Well, ENJOY!!!!
Brother's Love
Bagian 25
Lisa terpaku seketika hingga menjatuhkan barang bawaannya.
“Hey,” salah satu dari mereka refleks menolongnya. “Maafkan saya,” seraya memunguti barang-barang yang tercecer dibantu dengan temannya.
Tapi Lisa tidak peduli. Dia masih memastikan pendengarannya. Pemuda tinggi ini mengaku bernama Sam? Di hadapannya?
“K..kau Sam?” Lisa hampir tergagap.
“Ya…”
Air mata langsung membasahi pipi Lisa, dan tak dapat menahannya lagi, langsung memeluknya dengan sangat erat.
“Benarkah ini kau, Sam? Kau benar-benar pulang, Sam?” semakin erat pelukannya seperti yang melepaskan kerinduan.
Sam hampir tak percaya dengan sambutan ini. Seseorang menunggunya pulang. Seseorang yang tidak ia kenal. ‘Siapakah wanita ini?’
Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan memperlihatkan air matanya. Air mata kelegaan.
“Dean sudah menunggumu, Sam. Dean sudah bermimpi kau akan pulang. Dia tahu kau akan pulang.”
“Dean?” Sam terpaku tak percaya.
“Ya. Dia selalu memimpikanmu. Tiada malam tanpa memimpikanmu. Dia terlalu merindukanmu, Sam. Dia sangat merindukanmu!”
Hampir menangis Sam mendengarnya. ‘Dean merindukanku?’
“Hai, Ny. Winchester,” dua orang gadis cilik yang melewatinya menyapanya.
“Oh, hi, Claudia, Suzie,” dia menyambutnya dengan tersenyum hangat.
“Hi, Sam.”
Sam terkaget. Tapi sapaan itu bukan ditujukan padanya, melainkan pada bayi kecil itu, dan mereka menggodanya sebentar sampai bayi mungil itu tertawa riang.
“Sampai nanti, Ny. Winchester, daah Sam,” pamit mereka sebelum berlalu.
“Sampai nanti, Claudia, Suzie.”
Sam masih terkaget. ‘Ny. Winchester. Sam?’ Tapi wanita ini masih tersenyum padanya. ‘Mungkinkah..?’
“Aku istri kakakmu. Namaku Melissa. Kau boleh memanggilku Lisa. Aku kakak iparmu,” seraya meraih tangan Sam dengan hangat. “Dan ini Sam, keponakanmu.”
“Kakak ipar? keponakan” takjub Sam mendengarnya, terlebih dengan bayi yang bernama sama dengannya. “Dia bernama sama denganku?” dengan memandangi bayi kecil lucu itu.
“Ya. Kakakmu sengaja menamakannya sama denganmu agar dia selalu teringat padamu. Dan dia memang menurunkan wajahmu. Kalian berdua mirip sekali,” dengan tersenyum.
Sam hampir tertawa mendengarnya, dan tersanjung.
“Mungkin kita belum pernah saling bertemu sebelumnya. Tapi kerinduan dan kecintaan kakakmu yang besar membuatku dapat merasakan juga rindu dan cinta itu. Aku seperti sudah mencintaimu.”
“Terima kasih,” Sam tersenyum haru.
Lisa tersenyum dengan menarik nafas penuh kelegaan, “Senang bisa bertemu denganmu Sam, dan ….?” beralih pada pria di samping Sam,
Sam segera tersadar, “Oh, maaf, ini Gabriel, Gabriel Sullivan, kakak angkat saya.”
Semakin sumringah wajah Lisa dapat bertemu langsung dengan seorang Sullivan, yang sudah menyelamatkan Sam. Mereka berjabat tangan.
“Senang, akhirnya bertemu dengan Anda Tn. Sullivan. ”
Gabrielle tersenyum, “Saya juga, Nyonya.”
Lisa tersenyum senang. Ia kembali pada Sam.
“Dean pasti sangat senang kau pulang, Sam. Karena itu yang ia tunggu selama ini.”
Sam tersenyum mengangguk.
“Ayo masuk ke dalam. Kita seperti orang aneh berada di depan pintu,” Lisa tertawa geli sendiri.
Gabriel segera membantu membawakan barang-barang yang tercecer tadi. Sementara Sam masih belum dapat menutupi keraguan dan ketakutannya untuk masuk ke dalam, sampai Lisa mendorongnya masuk, “Masuklah, Sam, ini rumahmu juga, bukan.”
Tetap tidak membuat Sam nyaman, terlebih saat ia sudah berada di dalam.
Sam berdiri terpatung melayangkan pandangannya ke sudut-sudut rumah yang tidak terlalu besar ini. Masih belum berubah sejauh ingatannya. Masih terdiri tiga ruangan. Ruang tengah, dimana ia sering terkapar di lantai setelah pemukulan ayahnya; satu kamar tidur yang dulunya menjadi kamar ‘dia’; dan dapur di belakang, plus satu tangga untuk naik ke atas, juga lemari kecil di bawah tangga. Hanya sudah ada perbaikan dan juga berisi perabotan rumah tangga yang jauh lebih layak dbanding dahulu. Rumah ini tidak sekusam dan sekotor dulu lagi.
Sam masih berdiri di tempatnya, dengan memandangi lemari kecil yang masih berada di sana.
Hingga tiba-tiba di depannya seorang anak kecil tertelungkup tak berdaya di lantai dengan luka dan memar di pantat dan kakinya. Seseorang mengangkat tubuh kecilnya dengan kasar dan memasukkannya ke dalam lemari di bawah tangga itu dan menguncinya, lalu pergi dan segera kembali dengan membawa sekantung besar berisi tikus-tikus besar itu. Dimasukkannya semua binatang liar itu ke dalam lemari dan menutupnya kembali. Terdengar langsung rontaan berontak dari dalam sana. Lelaki besar itu hanya tertawa kesenangan.
Sam mendekati lemari itu dan perlahan mencoba membukanya. Tidak terkunci. Terlihat di dalamnya, anak kecil yang terluka itu dengan wajah panik ketakutan berusaha melawan serangan gigitan binatang ganas itu dan melindungi tubuhnya dari gigitan mereka. Dia sangat takut pada mereka. Kalau ia bisa berteriak, dia akan berteriak sekeras-kerasnya. Tapi ia tidak pernah lagi berani mengeluarkan suaranya.
Sam memejamkan mata erat-erat, tidak ingin mengingatnya lagi.
“Sam, kau tidak apa-apa?” teguran halus Gabriel dan tepukan pelan di pundak, menyadarkan Sam, dan sekali lagi menghilangkan pemandangan itu dari matanya.
“Ya, aku tidak apa-apa,” dan menerima ajakan Gabriel untuk duduk.
Lisa melihat kepucatan di wajah Sam. ‘Lemari itu menjadi mimpi buruk untuknya.’ Ia dapat merasakannya. Dia segera ke belakang untuk mengambilkan minuman.
Sam masih terlihat memperhatikan sudut-sudut rumah ini dengan tidak nyaman, saat Lisa kembali dengan membawa minuman. Rumah ini menjadi sesuatu yang menakutkan baginya.
“Aku tahu rumah ini terlalu banyak kenangan buruk untukmu, Sam. Tapi Dean tidak ingin menjualnya, bahkan setelah ayahmu meninggal.”
Sam terkatup teringat, “Dean tidak pernah memberitahu meninggalnya ‘dia’.”
Ucapan Sam cukup mengagetkan Lisa, “Benarkah? Dean tidak pernah memberitahumu?”
Sam menggeleng lirih.
“Mungkin dia tidak ingin kau mengingat kembali padanya. Dia takut bila harus menyakiti kamu lagi dengan mengingat orang itu. Dia hanya ingin melindungi perasaanmu, Sam.”
“Ya, saya tahu.”
Lisa tersenyum tipis, “Dean memaksa untuk tetap tinggal di sini, agar selalu dapat melihat kamu. Dia melihat wajahmu di setiap sudut rumah ini. Dia tidak ingin meninggalkanmu. Cukup sekali dia meninggalkanmu dulu.”
Sam hanya tersenyum. Perasaan haru kembali menyergap, ‘Dean masih menyayangiku.’
“Di mana Dean?” baru kali ini Sam menanyakannya.
“Oh, dia mungkin masih berada di pabrik. Tunggulah sebentar, dia akan segera kembali. Sementara aku membuat makan malam yang istimewa, kau mungkin bisa bermain dengan Sam.”
“Tentu,” dengan melihat Sam kecil sudah berada di kotak bermainnya.
Dihampirinya bayi kecil itu dan digendongnya. Dia tersenyum padanya! Perasaan Sam menjadi campur aduk. ‘Keponakanku.’
Gabriel ikut di samping Sam. Digenggamnya tangan Sam dan dibalas dengan sangat erat. Gabriel tahu apa yang dirasakan Sam.
“Kamu berhasil, Sam.”
Sam hanya mengangguk penuh kelegaan.
*
Dean masih memandangi lautan di depan sana. Hari mulai petang, ia pun ragu dengan keyakinannya. Bodohnya meyakini Sam pulang. Mungkin dia sudah melupakannya. Lupa dengan kampung halamannya, dan melupakan kenangan buruknya di sini. Sam tidak mungkin pulang.
Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum ia beranjak meninggalkan pelabuhan.
‘Kapanpun kau ingin pulang, Sam, aku akan selalu menunggumu. Di sini.’
Dengan langkah santai Dean berjalan pulang, membayangkan wajah Sam kecil yang akan menyambutnya dengan wajah cerianya, bukan wajah kesakitan Sam di dalam lemari.
*
“Sebentar lagi Dean pasti pulang,” ucap Lisa pasti. “Hey, kau sudah tidur rupanya,” alihnya dengan tersenyum pada Sam kecil yang tertidur pulas di pangkuan pamannya. “Mari sini, biar kupindahkan ke kamarnya,” seraya memintanya dari Sam.
“Dia menyukaiku,” Sam penuh kebanggaan.
“Tentu. Dia tahu siapa pamannya,” Lisa tersenyum menggoda membawa Sam kecil ke kamar membuat Sam semakin bangga.
“Aku pulang!” seruan hangat dari arah pintu bersamaan dengan sosok pria masuk ke dalam.
Jantung Sam serasa berhenti melihatnya, begitu juga dengan pria itu yang terpaku melihatnya. Tentu dia terpaku dengan kehadiran dua pria tak dikenal di rumahnya.
Tapi pandangan pria itu hanya terpaku pada Sam, tidak pada Gabriel.
“Dean?” Lisa memastikan kepulangan suaminya, dan melihat suaminya sudah berhadapan terpaku dengan Sam.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar