan dapur di belakang, plus satu tangga untuk naik ke atas, juga lemari kecil di bawah tangga. Hanya sudah ada perbaikan dan juga berisi perabotan rumah tangga yang jauh lebih layak dbanding dahulu. Rumah ini tidak sekusam dan sekotor dulu lagi.

Sam masih berdiri di tempatnya, dengan memandangi lemari kecil yang masih berada di sana.

Hingga tiba-tiba di depannya seorang anak kecil tertelungkup tak berdaya di lantai dengan luka dan memar di pantat dan kakinya. Seseorang mengangkat tubuh kecilnya dengan kasar dan memasukkannya ke dalam lemari di bawah tangga itu dan menguncinya, lalu pergi dan segera kembali dengan membawa sekantung besar berisi tikus-tikus besar itu. Dimasukkannya semua binatang liar itu ke dalam lemari dan menutupnya kembali. Terdengar langsung rontaan berontak dari dalam sana. Lelaki besar itu hanya tertawa kesenangan.

Sam mendekati lemari itu dan perlahan mencoba membukanya. Tidak terkunci. Terlihat di dalamnya, anak kecil yang terluka itu dengan wajah panik ketakutan berusaha melawan serangan gigitan binatang ganas itu dan melindungi tubuhnya dari gigitan mereka. Dia sangat takut pada mereka. Kalau ia bisa berteriak, dia akan berteriak sekeras-kerasnya. Tapi ia tidak pernah lagi berani mengeluarkan suaranya.

Sam memejamkan mata erat-erat, tidak ingin mengingatnya lagi.

“Sam, kau tidak apa-apa?” teguran halus Gabriel dan tepukan pelan di pundak, menyadarkan Sam, dan sekali lagi menghilangkan pemandangan itu dari matanya.

“Ya, aku tidak apa-apa,” dan menerima ajakan Gabriel untuk duduk.

Lisa melihat kepucatan di wajah Sam. ‘Lemari itu menjadi mimpi buruk untuknya.’ Ia dapat merasakannya. Dia segera ke belakang untuk mengambilkan minuman.

Sam masih terlihat memperhatikan sudut-sudut rumah ini dengan tidak nyaman, saat Lisa kembali dengan membawa minuman. Rumah ini menjadi sesuatu yang menakutkan baginya.

“Aku tahu rumah ini terlalu banyak kenangan buruk untukmu, Sam. Tapi Dean tidak ingin menjualnya, bahkan setelah ayahmu meninggal.”

Sam terkatup teringat, “Dean tidak pernah memberitahu meninggalnya ‘dia’.”

Ucapan Sam cukup mengagetkan Lisa, “Benarkah? Dean tidak pernah memberitahumu?”

Sam menggeleng lirih.

“Mungkin dia tidak ingin kau mengingat kembali padanya. Dia takut bila harus menyakiti kamu lagi dengan mengingat orang itu. Dia hanya ingin melindungi perasaanmu, Sam.”

“Ya, saya tahu.”

Lisa tersenyum tipis, “Dean memaksa untuk tetap tinggal di sini, agar selalu dapat melihat kamu. Dia melihat wajahmu di setiap sudut rumah ini. Dia tidak ingin meninggalkanmu. Cukup sekali dia meninggalkanmu dulu.”

Sam hanya tersenyum. Perasaan haru kembali menyergap, ‘Dean masih menyayangiku.’

“Di mana Dean?” baru kali ini Sam menanyakannya.

“Oh, dia mungkin masih berada di pabrik. Tunggulah sebentar, dia akan segera kembali. Sementara aku membuat makan malam yang istimewa, kau mungkin bisa bermain dengan Sam.”

“Tentu,” dengan melihat Sam kecil sudah berada di kotak bermainnya.

Dihampirinya bayi kecil itu dan digendongnya. Dia tersenyum padanya! Perasaan Sam menjadi campur aduk. ‘Keponakanku.’

Gabriel ikut di samping Sam. Digenggamnya tangan Sam dan dibalas dengan sangat erat. Gabriel tahu apa yang dirasakan Sam.

“Kamu berhasil, Sam.”

Sam hanya mengangguk penuh kelegaan.

*

Dean masih memandangi lautan di depan sana. Hari mulai petang, ia pun ragu dengan keyakinannya. Bodohnya meyakini Sam pulang. Mungkin dia sudah melupakannya. Lupa dengan kampung halamannya, dan melupakan kenangan buruknya di sini. Sam tidak mungkin pulang.

Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum ia beranjak meninggalkan pelabuhan.

‘Kapanpun kau ingin pulang, Sam, aku akan selalu menunggumu. Di sini.’

Dengan langkah santai Dean berjalan pulang, membayangkan wajah Sam kecil yang akan menyambutnya dengan wajah cerianya, bukan wajah kesakitan Sam di dalam lemari.

*

“Sebentar lagi Dean pasti pulang,” ucap Lisa pasti. “Hey, kau sudah tidur rupanya,” alihnya dengan tersenyum pada Sam kecil yang tertidur pulas di pangkuan pamannya. “Mari sini, biar kupindahkan ke kamarnya,” seraya memintanya dari Sam.

“Dia menyukaiku,” Sam penuh kebanggaan.

“Tentu. Dia tahu siapa pamannya,” Lisa tersenyum menggoda membawa Sam kecil ke kamar membuat Sam semakin bangga.

“Aku pulang!” seruan hangat dari arah pintu bersamaan dengan sosok pria masuk ke dalam.

Jantung Sam serasa berhenti melihatnya, begitu juga dengan pria itu yang terpaku melihatnya. Tentu dia terpaku dengan kehadiran dua pria tak dikenal di rumahnya.

Tapi pandangan pria itu hanya terpaku pada Sam, tidak pada Gabriel.

“Dean?” Lisa memastikan kepulangan suaminya, dan melihat suaminya sudah berhadapan terpaku dengan Sam.

TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 24

So you not on cliffhanger too long ... ENJOY!!!

Brother's Love

Bagian 24

Semakin berdetak kencang, saat ia membuka pintu toko itu dan langsung membawa Sam ke pada saat itu.

‘Ini toko buku di mana aku mendapatkan buku cerita dengan cuma-cuma. Pemiliknya yang memberikan buku itu padaku. Dia menyukaiku.’

Ia masih ingat judul bukunya, ‘Oliver Twist’, dan segera mencari buku tersebut. Mungkin ia masih menjualnya.

Tidak ada. Buku itu sudah tidak lagi dijual. Ada perasaan sesal di hati. Ia tak sempat membacanya hingga selesai. ‘Di manakah buku itu sekarang? Aku kehilangannya setelah ‘dia’ membuatku tak sadarkan diri dengan pukulannya. Terakhir kalinya dia memukulku.’ Merinding Sam mengingatnya.

“Aku dan Dean pernah datang kemari. Aku tertarik dengan buku yang dipajang di etalase itu. Aku menginginkannya.”

“Dan kau berhasil memilikinya?”

Sam mengangguk tersenyum, “Pemilik toko ini sendiri yang memberikannya padaku secara cuma-cuma,” kemudian melayangkan pandangannya pada seseorang di balik meja kasir.

“Dia yang memberikannya,” ucapnya yakin dengan sosok wanita tua yang berdiri di belakang meja yang sedang melayani pelanggan dengan ramah. Sam tidak mungkin melupakan wajah wanita baik itu. ‘Siapa namanya? T…Tuck? Ya! Ny. Tuck!’ Dia ingat Dean memanggilnya Ny. Tuck.

“Di mana buku itu sekarang?”

“Entahlah. Hilang.”

Gabriel tak menyahut lagi.

Dengan berdebar, Sam menghampiri wanita itu setelah ia melayani pelanggannya.

“Selamat siang,” Sam menyapanya dengan sopan.

“Selamat siang, Anak Muda, ada yang bisa saya bantu?”

Suara ini tidak mungkin Sam lupa. Semua yang bersikap baik dan hangat padanya tidak akan terlupakan olehnya.

“Saya mencari buku Sam Sullivan yang terbaru, apakah sudah ada?”

Ny. Tuck menyambutnya dengan senyuman, “Kebetulan, baru saja datang lagi. Kami selalu kehabisan,” seraya mengambil salah satu buku di antara tumpukan buku baru, dan menyerahkannya. “Ini buku bagus, semua orang menyukainya. Ceritanya sangat menyentuh,” dengan sedikit menerangkan.

Sam hanya tersenyum. ‘Tentu, itu semua cerita tentang diriku sendiri.’

“Saya ambil satu.”

Ny. Tuck mengangguk, dan menghitungnya di mesin kasir.

Sam segera membayarnya.

Sesaat Ny. Tuck memperhatikannya, “Maaf, apa Anda pendatang? Saya belum pernah melihat Anda, tapi wajah Anda sepertinya tidak asing.”

Jantung Sam semakin tidak karuan. “Ya, saya memang baru datang kemarin.”

“Untuk urusan bisnis?”

“Bukan. Untuk pulang dan mencari saudara lama.”

Ny. Tuck tertegun, “Mencari?”

“Ya, kakak saya. Kami sudah berpisah lebih dari 10 tahun, dan sekarang saya sedang mencarinya.”

“Siapa nama kakakmu, mungkin saya bisa membantu?”

Sam tersenyum, “Mudah-mudahan Anda masih mengingatnya, Nyonya. Winchester, Dean Winchester.”

Seketika itu juga Ny. Tuck terpaku, dan lebih lekat memandang Sam, seperti yang memastikan dengan tidak percaya.

“Kau…?”

Sam mengangguk dengan tersenyum, “Ya, Nyonya, saya Sam.”

“Ya Tuhan, Sam!” mata Ny. Tuck mulai berkaca-kaca. “Kau sudah kembali, nak? Aku sangat terkejut saat mendengar kau pergi bersama keluarga itu. Dan kau pun kini sudah dapat berbicara,” setengah takjub.

Sam langsung tersipu merah. Dia masih mengingatnya.

“Maaf,” Ny. Tuck menjadi salah tingkah. “Terakhir aku melihatmu, kau masih belum mau bicara.”

Sam hanya tersenyum dengan mengangguk.

“Keluarga itu merawatmu dengan baik, bukan?” dengan tersenyum memandang Sam kagum.

“Ya, sangat baik, Nyonya,” penuh rasa syukur di hati. “Dan ini, kakak angkat saya, Gabriel Sullivan,” Sam tidak lupa mengenalkan Gabriel, sosok yang juga berjasa untuknya.

Gabriel menjabat tangan Ny. Tuck dengan hangat.

“Dan lihatlah kau kini, sudah menjadi pemuda tampan yang gagah.”

Sam hanya bisa tersenyum.

“Dan sekarang kau telah kembali. Dean tentu senang melihatmu pulang kembali.”

“Mudah-mudahan, nyonya. Karena itu saya ingin memastikan apakah dia masih tinggal di sini?”

“Tentu dia masih tinggal di sini. Belumkah kau mencoba pergi ke rumahmu dulu? Dia masih menempati rumah ayahmu.”

Seketika itu juga jantung Sam terasa berhenti berdetak. ‘Dean masih di sana? Masih bersama ‘dia?’

“Belum, saya belum pergi ke sana. Berlalunya waktu, sedikit membuat saya lupa jalan menuju rumah,” Sam berusaha menutupi kegugupannya.

Ny. Tuck memberinya senyuman, “Wajar, sudah 12 tahun berlalu, dan saat itu kau masih sangat kecil, bukan?”

“Ya, Nyonya.”

Ny. Tuck kembali tersenyum.

“Dia masih di sini, menempati rumah kalian. Mungkin satu-satunya peninggalan John yang tersisa. Tentu kau tahu ketika ayahmu meninggal, bukan?”

Sam terpaku mendengarnya ‘Dia’ sudah meninggal?’ jantungnya benar-benar berhenti. Diliriknya Gabriel yang sama-sama terpakunya.

Ny. Tuck, menangkap keterpakuan dan kepucatan Sam, “Kau tidak tahu?”

Sam menggeleng lirih, “Dean tidak pernah memberitahukannya.”

Membuat Ny. Tuck terkatup. “Oh,” menunjukkan penyesalannya. “Sudah lama, hanya berselang beberapa tahun setelah kau pergi, nak.”

Sam masih terkatup. ‘Dean tidak memberitahukanku!’

“Kasihan dia. Ayahmu hanya kesepian sejak ditinggal ibumu.”

Sam semakin terkatup, ‘Dan ‘dia’ menyalahkanku atas kepergian mama.’

“Mungkin kini dia sudah berbahagia bersama ibumu kembali.”

“Ya.”

Sam menarik nafas dalam-dalam. “Nyonya, terima kasih banyak. Mungkin saya akan segera menemui Dean.”

“Ya, temuilah dia, nak. Dia pasti sudah sangat merindukanmu.”

“Ya.”

Diliriknya Gabriel sesaat, kemudian kembali lagi pada Ny. Tuck. “Baiklah kami permisi. Sekali lagi terimakasih banyak, Nyonya.”

Ny. Tuck mengangguk, dan melihat dua pemuda itu beranjak menuju pintu.

“Sam,”

Panggilan Ny. Tuck membuatnya ia kembali menoleh, “Ya, Nyonya?”

“Senang melihatmu kembali, nak,” dengan tersenyum hangat.

“Terima kasih, Nyonya. Saya juga senang bisa kembali pulang ,” disertai senyumnya.

Di luar toko,

“ ‘Dia’ sudah meninggal, Gabriel,” dengan nanar.

“Tidakkah itu membuatmu lega? Kau tidak perlu lagi bertemu dengannya.”

Sam terdiam, dan sulit untuk menjawabnya.

“Kita ke sana sekarang,” ajaknya langsung.

“Bukankah kamu juga harus menanyakan di mana rumahmu itu?” Gabriel seakan mengingatkan apa yang terlupakan Sam. “Kamu lupa di mana letaknya, kan?”

Tapi Sam tersenyum, “Tidak lagi. Mungkin aku tidak terlalu ingat, tapi samar-samar aku bisa mengingatnya dengan menyelusuri jalan yang selalu kulewati bersama Dean bila sepulang kerja. Itu juga kalau jalannya masih belum berubah.”

“Mudah-mudahan.”

Semakin Sam menyelusuri jalan yang diingatnya menuju rumahnya dulu, semakin yakin ia akan segera menemukan rumahnya.

Hingga akhirnya ia sampai di seberang sebuah rumah kecil yang langsung membawanya pada 12 tahun yang lalu. Rumahnya dulu.

Sam segera turun dan sesaat hanya berdiri memandangi rumahnya.

Tiba-tiba seorang anak kecil keluar dari sana dengan berusaha berlari. Sam memperhatikannya dari tempat ia berdiri.

Tak lama kemudian anak itu kembali, dengan terengah-engah dan terlihat pincang membawa beberapa botol minuman besar. Ia terlihat ragu untuk masuk ke dalam. Ada wajah ketakutan yang besar di sana. Namun akhirnya ia masuk ke dalam.

Sam mengikutinya dan mencoba melihatnya dari balik kaca yang kusam

Dilihatnya anak itu menunduk ketakutan di hadapan pria besar yang kumal,

“Kenapa cuma tiga botol? Bukankah kusuruh empat botol?”

Anak kecil itu hanya diam tak menjawab.

Tiba-tiba pria itu menjambak rambut anak itu, “Jawab! Kamu ke manakan satu lagi, hah!?”

Anak itu tetap tak menjawab dengan wajah tertahan menahan sakit.

Dua kali pukulan tiba-tiba mendarat dengan keras di pipi anak itu, membuat Sam tersentak .

“Ke tembok! Lepas celana!” seraya mengambil sebuah ganggang sapu.

Anak itu segera ke tembok dan membuka celananya, dan segera menerima hukumannya. Dia tidak berteriak kesakitan dan tidak menangis.

Sam tak kuat melihatnya lagi. Kakinya lemas, dadanya sesak tak dapat bernafas.

“Sam..?” suara Gabriel yang halus bernada cemas masuk ke telinganya, dan langsung menghilangkan pemandangan mengerikan di balik kaca itu.

“Aku tak sengaja memecahkan satu botolnya. Tanganku tidak kuat membawa empat botol bir besar itu. Satu terlepas, dan pecah. Seharusnya aku lebih kuat memegangnya!” penuh sesal.

“Shss… sudah Sam, itu sudah berlalu, jangan diingat lagi. Dia sudah tidak ada.”

Sam masih terpaku dengan pemandangan tadi. Pemandangan dirinya dulu.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Keduanya dikagetkan dengan teguran halus dari samping mereka. Seorang wanita cantik dengan membawa barang belanjaan, bersama seorang bayi berusia beberapa bulan.

Sam segera tersadar, “Oh, ya, apakah benar ini rumah Tn. Winchester?”

“Ya, benar.”

Tidak terlalu kaget Sam mengetahui keyakinannya akan rumah ini sebagai rumahnya dulu.

“Maaf, Anda siapa, ya?”

“Saya…,” ragu Sam melirik Gabriel sesaat, tapi Gabriel mengangguk yakin. “Saya, Sam, adiknya.”

Bruk!

TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 23

There you go.... ENJOY!!!!

Brother's Love

Chapter 23

Pertama kali Sam menginjakkan kakinya di pelabuhan, ia hampir tidak mempercayainya. Matanya berbinar. Dipandanginya, orang-orang berlalu lalang di sekitarnya, juga teriakan mereka. Suasana sama seperti di Inggris. Tapi ini di Amerika. Dia sudah samapi di Amerika! Sam tersenyum sendiri.

‘AKU MENUNGGUMU DI SINI, SAAMM!!!!’ masih teringat jelas pekikan terakhir Dean saat mengantarnya pergi.

Mata Sam berkeliling, mengingat di mana persisnya Dean berdiri saat itu. ‘Ya, Tuhan, sudah 12 tahun’.

“Di situ!” Sam menunjuk sebuah titik di tepi pelabuhan yang berhadapan persis dengan sebuah kapal yang siap untuk diberangkatkan.

Sam menujunya, dan berdiri di sana.

“Di sini, Gab. Di sini dulu dia berdiri, melambaikan tangannya, membiarkan aku pergi bersama kalian. Iya di sini!” Sam penuh semangat keyakinan dan berbinar.

Gabriel mengangguk dengan tersenyum, ia pun masih ingat. Saat itu ia hanya bisa melihat dari balkon dengan perih dan berlinang air mata, Dean berteriak mengiklaskan adiknya itu ikut bersama keluarganya. Gabriel masih ingat dengan jelas. Dia yakin, ia tidak akan bisa seperti Dean bila ada di posisinya.

Lama Sam berdiri di sana ditemani Gabriel, tidak mengindahkan orang-orang yang meminta mereka pergi karena menghalangi jalan dengan tas-tas besar mereka, juga menolak tawaran kuli-kuli pelabuhan yang menawarkan tempat-tempat menginap andalan mereka.

“Sam, apakah tidak lebih baik kita mencari tempat menginap dahulu, agar kita punya tempat menetap sementara di sini? Juga kau harus istirahat. Nanti setelah itu kita bisa kembali lagi ke sini,” ucapan Gabriel sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Sam.

Sam menarik menghela nafas dengan tersenyum, “Kau benar, kita cari tempat menginap dulu. Nanti kita bisa kembali ke sini lagi.”

Gabriel hanya mengangguk. Dia sudah berjanji dalam hati, akan mengiringi Sam kemana pun dia pergi.

Sebuah hotel terbaik di sekitar pelabuhan menjadi pilihan mereka. Hotel yang terletak di tengah kota dan tak jauh dari pelabuhan. Mereka sudah berada di kota yang sama dengan Dean, hanya saja kota ini cukup luas untuk dijelajahi dalam satu hari. Mudah-mudahan dengan bekal alamat yang mereka bawa dari surat terakhir yang Dean kirimkan, dapat membawa mereka pada alamat Dean. Semoga tidak terlalu lama dalam mencarinya. Namun setelah mereka merebahkan badan di tempat tidur empuk itu, mereka menjadi sulit terbangun. Rasa nyaman membuat mereka terlena. Rencana untuk kembali ke pelabuhan terpaksa ditunda hingga besok. Lagi pula waktu mereka di sini masih panjang.

*

Dean pulang dengan langkah gontai dan kecewa. Ia masih bersikap biasa, walau di hatinya penuh dengan rasa cemas, takut dan gembira, meyakini Sam akan pulang. Lisa mulai mencurigai ia lebih menghabiskan waktunya di pelabuhan menunggu Sam. Tapi Dean tetap yakin Sam akan pulang, walau ia tahu, akan menyakitkan bila apa yang ia yakini salah. Bahwa hanya sebuah halusinasi mengharapkan Sam pulang. Semoga tidak.

“Aku akan ikut ke kota,” ucap Lisa saat Dean hendak pergi ke tempat kerjanya keesokan harinya.

“Untuk apa?”

“Ada keperluan yang harus kubeli, dan juga untuk Emily. Lagi pula sudah lama aku tidak mengunjungi orangtuaku, kau juga.”

Dean terdiam. “Maafkan aku.” Kemudian mengangguk, “Kita ke sana bersama-sama.”

Lisa hanya mengangguk dengan senyuman.

Sungguh beruntung, Dean mendapatkan Lisa Braiden menjadi istrinya. Seorang gadis cantik kaya terhormat yang tidak pernah menganggap dirinya kaya. Ia bersedia menikah dengan Dean yang hanyalah seorang pemilik perusahaan pengiriman kecil, dan tidak memiliki siapa-siapa selain orang tua angkatnya, dengan cerita masa kecil yang sangat menyedihkan. Ia pun tidak keberatan harus tinggal di rumah kecil milik ayah Dean, karena tidak ingin meninggalkan kenangan adiknya, Sam. Walau kenangan itu membuat Dean lebih banyak menderita. Menderita karena kerinduannya.

Kedua orang tua Lisa sangat mengerti dan membiarkan pilihan hidup putrinya tanpa kekangan dan tekanan. Lisa akan selalu berbahagia bersama Dean Winchester. Terlebih dengan kehadiran Sam kecil sebagai cucu pertama mereka yang sangat mereka banggakan.

Selepas dari rumah Kel. Braiden, Dean hanya mengantarkan Lisa sampai toko yang ia tuju, sementara ia melanjutkan ke tempat kerjanya dan menengok pelabuhan, menunggu kapal-kapal penumpang yang baru merapat.

*

“Apa rencana kita pagi ini, Sam?” Gabriel tersenyum menyambut pagi yang sangat cerah setelah badai menerpa dua hari yang lalu. “Kita kembali ke pelabuhan?”

“Tidak. Aku berpikir untuk mencari rumahku dulu,..” Sam terdiam seketika dengan ucapannya. ‘Rumahnya dulu. Rumahnya bersama laki-laki itu, laki-laki yang seharusnya menjadi ayah yang baik. Rumah dimana dia menjalani hari-hari penuh siksaan. Dan sekarang ia akan kembali ke sana. Mungkinkan dia masih hidup? Mungkinkah dia akan kuat bila bertemu dengannya lagi’ Wajahnya menjadi pucat mengingatnya.

“Lebih baik jangan bila kau belum siap,” Gabriel yang menangkap perubahan wajah Sam, sangat mengkhawatirkan perasaannya. “Kita bisa berkeliling kota dulu, atau pun menunggu di pelabuhan. Mungkin dia pun menunggu kamu di sana.”

Sam memandang ragu ucapan Gabriel. ‘Ini sudah 12 tahun. Dean sudah memutuskan kontak suratnya, mungkinkah dia masih menginginkanku pulang?’ Tiba-tiba rasa takut menyergap. ‘Bagaimana kalau memang Dean tidak menginginkan dia pulang. Bagaimana kalau Dean memang sudah berusaha melupakannya? Tidak! Tolong, jangan!’ “JANGAN!!” sebuah pekikan terlepas tanpa sadar dari bibir tipis Sam.

“Sam? Kau tidak apa-apa?” semakin cemas Gabriel jadinya.

Sam segera tersadar. “Tidak, Gabriel, aku tidak apa-apa.”

“Yah, mungkin kita tidak perlu ke mana-mana dulu. Kita tetap di sini sampai kau siap_”

“Tidak. Kita harus keluar hari ini. Aku harus menemukan Dean secepatnya,” putusnya tanpa dapat diganggu gugat, dan Gabriel hanya bisa menurutinya.

Sebuah mobil yang disewakan atas fasilitas hotel tempat mereka menginap, memudahkan mereka untuk mencari alamat yang mereka tuju. Berbekal alamat yang tercantum dari surat terakhir yang dikirimkan Dean tiga tahun yang lalu, mereka mencari rumah yang dulu Sam tempati.

Sunggguh mengherankan, Sam sama sekali tidak mengenali jalan-jalan di kota ini. Bahkan jalan menuju rumahnya pun dia tidak tahu.

“Aku tidak pernah diperbolehkan keluar oleh ‘dia’, kecuali ke toko kelontong untuk membeli minuman buat ‘dia’,” bergetar Sam mengucapkannya dan mengingat kembali.

Gabriel langsung mengusap punggung adiknya.

Tiba-tiba mata Sam menangkap sesuatu di seberang jalan. Dilihatnya seorang anak kecil bersama seseorang yang tak jauh lebih tinggi darinya berdiri di depan sebuah etalase toko. Sam membaca nama toko tersebut, ‘Pojok Buku’.

“STOP!!!” Sam memekik tiba-tiba, mengagetkan supir dan Gabriel.

“Ada apa, Sam?” Gabriel dengan cemasnya.

Sam tidak mendengarkan, matanya mencari kedua anak itu. Tetap tidak ada. Tidak mungkin mereka menghilang sekejap mata. Atau mungkin…

Jantung Sam berdetak sangat kencang dengan kemungkinan yang muncul di kepalanya. Dilihatnya kembali tulisan itu, dan apa yang di balik etalase itu. ‘Buku.’

“Sam?”

“Apa yang kau lihat?”

“Aku dan Dean,”dan segera turun dari mobil dan melintas jalanan itu dan menuju toko tersebut, meninggalkan Gabriel yang terheran, membuatnya berlari menyusulnya.

TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 22

I'm in a very good mood . ENJOY!!!!

Brother's Love

Bagian 22

“Tidak apa-apa, Dean, hanya mimpi buruk,” Lisa hanya bisa menenangkan suaminya yang hampir setiap malam memimpikan adiknya.

Nafas Dean masih terengah-engah.

“Aku melihatnya, Lisa. Aku melihatnya terapung-apung di tengah laut, di tengah badai besar,” saat itu juga ia tersadar, tidak terdengar lagi gemuruh badai di luar sana. “Badai sudah berhenti?”

“Sepertinya sudah. Hujan sudah berhenti sejak beberapa saat yang lalu.”

Dean mendesah lega. “Kau tidak tidur?” terheran Lisa terjaga di tengah malam.

“Sammy terbangun untuk susunya.”

Dean hanya mengangguk, ‘Tentu saja.’

Dia menarik nafas dalam-dalam. “Benar, Lisa, aku melihat dia terapung di tengah laut bersama seseorang. Kapal yang mereka tumpangi bertabrakan dengan kapal kami. Tapi aku tidak bisa mencapainya. Badai terlalu besar. Angin terlalu kencang dan membawa mereka jauh dari jangkauanku. Mau ke mana mereka, Lisa? Ataukah… dia akan pulang?” Dean berusaha mencari-cari arti mimpinya. “Mungkinkah Sam pulang, Lisa?” dengan wajah penuh harap.

“Entahlah, Dean, aku tidak tahu.”

“Kalau dia memang pulang, berarti dia memang terjebak dalam badai baru saja,” seketika wajahnya memucat kembali. “Mungkinkah mimpiku memang sebuah kenyataan? Kapal mereka karam dan dia terapung-apung di tengah lautan?” ketakutan semakin menyergap Dean.

“Shss, jangan berpikiran yang tidak-tidak Dean. Percayalah, Sam baik-baik saja, dan belum tentu dia dalam perjalanan pulang kemari. Mungkin saja ia seperti kita, berada di dalam kamarnya yang hangat terlindungi dari badai, bahkan mungkin di sana lebih hangat dari di sini. Sudahlah jangan berpikiran macam-macam. Sam baik-baik saja. Bukankah kita selalu berdoa untuknya.”

Dean hanya mengangguk. ‘Ya, berdoa untuk keselamatanya, dan kepulangannya.’

“Ya. Dan pasti Sam baik-baik saja. Sekarang tidurlah kembali,” seraya membimbing Dean kembali tidur.

Dean hanya menurutinya, dan kembali pada posisi tidurnya.

Dikecupnya kening suaminya. Cukup prihatin Lisa dengan suaminya yang hampir setiap malam seperti ini.

“Terima kasih, Lisa.” Dean cukup bersyukur mendapatkan Lisa sebagai istrinya yang sangat pengertian, dan menerima semua tentang dirinya.

Dean berusaha memejamkan matanya, namun tetap tidak bisa. Bayangan Sam terus memenuhi matanya. Sam…

*

“Dean!!” Sam setengah panik, dan mengantarkannya bangun dari tidurnya.

“Sam?” suara Gabriel menyambutnya dengan sedikit cemas. “Ada apa, sam. Kau bermimpi buruk?”

Butuh beberapa saat Sam untuk menyadari di mana dia dan apa yang sedang terjadi. Dia masih berada di atas sofa di mana tadi mereka duduk setelah ia muntah karena mabuk laut.

‘Badai!’

Tapi kapal tampak tenang.

“Badai sudah berhenti?” tanyanya terheran.

Gabriel mengangguk dengan tersenyum.

“Kita baik-baik saja? Kapal tidak mengalami kerusakan, kan? Kita tidak akan tenggelam, bukan?” dengan nada sedikit cemas.

“Tentu saja kita baik-baik saja. Kenapa? Kau bermimpi sesuatu yang buruk terjadi pada kapal ini?”

“Aku bermimpi aneh. Kapal mengalami kerusakan dan akan tenggelam. Kau dan aku terjatuh ke laut saat berebut naik ke atas sekoci. Dan saat kita berada di atas air, sebuah kapal datang hendak menolong kita. Dan kau tahu, siapa yang di atasnya?”

Gabriel menggeleng.

“Dean. Dean di atas sana meneriakkan namaku dan berusaha menolong kita. Tapi kita terbawa arus semakin jauh dan lepas dari mereka. Aku hanya bisa mendengar ia meneriakkan namaku. Aku pun berteriak memanggilnya. Aku menangis karena tidak bisa bertemu dengan Dean yang sudah berada di depan mata. Aku takut sekali Gabriel.”

Gabriel segera mengusap-usap punggung adiknya menenangkannya. “Tidak usah takut. Itu hanya mimpi. Dan kau akan segera bertemu dengan kakakmu lagi. Mungkin besok pagi kita akan tiba di Amerika,” meyakinkan Sam.

“Aku ingin segera bertemu dengannya, Gabriel.”

“Aku tahu. Kau pasti akan menemuinya.”

Sam hanya mengangguk.

“Yuk, kita keluar, melihat matahari terbit,” ajaknya pelan.

Walau sedikit malas, Sam memenuhi permintaan Gabriel, dan mereka keluar dari kamar.

‘Syukurlah Tuhan, hanya mimpi.’

**

Walau hanya mimpi seperti yang ia alami setiap malam,Dean yakin mimpi semalam sangat berbeda, dan ia tidak bisa tenang. Masih dengan perasaan tidak tenang, ia memaksakan pergi ke pelabuhan.

Dean geleng-geleng kepala melihat hasil yang dilakukan badai semalam. Potong-potongan kayu berserakan di sepanjang jalan yang becek, dan kapal-kapal kecil yang ditambatkan di pelabuhan terkoyak-koyak.

Ia berdiri di tepi pelabuhan dan memandang jauh ke depan, ke lepas pantai, memastikan sebuah kapal penumpang yang membawa Sam pulang akan datang dan merapat.

“Badai semalam sangat mengerikan, ya?”

Dean segera menoleh dengan suara yang sangat dikenalnya itu. Dan hanya mengangguk.

“Untung saja kita tidak jadi mengirimkan barang. Tentu tidak akan selamat sampai tujuan.”

Kembali Dean mengangguk, tanpa lepas matanya ke arat laut.

Castiel memperhatikan dengan terheran. Seakan sahabatnya ini sedang menunggu sesuatu.

“Hey, apa yang kau lihat?”

Dean tidak menyahut. Tanpa bersuara Dean beranjak dari berdirinya dan berjalan meninggalkan Castiel.

“Dean…?”

“Siapkan pengiriman barang. kita kirim siang ini,” tanpa menoleh, tak mempedulikan Castiel mengejarnya di belakang.

Saat siang hari, Dean kembali ke pelabuhan untuk mengawasi pengiriman barang, sekaligus memperhatikan kapal-kapal penumpang yang selamat dari badai merapat ke pelabuhan. Penuh harap akan ada sosok yang ia kenal turun dari sana. Sosok Sam. Waktu 12 tahun tidak akan dapat melupakan tubuh kecil Sam. Dean yakin masih akan dapat mengenali Sam.

Tapi tidak ada. Tidak ada sosok yang ia kenal turun dari kapal-kapal penumpang itu. Sam belum pulang. ‘Mungkin besok ia akan sampai’.

Entah mengapa, mimpi semalam membuatnya sangat yakin Sam akan pulang, menjauhi pikiran kapal yang ditumpanginya karam di tengah laut karena badai. Sam pasti pulang!

Keesokan harinya, Dean kembali ke pelabuhan, kembali memperhatikan kapal-kapal penumpang yang baru merapat. Namun sayang hanya sebentar, masih banyak yang harus ia lakukan di kantor sebelum ia kembali ke pelabuhan untuk pengiriman barang selanjutnya.

Tak berapa saat berselang,

“Kita sudah sampai, Sam!” suara Gabriel penuh kelegaan.

Sam mengangguk dengan tersenyum jauh melebihi kelegaan Gabriel. ‘Aku pulang, Dean.’ Dan segera turun dari kapal menyusul Gabriel.

TBC

So, still enjoying this ...? let me know what you are thinking

BEAUTY LOVE BROTHER - 21

Yes, aku tahu chapter sebelumnya terasa pendek, karena itu aku akan membayarnya dengan ini. I'm in the good mood!!!! *grining

SO ENJOY Hope you like it!!!!

Brother's Love

Chapter 21

“Winchester!!!”

Dean hanya menoleh sekilas, dan melihat seperti biasa Castiel tergopoh-gopoh mengejarnya.

“Katamu, barang belum bisa dikirim?” Castiel meminta kepastian.

“Memang belum”

“Lalu kenapa barang itu sudah terdaftar di pintu pelabuhah, tersegel dan siap untuk dikirimkan? Kapal akan berangkat dalam beberapa menit lagi.”

“Apa!? Bodoh!” secepat kilat Dean menuju pelabuhan.

Bersama Castiel, Dean berusaha mengejar kapal yang membawa barang mereka, sebelum diberangkatkan.

Sesampai di sana, mereka mendapati, salah satu pegawainya sedang mengawasi keberangkatan kapal.

Dean hampir saja lepas emosi dengan kecerobohan pegawainya ini yang nekat mengirimkan barang, walau tidak mendapat persetujuan darinya. Dia justru meyakini tidak akan ada badai, dan bila pun ada, barang akan sampai duluan sebelum badai menerjang. Dean sampai pusing mempunyai pegawai yang bodoh dan ceroboh seperti ini.

“Kamu dipecat!” putus Dean setelah berhasil menurunkan kembali barang dari kapal.

“Tapi, Tuan…?”

“Kamu sudah bertindak ceroboh, bodoh, dan sangat kurang ajar, melakukan sesuatu di luar wewenang kamu!”

Dengan begitu pegawai itu hanya menunduk dan menerima pemecatan dirinya.

Castiel hanya memperhatikan sahabatnya yang sangat tegas.

Dean menarik nafas dalam-dalam menenangkan kepalanya dan hatinya.

“Katakan, Castiel, aku tidak bertindak keterlaluan, bukan?”

Castiel memberinya senyuman, “Tentu tidak, teman. Kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan. Semuanya sudah kamu pikirkan. Kamu selalu memikirkan semuanya terlebih dahulu sebelum bertindak dan mengambil keputusan. Kamu selalu tahu apa yang kamu lakukan.”

Dean terpekur. Membenarnya ucapan sahabatnya. Apa yang ia lakukan selalu sudah ia pikirkan baik-baik, dan selalu menjadi keputusan yang terbaik, termasuk melepaskan Sam dari pelukannya.

‘Sam…’

Seperti yang sudah diperkirakan Dean, keesokan harinya badai menerjang dengan kuatnya, dan hampir melumpuhkan aktifitas masyarakat sekitar. Mereka harus berlindung di rumah masing-masing.

Gemuruh kilat dan hujan lebat bersahut-sahutan, diikuti kuatnya angin, terdengar mengerikan dari luar rumah. Namun kehangatan rumah dan keluarga membuat orang yang ada di dalamnya terasa nyaman. Dean cukup lega, telah mengambil keputusan yang tepat, dan juga telah membawa keluarganya untuk menemani ibu angkatnya.

“Bagaimana Sam? Dia sudah bisa tidur lagi?” tanya Lisa saat suaminya kembali ke kamar setelah menidurkan Sam yang terbangun karena suara badai.

“Sudah. Kunina-bobokan dia, dan kubacakan dia buku sebentar.”

Lisa tersenyum melihat buku yang dibawa suaminya. Buku yang selalu ia bawa. Terlebih saat dimasukkannya buku tersebut ke dalam bawah bantalnya. Lisa tahu buku apa itu.

“Selamat malam sayang,” dikecupnya kening istrinya.

“Selamat malam. Tidur yang nyenyak,” dengan tersenyum dan kecupan di bibirnya.

Dean hanya mengangguk. Entah, dia akan bermimpi Sam lagi atau tidak.

*

Jauh di tengah laut saat, sebuah kapal terombang-ambing oleh ganasnya badai laut.

Sam terbangun dengan goncangan kuat yang membuatnya tidak bisa tidur. Perutnya terasa mual, terkocok-kocok.

“Hey, Sam?” suara Gabriel menyambutnya.

“Gabriel?” Tapi dia tak dapat menahan lagi. Segera ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

“Sam, kamu tidak apa-apa?” Gabriel sudah bersimpuh di sampingnya.

“Tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya mual,” dengan berusaha menarik nafas.

“Mabuk laut?” seraya mengusap-usap punggung adiknya.

“Mungkin.” Sam sendiri tidak yakin. Dia belum pernah mabuk laut sebelumnya.

Gabriel masih mengusap-usap punggung Sam, hingga Sam sedikit lebih enak.

“Apa kapalnya berhenti?” tanya Sam terheran.

“Ya. Kapal terpaksa berhenti karena badai terlalu besar. Berbahaya kalau memaksakan untuk tetap melaju.”

“Apakah kita akan selamat?” wajahnya menjadi pucat.

Gabriel harus tersenyum geli, “Tentu. Badai akan segera berlalu dan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat.”

Sam segera menarik nafas lega, “Oh, syukurlah.”

Gabriel semakin tersenyum geli, dengan tetap mengusap-usap punggung Sam. Hingga Sam bangkit.

“Bagaimana sekarang?”

“Ya, sudah agak lebih baik. Terimakasih,” tersirat malu di wajah Sam.

“Goncangan kapal yang kuat membuatmu mabuk laut. Wajar Sam,” dengan senyuman hangat.

Sam hanya mengangguk.

Gabriel menyuruhnya duduk di sofa, sementara dia mengambilkan minuman hangat untuk mengurangi rasa mualnya.

“Terimakasih,” Sam menerima gelas yang diberikan Gabriel, dan meminumnya.

“Jangan takut, kita akan baik-baik.”

Sam hanya mengangguk, “Aku hanya takut kita tidak akan sampai dengan selamat.”

Tapi Gabriel menggeleng, “Tenanglah, kita akan selamat.

Duk…Duk… “Permisi, Tuan, pelayanan kamar!”

Gabriel terjaga dengan seseorang yang mengetuk pintu kamar.

“Permisi, Tuan, pelayanan kamar!”

Diliriknya Sam yang masih tertidur di sofa . “Ya, sebentar,” sahutnya dan segera membuka pintu.

“Selamat malam, Tuan, maaf mengganggu.”

“Ya?”

“Mohon Anda memakai ini,” seraya memberikan dua buah pelampung, membuat Gabriel curiga.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Tidak ada apa-apa Tuan. Hanya berjaga-jaga.”

‘Berjaga-jaga?’ Gabriel penuh keheranan.

“Apakah ada kerusakan pada kapal? Kita akan tenggelam?”

“Saya tidak tahu, Tuan. Tugas saya hanya memastikan semua penumpang memakai ini untuk berjaga-jaga. Permisi,” dan segera pergi dari hadapan Gabriel.

‘Sial!’

‘Apa yang tengah terjadi? Apa kita akan tenggelam, di tengah badai di malam buta seperti ini?’

‘Ya Tuhan tolong kami.’

Entah dari mana, Gabriel memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Dengan terpaksa, ia meninggalkan Sam sendirian di dalam kamar.

Gabriel turun ke dek kapal dengan menyelusuri lorong-lorong sempit. Hingga saat ia sampai di dek paling bawah. Air sudah menggenangi lantai. Itu artinya lambung kapal sudah penuh dengan air. Juga dilihatnya sebuah kapal barang yang besar tak jauh dari sana. Ia menyimpulkan, mereka pasti baru saja bertabrakan, dan menyebabkan kerusakan.

Ia segera tersadar dengan kakinya yang dingin. Dilihatnya air yang sudah menggenangi kakinya hingga mata kaki, semakin tinggi. Para penumpang mulai terlihat dikeluarkan untuk evakuasi. “Sam!!”

Secepat kilat ia kembali ke kamar, dan langsung menarik nafas lega. Sam masih tertidur di sofanya, tidak terganggu dengan kegaduhan di luar sana.

“Sam, bangun!”

“Huh?” mata kecil Sam terbuka perlahan. “Ada apa?”

“Sam, kamu harus pakai ini,” dan langsung memakainya pada Sam.

“Apa ini?” Sam masih kebingungan.

“Hanya untuk berjaga-jaga.”

“Ini pelampung,” setelah menyadari apa yang dipakainya, juga Gabriel yang telah memakainya.

“Gabriel…?” wajah Sam langsung pucat.

“Sam, dengarkan aku. Jangan panik. Kapal kita bertabrakan dengan kapal barang, hingga merusakkan dinding lambung kapal. Air sudah masuk ke dalam kapal.”

Sam semakin pucat. “Kita akan tenggelam?”

“Tidak. Kita akan selamat.”

Serta merta Sam memeluk Gabriel dengan penuh ketakutan.

“Stss, tenang, kita akan baik-baik saja. Kapal sekoci akan membawa kita ke daratan,” dengan menarik tangan Sam keluar kamar menuju kapal sekoci.

Dek kapal atas sudah dipenuhi penumpang yang panik dan berebutan untuk menaiki sekoci di tengah derasnya hujan badai.

Muatan barang-barang dari kapal barang itu sudah tumpah ruah di atas air. ‘Ini gawat’

Gabriel mencari sekoci yang sekiranya masih kosong. Akhirnya Gabriel menemukan sebuah sekoci yang tersisa satu penumpang. Namun tertahan dengan petugas yang menghalanginya karena diprioritaskan wanita dan anak-anak.

"Dia Sam Sullivan!" seru Gabriel

Sam sempat terkaget, Gabriel menomor satukan dirinya. Dan sudah pasti begitu mendengar nama Sam Sullivan, seluruh penumpang yang ada di atas sekocil bersorak, dan langsung berusaha berebut menarik tangan Sam.

“Sam kau turun dulu!” Gabriel menyuruh Sam untuk naik ke sekoci terlebih dahulu.

"Tapi_?" Sam tak sempat menyelesaikan ucapannya, saatnya ditarik oleh penumpang lainnya. Tapi sayang, kehebohan berakibat fatal. Sam tidak dalam posisi seimbang dan akhirnya sebuah selip tangan membuatnya terjun bebas ke laut.

“SAAMM!!!” Gabriel memekik dengan paniknya, diikuti jerit panik penumpang sekoci. Tanpa berpikir panjang Gabriel langsung terjun menyusul Sam.

*

Dean hanya bisa melihat dengan geram barang-barangnya terapung-apung dia atas laut, diterpa badai besar, tanpa bisa ia berbuat sesuatu. Seharusnya barang-barang ini tidak dikirimkan sebelum badai datang. Nah, inilah akibatnya!

Matanya penuh kemarahan memandangi kotak-kotak itu. Ia akan rugi besar!

Tiba-tiba matanya menangkap dua sosok tersangkut di salah satu kotak barang itu. Sulit untuk melihat siapa mereka. Tapi mengapa insting Dean mengatakan ia mengenalnya? Diperhatikannya sedikit lebih jelas.

“Sam?”

Hampir pingsan Dean meyakini salah satu dari orang yang hanyut itu adalah Sam, adiknya yang sudah 12 tahun tidak bertemu. Wajah kecil itu tidak mungkin ia lupakan. Wajah Sam.

“Ada orang di bawah sana!!! Cepat tolong mereka!!!!” pekik Dean penuh kegirangan. “SAAAAMMMM!!!!!”

Samar-samar Sam mendengar pekikan itu. Pekikan memanggil namanya. Di antara derasnya hujan badai, ia melihat sosok yang ia kenal di atas kapal itu.

“Dean?”

‘Ya, itu Dean!’ Sam hampir menangis, meyakini kakaknya yang menemukan mereka.

“DEAN!!!!”

“SAM!!!! TUNGGU SEBENTAR, KAMI AKAN MENOLONG KALIAN!!!”

“CEPAT, DEAN, AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!!!”

“BERTAHANLAH, SAAAMM!!!” hampir tak percaya Dean mendengar suara Sam. Sam yang tidak pernah berbicara, berteriak padanya.

Tapi badai terlalu besar, juga angin yang bertiup sangat kencang, membuat kapal sulit mendekati kotak tersebut, sementara kotak tersebut semakin menjauh terbawa arus laut oleh angin.

“SAM!!!!” Dean semakin yakin melihat mereka menjauh dan menjauh. “SAM JANGAN PERGI!! KITA BELUM SEMPAT BERTEMU! JANGAN TINGGALKAN AKU LAGI, SAM!!!!”

Tapi apa daya, kotak semakin jauh tak terjangkau lagi.

“SAAAMMM!!!!!!!” pekikannya mengantarkannya terbangun dari tidurnya, dan mendapati Lisa menyambutnya dengan wajah cemas seperti biasa.



TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 20

And the next chapter ... 20 ....

ENJOY!!!!

Brother's Love

Chapter 20

Tentu ayah ibu angkatnya sangat terkejut dengan rencana kepulangan Sam. Mereka ingin mencegahnya, mareka sangat mengkhawatirkan perasaan dan emosi Sam, tapi tetap Sam meyakinkan merek bahwa dirinya kiat untuk menghadapi semua kemungkinan yang akan ia hadapi nanti di sana. Dan merekapun tidak bisa menghalanginya, bahkan bersikap mendukung, walau tetap masih ada kekhawatiran tersebut.

“Kau masih tetap ingin pergi, nak?” Catherine memastikan kembali saat Sam berpamitan.

“Iya, Bu. Saya harus pulang. Dean sudah menunggu saya.”

“Dan kau akan menetap di sana?”

“Saya belum tahu, bu. Saya pun belum tahu, bagaimana saya nanti di sana. Apakah akan kembali bertemu dengan Dean atau tidak. Kami sudah hilang kontak sejak tiga tahun ini. Dia tidak pernah lagi membalas surat-surat saya. Dan bila saya tidak dapat bertemu dengannya, kami akan segera kembali.”

Catherine tersenyum dengan lega.

“Tenang, ada aku yang menjaganya,” Gabriel menyela dengan renyah.

Catherine harus mengangguk dengan tersenyum.

“Ibu hanya mengkhawatirkanmu, Sam.”

“Jangan khawatir, saya akan baik-baik saja, bu.”

Catherine hanya mengangguk pasrah.

“Kapan kalian akan pergi?”

“Dalam beberapa hari.”

Catherine menghela nafas dengan memandangi Sam. Tidak percaya secepat ini ia akan melihat kepergian Sam. Waktu 12 tahun memang tidak berlalu sekejap mata. Tapi sepertinya baru kemarin, dia membawa Sam kecil yang rapuh, tidak dapat menulis dan tidak mau berbicara, yang merasa tidak memiliki siapa-siapa tanpa kakaknya, dengan trauma fisik dan mental, dengan setiap malam terbangun histeris karena mimpi buruk. Tapi kini Sam sudah akan pergi lagi, untuk pulang ke tanah Amerika, tanah kelahirannya, untuk bertemu kakaknya. Catherine tak dapat menolaknya. Sam bukan miliknya sepenuhnya, dan lagi Sam kini bukanlah Sam yang dulu. Sam kini telah menjadi pemuda terpelajar dengan tutur bahasa dan perilakunya yang sopan. Kemampuan menulisnya sudah menghasilkan karya-karya yang terkenal dan digemari banyak orang. Sam telah menjadi sosok yang berbeda dari Sam kecil dulu. Dan Catherine semakin mencintai dan menyayanginya.

Dipeluknya Sam dengan erat, dan mengecupnya.

“Terima kasih untuk semuanya,” ucapnya dengan tulus.

Catherine hanya tersenyum, “Ibu sangat menyayangimu, Sam.”

“Saya juga, bu.” Tidak dapat digambarkan kebahagiaan Sam, mendapatkan Ny. Catherine Sullivan sebagai ibu pengganti. Gambaran tentang ibu yang selalu ia bayangkan di kepala setelah mama tidak ada, benar-benar terwujud. Ibu yang baik, penuh sayang, lembut dan halus.

*

“Winchester!!!”

Dean segera menengok dengan seruan keras dari belakang yang sepertinya sudah mengiringi hidupnya. Terlihat Castiel tergopoh-gopoh mengejarnya.

“Kamu gimana, dipanggil dari tadi tidak dengar,” sungutnya.

“Maaf, sedang banyak pikiran,” Dean hanya tersenyum tipis.

“Bagaimana tidak jadi pikiran, kalau pesanan untuk minggu depan, belum juga dikirim. Besok harus segera dikirim, Dean,”

“Kayaknya belum bisa. Cuacanya semakin buruk. Akan ada badai minggu ini. Barang tidak akan sampai dengan selamat.”

“Tapi mereka minta barang sudah diterima Kamis depan.”

“Aku lebih memilih menunda pengiriman daripada barang tidak selamat,” sahut Dean dengan tegas.

Castiel menghela nafas, “Ok, terserah kau, boss.”

Dean tak menyahut lagi. Ia yakin yang dilakukannya benar. Ia bertanggung jawab dengan nama baik perusahaannya yang selalu mementingkan mutu barang dan juga keselamatan barang saat pengiriman. Perusahaan yang diberikan Tn. Singer untuk diteruskan olehnya.

Kebaikan Tn. dan Ny. Singer membuat Dean sudah menganggap mereka seperti orangtuanya sendiri, bahkan sebagai ayah kedua untuknya. Terlebih setelah ayahnya meninggal dengan tiba-tiba, sepenuhnya Dean mengabdi pada Tn. Singer. Kini, walau Dean masih menempati rumah ayahnya bersama istri dan anaknya, Dean masih sering mengunjungi Ny. Singer yang mulai kesepian setelah suaminya meninggal karena penyakit akut yang sudah lama diidapnya dua tahun lalu.

Banyak yang berubah sejak kepergian Sam, seperti Sam yang telah banyak berubah. Sam… ‘Kapan kita bisa bertemu lagi, Sam?’

“Hey, melamun lagi,” senggolan Castiel menyadarkannya.

Dean hanya tersenyum tipis.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Dean tidak perlu menjawabnya.

*

“Kau sudah siap?” Gabriel dengan halus menjelang keberangkatan mereka.

Sam kembali tercenung. Dean pun mengucapkan kalimat ini sebelum ia pergi, 12 tahun yang lalu.

Sam menarik nafas dalam-dalam. Dia sangat siap, bahkan dia tidak sabar lagi untuk segera dapat menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.

Anggukan mantap disertai senyuman Sam, meyakinkan Gabriel Sam ingin segera pulang.

“Kita pergi sekarang?”

Sam mengangguk pasti. Didekapnya erat buku yang ia bawa. Buku yang akan ia persembahkan untuk Dean. Buku yang tidak pernah ia publikasikan.

Tn. dan Ny. Sullivan, mengantarkan mereka sampai pelabuhan. Semua mengingatkan Sam kembali pada saat ia akan pergi dulu. Saat Dean masih bersamanya. Dean yang telah membohonginya, Dean yang telah meninggalkannya, dan Dean yang telah membuat hidupnya berubah bersama Kel. Sullivan

“Jaga dirimu baik-baik, nak. Kirim kabar jika kau sudah sampai di sana, juga jika kau sudah bertemu dengan kakakmu. Sampaikan salam kami padanya. Kami sangat merindukan dia.”

“Baik, Bu, akan saya sampaikan.”

Catherine menghela nafas berat, sama beratnya saat Dean memutuskan untuk tidak ikut bersama mereka.

Sam memeluk erat Ibu angkatnya, juga Ayah angkatnya.

“Jaga Sam, Gab,” pesan Peter pada putranya

“Pasti, Yah!” Gabriel mengangguk.

Hingga terdengar peluit panjang dari kapal, memberi-tahukan kapal akan segera berangkat. Sam dan Gabriel, segera naik, dan mereka pun sudah berada di atas balkon, hingga kapal benar-benar membawa mereka pergi menuju tanah Amerika.

TBC



BEAUTY LOVE BROTHER - 18

Okey, girls... kita sekarang masuk di chapter baru dari ini cerita. Mudah-mudahan satu chapter ini sudah ter cover semuanya, ya ...dan mudah-mudahan tidak terlalu panjang untuk satu chapter...

Rite, me stop talking, you start reading ... let me know what you are thinking

ENJOY

Brother's Love

Bagian 18

“SAM!!!!”

Sam langsung terbangun dengan teriakan ayahnya dan segera turun dari tempat tidurnya.

Dean pun mendengar teriakan ayahnya, tapi karena punggungnya masih terasa sakit, ia sulit untuk bangun dan tidak bisa mencegah Sam memenuhi panggilan ayahnya.

Sesaat Dean berusaha menahan sakit dan mencoba untuk bangun, tapi ia segera mendengar suara sabetan keras mengenai sesuatu.

‘Sam!!’

Sekuat tenaga, Dean segera bangun dan turun ke bawah. Benar, ia melihat ayahnya sedang memukul punggung terbuka Sam yang berdiri berpegangan pada tembok dengan sabuk usangnya yang keras. Sam menerimanya tanpa bersuara.

“Hentikan!!” Dean memekik panik. “Jangan pukul dia lagi, pa!”

Tapi ayahnya tidak mendengarnya dan terus memukulnya.

“Jangan…jangan pukul dia…,” air matanya sudah mengalir. “Jangan…”

“Dean, bangun sayang, Dean,” seseorang menepuk-nepuk pipinya berusaha membangunkannya.

“WHOAH!!!” akhirnya Dean dapat membuka mata dan menghentikan mimpi buruknya.

Ditolehnya Lisa yang berada di sampingnya memandang dengan cemas,

“Hanya mimpi buruk, Dean,” ia mencoba menenangkannya.

Dean mengangguk mengatur nafasnya yang memburu.

“Sam lagi?”

Dean hanya mengangguk.

“Kau belum bisa melupakannnya?”

‘Ya Tuhan aku belum bisa melupakannya. Ini sudah 12 tahun!’

“Maafkan aku, Lisa. Aku tidak bisa melupakannya. Setelah pa meninggal, justru aku semakin sering memimpikannya. Mimpi yang sama!”

“Itu karena kau merindukannya.”

Dean terkatup. Ya, dia sangat merindukannya. Dia merindukan Sam!

“Ya, aku rindu dia,” lalu bangkit dan membasuh wajahnya. “Aku sangat merindukannya.”

Lisa hanya terdiam, sangat mengerti perasaan suaminya. Siapa yang tidak rindu bila tidak bertemu dengan satu-satunya adik yang sangat disayangi selama 12 tahun lamanya.

Lisa ikut bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar Sammy.

Sesosok bayi mungil yang lucu di dalam boxnya sudah membuka mata menyambutnya.

Diangkatnya dia dari dalam sana.

“Selamat pagi, sayang,” dikecupnya gemas, dan dibawanya keluar.

“Hai, Sam,” Dean yang sudah terlihat lebih segar dari saat ia bangun tadi, menyambut pria kecilnya dan menggendongnya, sementara Lisa melakukan pekerjaan paginya.

Dean memangku Sam kecil dan menimang-nimangnya. Dipandanginya wajah putranya. Begitu mirip dengan Sam. Karena itulah ia memberinya nama Sam. Dan juga, itu yang membuat dia teringat selalu pada Sam yang entah bagaimana dia kabarnya kini. Dia hanya tahu Sam kini sudah menjadi penulis. Ya, Sam yang dulu tidak dapat menulis, sekarang telah menjadi seorang penulis. Ia pun tak pernah absen menulis surat untuknya, menceritakan semuanya, termasuk sekolahnya. Tapi Dean telah memutuskan untuk tidak lagi membalas surat Sam sejak tiga tahun yang lalu. Dean tidak ingin mengganggu kehidupan adiknya. Sam telah berhasil, dan Dean sangat bangga padanya. Keinginannya untuk dapat bertemu lagi terus dipendamnya. Entah sampai kapan.

**

Ribuan mil menyeberang lautan, di daratan Inggris.

“Gabs!!” pekikan setengah panik terdengar tak jauh, bahkan sedikit terdengar meminta bantuan dengan sesekali melambaikan tangannya, tapi tak bisa menghiraukan yang sedang dihadapinya.

Yang memiliki nama segera menengok ke arah sumber suara, dan melihat sosok jangkung yang mencoba melayani para gadis dan para ibu-ibu yang mengerumuninya dengan semangat.

Gabriel Sullivan hanya tersenyum melihatnya dari tempat duduknya. Bagaimanapun juga adiknya itu harus terbiasa dengan perhatian lebih dari para penggemarnya. Mereka sedang menikmati makan siang di sebuah restauran bergaya Prancis, saat Sam tertahan oleh sekumpulan penggemar yang meminta tanda tangan sekembalinya Sam dari kamar kecil.

Gabriel melihat sekaligus mengawasi adiknya itu dari jauh, dengan penuh bangga, kesibukan sang adik yang sedang melayani penggemarnya. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit berwarna hitam, tidak henti-henti menari di atas sampul novelnya yang diulurkan para penggemarnya, mengguratkan tanda tangannya yang apik. Juga kilatan lampu dari blits, menyimpan gambarnya bersama para penggemarnya yang ingin berfoto bersama dengannya.

Penggemarnya? Ya, para pembacanya. Sampai saat ini pun Gabriel masih belum mempercayai adiknya telah mengeluarkan tiga buah novel yang menjadi bestseller di setiap peluncurannya dan menjadi penulis muda favorit, dengan pembaca yang didomaniasi oleh para gadis dan para ibu. Tapi siapa pula yang tidak akan jatuh cinta dengan novel karya Sam Sullivan, yang mengisahkan perjuangan seorang anak untuk keluar dari penderitaan dan siksaan ayahnya. Yah, adiknya secara tidak sengaja telah mengeluarkan novel yang berkisahkan kisah nyata yang dialaminya. Sam telah berani membagi apa yang dialaminya dulu kepada orang lain, setelah sekian lama berusaha ia pendam. Gabriel tidak menyangka kebiasaan Sam menulis jurnal saat sekolah dulu akan menjadi sebuah novel yang apik dan menyentuh hati. Mungkin itu juga yang menjadi terapi untuk Sam untuk bisa menjalani kehidupan normal yang tidak ia dapatkan 12 tahun yang lalu.

12 tahun yang lalu, adiknya hanyalah seorang anak yang terluka luar dalam. Ibunya membawa Sam yang masih berumur 9 tahun keluar dari tanah Amerika, yang secara tidak sengaja ia temukan di tepi jalan dalam keadaan pucat, kurus, tubuh penuh luka, dan tidak berbicara. Nasib buruknya yang selalu menjadi bulan-bulanan ayahnya, menggerakkan hati ibunya untuk membawanya pulang ke Inggris. Ibunya berharap iapun dapat membawa sang kakak untuk turut serta, tapi ternyata sang kakak lebih memilih untuk tetap tinggal dengan ayahnya yang sudah tak berdaya. Dan sejak itu Sam resmi menjadi adiknya, menjadi bagian keluarga Sullvan, dan bernama Sam Sullivan.

Membawa Sam pulang sama seperti membawa pulang anak kucing yang kehilangan induknya. Siksaan yang ia alami bertahun-tahun dari ayahnya cukup membuat emosi dan mental Sam terganggu. Sam tidak berani mengeluarkan suaranya sekecil apapun itu, takut disentuh, dan takut berdekatan dengan orang asing, ia bahkan takut beredekatan dengan laki-laki dewasa. Dia hanya merespon kakaknya, yang merupakan salah besar tidak membawanya serta. Tangisan dan panggilan Sam untuk kakaknya saat mereka dipisahkan di kapal yang akan membawa mereka ke Inggris sudah menjadi tanda luka baru bagi Sam. Dan hanya saat itu mereka mendengar suara dan melihatnya menangis sebelum mendengarnya kembali 3 tahun kemudian dengan secara perlahan-lahan Sam dapat keluar dari tekanan mental dan emosinya.

Butuh perjuangan berat untuk dapat memperbaiki kerusakan Sam. Bulan-bulan pertama di rumah diisi dengan suara bujukan kepada Sam untuk mau makan, mandi, dan keluar kamar. Dia biasanya akan duduk merapat di tembok tidak mau bergerak sampai Ibunya membujuknya keluar dari zona amannya. Malam haripun terkadang diisi dengan suara gedoran pintu yang meronta meminta keluar kamar saat Sam terkungkung dalam mimpi buruk saat ia terkunci di dalam lemari yang gelap bersama tikus-tikus hitam dan besar. Tak jarang pula Sam akan secara tiba-tiba membungkuk atau mengulurkan tangan dengan posisi siap menerima hukuman setiap saat ia merasa telah melakukan kesalahan. Ayah dan Ibunya akhirnya mendatangkan tutor berkebutuhan khusus untuk mengembalikan kemampuan bicaranya, percaya dirinya, dan memberinya pengetahuan. Tentu ditambah dengan kasih sayang anggota Sullivan yang lain, termasuk enam kakak angkatnya yang sudah terlanjur sayang dengan Sam akan turut berusaha memulihkan keadaannya. Gabriel tidak akan memungkiri sempat ada perasaan cemburu dengan perhatian yang berlebihan kepada Sam meski dia pun turut setuju untuk membawa Sam pulang , tapi lambat laun Gabriel memahami penuh keadaan Sam yang ia sendiri tidak dapat membayangkan bila ia berada di posisi Sam dengan menjalani kehidupan penuh siksaan dan masih harus terkungkung dalam trauma dan mimpi buruk yang berkepanjangan.

Lima tahun adalah waktu yang dibutuhkan untuk Sam dapat beradaptasi dengan dunia barunya dan perlahan mulai menjalani kehidupan normalnya. Terapi jemari tangannya yang sempat hancur akibat ulah ayahnya menjadi terapi yang lama untuk Sam dapat memegang pensil dan menarik benda tersebut untuk membentuk tiga huruf namanya; S.A.M. Dan tiga huruf itu langsung ia kirimkan kepada kakaknya di Amerika sana, yang selanjutnya surat-surat yang tiada henti dikirimkan untuk kakaknya yang berisi seluruh cerita keseharian dirinya yang ia tulis tangan sendiri.

Kehidupan normal Sam juga ditandai dengan siapnya ia masuk ke sekolah umum di tempat Sullivan bersaudara bersekolah. Dan mungkin karena memang Sam adalah anak yang cerdas, ia tidak sulit untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Dunianya hanya pelajaran dan jurnalnya. Setiap hari ia akan menulis jurnal hariannya. Hanya Gabriel tidak mengira Sam akan membagi apa yang ia tulis dalam jurnalnya, juga surat-surat yang ia kirim kepada kakaknya di Amerika sana. Yang lebih mengejutkan, Sam pun menulis apa yang ia alami dulu dalam jurnalnya. Dimulai sejak hari pertama ia mengenal rasa sakit dan pukulan. Sam menulisnya dengan sangat detail apa yang ia alami, apa yang ayahnya lakukan padanya, bahkan saat ayahnya memakainya sebagai pemuas nafsu birahinya, dan Dean sama sekali tidak mengetahuinya. Dan bagaimana Dean selalu berusaha untuk melindunginya dari segala pukulan. Semua perasaan yang terpendam saat itu, tertulis semua di sana. Gabriel sempat tidak mengerti mengapa Sam menuliskan semua itu di saat dia ingin keluar dari mimpi buruk tersebut. Tapi Sam menjawabnya dengan tenang, bahwa dia membutuhkan untuk mengeluarkan apa yang tidak bisa ia keluarkan dulu; tangisan, teriakan, dan rasa sakit, dan rasa kecewa akan rasa diabaikan. Sam meyakinkan bahwa itu sama sekali tidak menyakitinya, bahkan sebagai bentuk terapi lain untuknya dapat menyembuhkan diri dari trauma.

Gabriel pun dapat mengerti perasaan dan usaha, juga rasa sayang Dean, sang kakak, untuk melindungi sang adik dari segala apapun yang dapat melukainya, dan tidak mengingkari Deanlah yang menjadi tumpuan Sam untuk bertahan hidup selama menjalani mimpi buruknya, dan Gabriel pun meyakini Sam tidak akan kuat bertahan jika tidak ada Dean. Kini Gabriel berusaha melakukan itu semua. Dia ingin menempatkan dirinya sebagai Dean yang dapat melindungi dan menjaga Sam. Gabriel tidak hanya menjadi sahabat bagi Sam tapi juga sebagai kakak dan pelindung Sam setelah Dean melepasnya.

Selepas menyelesaikan sekolah, Sam mampu melanjutkan ke sebuah universitas ternama dengan jalur beasiswa pada jurusan Bahasa dan Sastra, sementara Gabriel mengambil jurusan Ekonomi. Sam tidak berhenti menulis. Buku jurnalnya telah mencapai 3 buku dan juga menjadi penulis lepas pada surat kabar lokal. Dari sana, Sam pun mengenal orang-orang dari dunia sastra dan penerbitan buku, yang ternyata memunculkan ide yang tidak pernah terbayang sebelumnya oleh Gabriel sendiri; Sam berniat meluncurkan jurnal pribadinya.

Gabriel masih ingat saat Sam mencetuskan niatnya itu.

“Apa, kau ingin menerbitkan jurnalmu?” Gabriel tidak dapat meneyembunyikan rasa terkejut dan herannya.

“Ya, dalam sebuah novel.”

“Kau yakin?”

“Ya!” dengan wajah sumringah penuh semangat, “Pasti menarik. Semua orang orang menyukai cerita cengeng yang menyentuh hati, mereka pasti menyukainya.”

“Tapi itu kan, ceritamu, Sam, cerita hidupmu.”

“Lantas? Tidak ada yang tahu itu ceritaku. Akan kuubah namanya. Tidak akan ada yang mengetahuinya. Dan kalau aku dapat menghasilkan uang dari penjualan bukuku, akan kusumbangkan kepada panti asuhan-panti asuhan. Itu janjiku,” dia tersenyum dengan rencananya.

“Kau yakin, Sam?” Gabriel harus lebih meyakinkan Sam lagi. Tidak akan mudah. Jika Sam meluncurkan bukunya, publik akan bertanya-tanya siapa anak malang yang ada di dalam cerita itu. Apakah memang ada anak malang itu? Apa yang akan Sam lakukan, menceritkan kisah hidupnya kepada dunia?

“Aku yakin 100%. Aku akan mempublikasikan kisahku, dan tidak akan tahu itu aku,” lanjutnya meyakinkan kakak angkatnya.

Dan untuk pertama kalinya secara gamblang, Gabriel melihat Sam telah keluar dari kungkungan traumanya, dan memunculkan sebuah sifat baru yang tidak terbantahkan, betapa keras kepalanya seorang Sam Sullivan.

Gabriel hanya mengangguk setuju.

Untunglah niat Sam didukung penuh oleh orang tua angkatnya dan semua kakaknya. Mereka sudah cukup bangga Sam dapat keluar dari trauma masa kecilnya, dan bila ia mampu menerbitkan buku atas nama dirinya, itu akan menjadi pelengkap dari rasa bangga mereka.

Buku pertama Sam pun diluncurkan, dengan judul ‘‘The Unfortunate Little Thing’ by Sam Sullivan. Dan di luar dugaan, namun seperti yang sudah Sam perkirakan, bukunya meledak di pasaran dan terjual habis. Dalam dua bulan telah terjual 250.000 kopi! Dan masih terus ada permintaan. Semua orang menyukainya, dan menjad penjualan terbaik. Semua orang membicarakan novel ini, terutama para gadis dan ibu-ibu. Mereka mengagumi jalan ceritanya, dan bagaimana sang penulis menuturkannya. Sangat menyentuh! Tidak akan ada menyangkan buku sebagus ini adalah karya seorang pemuda yang masih berusia 18 tahun. Mereka mengira novel ditulis oleh penulis profesional. Yah, itulah bakat yang dimiliki oleh Sam. Dan mereke ingin bertemu dan mengenal sang penulis. Tapi apakah Sam ingin menemui mereka. Jawabannya ya.

Sam menemui pembacanya dan memberi mereka tanda tangan. Para gadis dan ibu-ibu semakin mengagumi sang penulis yang ternyata seorang pemuda yang tinggi, tampan, wajah menggemaskan dengan dua lesung pipit di setiap kali ia tersenyum, cerdas, dan berbudi santun. Mereka semakin menyukainya. Dan saat mereka menanyakan apakan tokoh-tokoh di dalam bukunya nyata? Sam akan menjawabnya, tokohnya hanyalah rakaan dia. Tidak ada yang nyata dari buku yang ia tulis. Para pembaca menerimanya dan tetap menyukainya. Dan untuk menutupi guratan-guratan luka yang menutupi kedua telapak tangannya, Sam mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam, yang juga menjadi ciri khasnya dia.

Dalam enam bulan Sam telah menjadi penulis terkenal dengan novel yang tekenal, dan menjadi permintaan di mana-mana. Tidak hanya di Inggris tapi juga di benua Amerika sana. Semua orang sudah melihat Sam Sullivan sebagai penulis muda berbakat. Dan juga sesuai dengan janjinya dulu Sam membagi setengah dari keseluruhan hasil penjualan buku untuk disumbangkan ke rumah-rumah yatim dan juga kepada siapa saja yang membutuhkan.

Setelah meluncurkan buku pertamanya, Sam meluncurkan buku keduanya di tahun berikutnya, dengan judul ‘Looking for Love’ oleh Sam Sullivan. Dan lagi, publik menyukainya. Juga Tidak diragukan lagi Sam telah menjadi Penulis yang sangat digemari. Kedua orang tuanya semakin bangga dengannya. Tidak akan ada yang menyangkan sang penulis dahulu adalah seorang anak yang rapuh terkungkung dalam trauma yang dilakukan ayahnya, kini telah menjadi penulis berbakat. Dean pun sangat bangga dengan adiknya. Ia masih menulis surat untuk Sam dan Dean mendapatkan kopi pertama di setiap peluncurannya. Dean masih tetap menjadi tempat Sam bertahan, dan ia lega Dean masih bersamanya.

Hanya saja tak lama setelah peluncuran buku keduanya, tiba-tiba Dean memutuskan tidak lagi membalas dan menulis surat pada Sam. Tidak ada surat datang maupun balasan dari surat-surat yang Sam kirimkan sebelumnya. Sam tidak mengerti apa alasan Dean menghentikan suratnya. Ada rasa kecewa di sana, tapi Sam masih berusaha fokus untuk menyelesaikan bukunya yang ketiga sesuai dengan janjinya pada penerbit buku dengan terus memendam rasa perih dan sakit hati merasa diabaikan kembali oleh Dean. Perasaan tidak dicintai oleh Dean bermain di kepala Sam. Dean meninggalkannya lagi, dan Sam tidak suka ditinggalkan. Tapi Gabriel terus meyakinkan bahwa mungkin sesuatu terjadi sehingga surat Dean tak jua sampai. Dan untuk beberapa alasan, Sam menerimanya dan tetap menunggu surat Dean datang.

Tahun berikutnya Sam meluncurkan buku ketiganya berjudul ‘Fortunate Happy Ending,’ yang lagi-lagi terjual habis dan menjadi penjualan terbaik. Tapi kali terasa ada yang kurang saat Dean masih belum juga membalas dan mengirimnya surat. Gabriel meresakan kebahagiaan sam berkurang saat ini. Meski tetap ia tidak menghindari para penggemarnya. Seperti sekarang ini yang merupakan efek dari novel-novelnya, Gabriel menunggu Sam melayani para penggemarnya yang meminta tanda tangan dan foto bersama.

Butuh sekitar 15 menit sampai akhirnya Sam dapat melepaskan diri dari kerumunan para penggemarnya.

Gabriel harus tertawa kecil saat melihat adiknya berlari kecil dengan kaki-kaki panjangnya kembali ke meja dengan wajah lelah namun senang.

“Phuah, akhirnya lepas juga ...,” Sam terkekeh kecil saat ia sudah mendudukkan bokong rampingnya di kursi depan Gabriel, menunjukkan lesung pipitnya yang menggemaskan. “Habis, aku dimakan mereka! Makananku saja belum habis,” selorohnya, seraya meraih garpunya dan menancapkannya ke potongan daging kalkun di atas tumpukan sayur mayur yang tersaji mengundang selera di atas piring mewah.

“Kau juga, bikin buku bagus sekali,” tukas Gabriel.

Sam hanya nyengir, dan mengunyah daging di mulutnya dengan santun.

Gabriel hanya tersenyum dan menikmati steak sandwichnya,

Sam masih mengunyah dagingnya kalkunya dengan penuh rasa nikmat. Tapi tiba-tiba rasa nikmatnya menjadi hambar saat matanya memandangi potongan daging kalkun, juga potongan daging sapi di atas piring yang dinikmati kakaknya.

Gabriel melihat wajah adiknya yang menjadi tak berselera.

“Kenapa?”

Sam menghela nafas, “Tidak apa-apa, hanya tidak pernah membayangkan aku akan dapat menikmati semua ini, di saat dulu aku harus menunggu Dean pulang dengan membawa sepotong roti untukku, karena tidak akan mungkin ‘dia’ memberiku makan.”

Gabriel terkatup dan menghentikan makannya dan memandang adiknya “Roti itupun sepenuhnya untukku, dia belum tentu makan. Dean sudah banyak berkorban untukku. Dia terlalu sayang padaku.”

Gabriel menghela nafas, ‘itu sudah tidak diragukan lagi’ . Gabriel mengangguk setuju.

“Lalu kenapa dia menghentikan suratnya!?” ada penekanan sedih dan kesal di sana. “Ini sudah hampir tiga tahun, Gabs...”

Gabriel menghela nafas, “Mungkin kau harus lebih bersabar menunggu. Pasti Dean akan mengirimu surat, Sam,” dengan menusuk lagi daging steaknya.

Sam meletakkan garpunya. “Aku sudah tidak bisa menunggunya, Gab, aku tidak bisa,” ucapnya yakin.

Gabriel terkatup, “Lantas?” dan dapat membaca ada sesuatu yang muncul tiba-tiba di kepala Sam melalalui matanya yang cerdas tapi juga nekat.

“Aku akan menemui Dean, aku pulang ke Amerika, Gab, aku harus ketemu kakakku,” dengan penuh keyakinan.

Gabriel hampir tersedak mendengarnya. Potongan daging yang ada di mulutnya dan belum termamah benar oleh giginya hampir meluncur ke dalam tenggorokannya tanpa penjagaan. “Hah?”

Tapi mata penuh keyakinan Sam tidak akan mudah meruntuhkan niatnya. Gabriel hanya menelan ludah. Yang ini tidak mungkin tertahankan.

TBC

BEAUTY LOVE BROTHER - 17

Hiya, here the chapter 17. Kita main ke belakang sebentar ya , main flashback sebelum balik ke masa kini di chapter berikutnya.Ini yang merequest chapter ini. Mudah-mudahan tidak terlalu mengecewakan. SO ENJOY!!! hope you like it...

Brother's Love

Chapter 17

4 tahun Dean kecil duduk merapat di tembok dengan tidak tenang. Suara erangan dan jeritan kesakitan dari dalam kamar sungguh menakutkan untuknya, terlebih suara itu adalah suara ibunya. Ma sedang berusaha mengeluarkan adik yang ada didalam perutnya, begitu yang dikatakan Ny. Pitts padanya. Ny. Pitts yang seorang bidan sedang membantu Ma di dalam sana. Sesekali Dean mengintip di pintu ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi tidak terlihat apa-apa. Ma tertutupi kain besar berwarna putih di sana. Pa? Pa lebih menakutkan lagi. Sejak Ma mulai mengeluarkan suara itu dan terlihat sangat kesakitan, Pa terlihat sangat tegang. Pa hanya mondar-mandir dengan gusar di depan pintu kamar atau duduk dengan meminum birnya. Dean pun tidak berani untuk mendekatinya.

Sudah lama Dean merasakan, Pa tidak suka dengan Ma memiliki adik untuk Dean. Ma sedang sakit katanya, dan dengan adik bayi yang di perutnya hanya akan menambah beban dan sakit Ma. Dean tidak tahu Ma sakit apa, yang ia tahu, Ma sakit berat. Dean memang melihat Ma tidak terlihat sehat selama membawa adiknya di dalam perut Ma. Tapi Ma selalu meyakinkan dirinya Ma, baik-baik saja, Ma tidak sakit, Ma kuat membawa adik di dalam perutnya. Adik untuk Dean agar Dean tidak kesepian nanti. Dean senang sekali akan punya adik, dan Ma selalu meyakinkan, Dean akan menjadi kakak yang baik, kakak yang sayang pada adiknya, kakak yang akan selalu menjaga dan melindungi adiknya. Dean sudah tidak sabar untuk segera melihat seperti apa adiknya. Tapi kalau harus mendengar suara Ma kesakitan begitu, Dean jadi tidak tega. Apakah Ma juga seperti ini waktu mengeluarkan dirinya dari perut Ma?

Akhirnya suara Ma berhenti berganti dengan suara tangisan anak kecil yang lumayan memekakkan telinganya. Tangisannya kencang sekali.

BRAK!

“Mary!!?” Pa langsung bangkit dari duduknya sampai menjatuhkan kursi yang didudukinya dan berlari ke kamar. Dengan takut Dean mengintip lagi apa yang terjadi di dalam sana.

Tirai besar itu sudah disingkirkan, dan terlihat Pa bersama Ma. Dean mencari di mana adiknya. Ia mencari sumber suara tangisan yang tidak kunjung berhenti. Suara itu kini sudah berada di tangan Ny. Pitts. Dean berdiri dan takut-takut masuk ke dalam kamar. Ia ingin melihat bentuk adiknya.

Akhirnya ia bisa melihat adiknya. Adiknya kini sudah tidak menangis lagi. Ia kecil sekali, warnanya putih pucat. Ny. Pitts sudah membungkusnya dengan kain bersih. Saking kecilnya, yang terlihat hanyalah kepalanya yang bulat. Matanya tertutup, dan bibirnya mengecap-ngecap. Dean memperhatikan kulitnya yang berkerut-kerut.

“Ini adikku?” tanya Dean malu-malu di samping Ny. Pitts

Ny. Pitt menengoknya dan tersenyum. “Iya, Dean, ini adikmu, adik lelakimu, tampan ya?”

Dean kecewa, “Dia kecil sekali, dan jelek, baunya juga aneh!”

Ny. Pitt hanya tersenyum, “Sekarang dia kecil tapi dia nanti akan besar sepertimu dan tampan sepertimu juga.”

Dean harus tersenyum bangga.

“Mary, Mary!” Pa tiba-tiba memanggil Ma dengan panik, menepuk-nepuk pipnya.

Ny. Pitts langsung memeriksa Ma.

“Dia tidak apa-apa, John, hanya pingsan,” setelah memeriksanya. “Ia kelelahan selama proses persalinan. Dia butuh waktu untuk mengembalikan tenaganya.”

“Harusnya dia tidak perlu melalui ini,” sahut John gusar.

Ny. Pitts hanya terdiam.

“Kau tidak menanyakan bayimu, John?” tanyanya memancing.

John menengok sesaat ke arah meja di mana bayinya diletakkan. Ada rasa ia ingin melihatnya lebih dekat terlebih dengan Dean yang berdiri di sana memandangnya dengan mata bertanya ‘pa nggak mau liat adik baruku?’

“Apa dia sehat?”

“Sehat sekali John. Seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan.”

Jawaban Ny. Pitts tidak terlalu membuatnya lega, justru membuatnya semakin sakit.

“Kalau kelahiran dia hanya akan memperburuk kesehatan Mary, tak perlulah dia lahir.”

“Tapi Mary menginginkan bayi ini, dan ini buah cinta kalian.”

John terdiam. “Bukan, dia kecelakaan, tidak seharusnya dia ada. Seharusnya Mary tidak usah hamil lagi. Sudah ada Dean, itu sudah cukup,” ucapnya lirih dengan melihat putra pertamanya yang amat disayanginya dan menjadi kebanggaanya. “Tak perlu ada lagi,” lanjutnya dan kembali pada Mary yang masih tak sadarkan diri.

Ny. Pitts hanya mendesah kecewa dan kembali pada bayi yang belum diberi nama. Ia pun tak yakin John akan memberinya nama.

“Kalau Mary sampai tidak bangun lagi , ….,” John terhenti dengan ucapnnya. Tidak perlu ia ucapkan apa yang ada di kepalanya bila sampai Mary terjadi apa-apa.

Dean hanya berdiri di sana menlihat dan mendengar apa yang Pa dan Ny. Pitts ucapkan. Dia tidak banyak mengerti, tapi dari mata dan gerak tubuh Pa yang tidak melihat bahkan mendekati adiknya, ia tahu, Pa tidak menyukai adik barunya ini. Dean tidak tahu mengapa.

Mary baru sadarkan diri dua hari kemudian, yang sangat melegakan John, karena ia yakin, ia pasti sudah melakukan sesuatu pada makhluk kecil itu bila Mary tidak terselamatkan. Namun yang menyakitkan ucapan pertama yang terucap dari bibir lemah Mary adalah;

“Bagaimana bayiku, John? Apa dia sehat? Aku ingin melihatnya, John.”

Sebenarnya John tidak ingin memperlihatkan bayi itu pada Mary, tapi ia pun tidak tega kalau harus melihat wajah kecewa Mary, perempuan satu-satunya yang amat dicintainya.

Dan akhirnya dengan pahit, John memberikan bayi merah itu ke pelukan Mary. Tak terkira wajah bahagianya Mari menggendong bayi yang barus ia lahirkan susah payah.

“Anakku,” ucapnya lembut seraya mengecup pipinya. “Dia mirip denganmu, John.”

John meliriknya bayinya. ‘Mirip dari mana? ’

“Sudah kau beri nama siapa dia, John?” lanjut Mary.

“Belum. Belum sempat.”

Mary hanya tersenyum lemah, “Boleh kuberi nama dia Samuel, seperti nama ayahku?” tanyanya.

‘Samuel?’ terlalu bagus buat anak macam ini. Tapi John hanya mengangguk setuju. “Boleh,” apapun untuk Mary.

Mary tersenyum senang, dan kembali mengusap bayinya.

“Dean,” Mary teringat pada putra sulungnya.

Dan langsung muncul diantara mereka dan John langsung mendudukannya di tempat tidur bersama Mary.

“Dean… lihat ini adik laki-lakimu, sayang. Namanya Samuel, beri salam padanya, sayang,” ucap Mary.

Dean melihat lekat bayi yang dipelukan ibunya. “Hi, Sam…,” ucapnya malu-malu.

Mary tersenyum senang. “Kau sudah jadi kakak sekarang, kau harus menyayangi adikmu, ya.”

Dean mengangguk, “Dean sayang Sam.”

Tak terkira leganya perasaan Mary mendengar putra sulungnya mengucapkan itu, sementara John hanya tersenyum jengah.

Memang benar, setelah persalinan itu, kondisi Mary semakin menurut, dia bahkan sudah tidak sanggup untuk turun dari tempat tidur. John semakin menyesal membiarkan Mary mengandung kemudian melahirkannya, dan membenci kelahiran Sam, tapi demi Mary pula ia mau merawat Sam.

Tahun pertama John masih mau merawat Sam, meski dengan terpaksa. Dean pun tahu ibunya sudah tidak kuat lagi mengasuh Sam, karena itu tanpa diminta sering melihat bagaimana ayahnya mengurus adiknya. Dean menyukai Sam. Ny. Pitts benar, adiknya ini semakin lama semakin membesar dan menggemaskan. Adiknya tidak lagi jelek dan tidak lagi berbau aneh. Setiap Sam tertawa, lesung pipitnya keluar dari pipi tembemnya. Dean suka kalau Sam sedang tersenyum atau tertawa. Namun jika Sam menangis, ada perasaan menusuk di dada Dean. Karena itu ia selalu berusaha membuat adiknya tersenyum.

Namun di tahun kedua setelah Sam berulang tahun yang pertama, ayahnya mulai tidak sabar dengan kelakuan Sam, terlebih saat Sam mulai belajar jalan, atau belajar bicara. Yang ada hanyalah Pa yang sering membentak-bentak Sam hingga Sam menangis ketakutan. Kalau sudah begini, Dean yang akan menenangkan Sam dan membawanya ke Ma di kamar, dimana Ma akan memeluk Sam, menyanyikannya nina bobo hingga Sam berhenti menangis dan tertidur lelap, begitu juga Dean yang akan terlelap di samping Ma. Paling tidak Sam pernah merasakan kasih sayang Ma.

John semakin tidak peduli pada Sam, suara tangisnya hanya akan membuat dirinya marah. John pun tidak peduli ia melewatkan langkah pertama Sam, juga kata pertama Sam yang mengucapkan ‘Pa pa….’ John tidak peduli lagi. Ia lebih meninggalkan Sam pada putra sulungnya yang masih 6 tahun. Secara otomatis, Sam diasuh oleh Dean. Dean yang akan memandikannya, Dean yang akan memberinya makan, Dean yang akan menidurkannya, dan Dean yang akan mengajaknya bermain ataupun menenenangkan Sam bila menangis. Sementara waktu John dihabiskan di tempatnya bekerja di tempat pemotongan kayu dan akan berada di samping istrinya bila berada di rumah.

Dean semakin bisa melihat perlakuan ayahnya pada Sam yang berbeda dengan pada dirinya. Tidak hanya perhatian, tapi juga kasih sayangnya. Tak jarang Pa akan pulang kerja membawakan Dean permen atau mainan yang hanya dikhususkan untuk Dean, atau membelikan pakaian Dean yang bagus, tapi tidak untuk Sam. Tidak ada untuk Sam, hanya untuk Dean.

Dean tak dapat menahan rasa perihnya melihat mata cemburu Sam yang merasa tersisihkan tanpa perhatian dan kasih sayang Pa, dan yang terperih adalah jika Sam yang terkadang mengangkat tangannya meminta digendong, tapi Pa selalu menjawabnya dengan kasar, ‘apa, minta gendong? Pergi sana, jauh-jauh, berani mendekat, aku pukul kamu,’ Dan Sam akan mengkeret kecewa, siap menangis tapi dengan cepat Pa akan menghardiknya keras, ‘Jangan nangis! Dasar manja!’

Dan Dean pun mendengar ucapan lirih Sam yang masih berumur 2,5 tahun, ‘Pa nggak cayang, Cammy,’ dengan wajah sedihnya.

Tidak seharusnya anak usia 2,5 dapat mengucapkan sesuatu yang hanya akan mulai dimengerti anak usia 4 tahun. Tapi Sam sudah bisa mengucapkannya.

Akhirnya Dean yang menggantikan semua kasih sayang Pa yang tidak dirasaakn Sam. Permen dan mainannya selalu ia berikan untuk Sam. Dean juga berusaha untuk selalu melindungi Sam dari kemarahan Pa. Itu juga yang menjadi permintaan Ma setiap malam. ‘Kalau Ma sudah tidak bersama kalian lagi, Ma titip Sam, jaga dia, sayangi dia, lindungi dia, Dean, dan buat Sam bahagia, ya sayang.’ Dan Dean hanya mengangguk

Pesan itu terpatri di kepala kecil Dean yang masih 6 tahun walau menjadi ketakutan terbesarnya kalau memang Ma harus pergi selama-lamanya meninggalkan mereka bertiga.

Dan akhirnya malam yang ditakutkan Deanpun terjadi.

Malam itu, hanya beberapa hari setelah ulang tahun Sam yang ke-3, entah mengapa Sam menangis terus. Dean sudah berusaha untuk mendiamkannya, tapi tangis Sam tak kunjung berhenti. Pa sudah berteriak-teriak untuk Dean mendiamkan Sam, tapi tetap tangis Sam tidak kunjung berhenti, dan semakin membuat Pa kesal.

Dan Dean terkaget dengan tiba-tiba Pa merebut Sam dari gendongan Dean saat ia berusaha mendiamkan Sam.

“Pa!” Dean terkaget, terlebih dengan pekikan Sam yang sakit, tangannya ditarik begitu saja.

Di luar dugaan, Pa langsung melancarkan pukulan di pipi Sam untuk mendiamkan Sam.

Dean sudah berusaha untuk menghentikan pukulan Pa, tapi Pa menendangnya jauh-jauh hingga Dean jatuh tersungkur.

Bukannya diam Sam semakin menangis kesakitan. Pa semakin marah, dia langsung melempar Sam ke lantai dan siap untuk menendang tubuh kecil 3 tahun Sam yang sudah meringkuk ketakutan di tengah tangisnya. Namun terhentikan dengan suara lirih yang mengagetkannya,

“Sammy…”

Kaki John terhenti saat siap akan melayangkan tendangan ke arah Sam. Ia langsung menengok dan melihat Mary tertatih berusaha meraih Sam.

“John...ja..ng…an, p..p..ukul…di..aa…, a…ku mo…hon, John…,” Mary terengah-engah meratap di tembok mencari pegangan untuk berdiri.

“Mary!” John langsung menangkap tubuh Mary yang siap tumbang.

John membopong Mary kembali ke tempat tidurnya, sementara Dean langsung berlari ke arah Sam dan langsung menggendongnya.

Mungkin karena ketakutan dan syoknya, Sam berhenti menangis dan hanya terisak-isak di pundak kakaknya.

Dean menimang-nimang Sam hingga berhasil kembali tidur. Saat ia akan menaruh Sam ke tempat tidurnya, ia terkaget dengan teriakan Pa tiba-tiba,

“MARY? TIDAAKK!!! JANGAN PERGI MARY!!!! TIDAAAAKKKK!!!!”

Dan selanjutnya Dean mendengar suara meja dilempar dan pintu dibuka lalu dibanting dengan keras.

Dean lansung berlari keluar dan ke kamar Ma. Dean terpaku pucat melihat sosok Ma yang cantik sudah terbaring tak bergerak. Diperhatikannya suara hembusan nafas Ma yang biasa terdengar berat, kini tak terdengar sama sekali. Dean mendekatinya dan mencoba menyentuh tubuh Ma, dan membangunkannya…

“Ma..? Ma…? Bangun, Ma….,” panggilnya takut-takut.

Tidak ada reaksi, Ma masih terdiam. Biasanya Ma akan terbangun meski hanya satu kali panggilan.

“Ma…?” panggilnya sekali lagi. Saat tidak ada jawaban, jantung Dean serasa berhenti, menyadari Ma sudah pergi.

“Maaaa!!!!” Dean memeluk tubuh ibunya dengan menangis, diringi dengan suara tangis Sam yang tiba-tiba kembali terdengar, yang membuat Dean semakin sesak rasanya.

Dan selanjutnya menjadi babak baru dari kehidupan Dean. Pa terpuruk dalam kesedian ditinggalkan Ma. Pa semakin sering marah, Pa semakin suka pulang mabuk, dan akhirnya dihentikan dari pekerjaannya dan membuatnya tinggal di rumah bersama minumannya, dan yang pasti Pa semakin sering memukul Sam, sebagai hukuman, Sam sudah membuat Ma pergi selama-lamanya.

Pa memukul Sam saat Dean pergi sekolah. Dean hanya bersekolah sampai kelas 2 tapi cukup untuknya belajar membaca dan menulis, dan dapat mengajarkan Sam membaca. Sam tidak pernah diizinkan sekolah. Dean hanya akan mendapatkan Sam meringkuk kesakitan atau terkunci di dalam lemari bila ia pulang sekolah setiap harinya, dengan tubuh yang babak belur penuh luka. Dean merasa putus asa tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolongnya, karena iapun takut pada Pa. Tak jarang iapun terkena sasaran kemarahan dan pukulan Pa hanya karena menolong Sam. Dean semakin tersiksa dengan kenyataan sam tidak lagi berani mengeluarkan suaranya karena saking takutnya pada pa. Akan ada tambahan pukulan jika Sam berani mengeluarkan suara atau menangis kesakitan. Dean merasa semakin tidak berguna.

TBC

So... well, me, no words, yours now , me waiting !!! :)