Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 19

Brother's Love

Chapter 19

Dean duduk di kursi kesayangannya dengan sebuah buku di tangannya. Sudah lebih dari satu jam ia membaca buku tersebut selepas menidurkan Sammy. Jam di dinding pun telah menujukkan pukul 11 malam. Tangannya meremas kuat buku tersebut untuk mengendalikan emosinya, sementara air mata yang perlahan menetes di pipi tak kunjung mereda. Hatinya sangat hancur dan perih. Dia tidak menyangka anak ini sangat menderita, lebih dari yang ia saksikan sendiri. Kalau ada yang bisa ia lakukan untuk melindungi bocah malang di dalam cerita ini, tentu akan ia lakukan, dan ia sudah melakukannya. Dia bersumpah, sudah berusaha melakukannya. Dia sudah melakukan yang terbaik untuk anak ini. Tapi apa yang dapat ia lakukan pada saat itu? Dirinya hanyalah anak umur 13 tahun yang juga takut dengan orang jahat ini. Dirinya pun harus bekerja, meninggalkan anak ini di rumah bersama ‘dia’, dan membuat hidup anak ini bak di neraka. Tapi dia bersumpah, dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya, meski itu harus melepas dia. Dan Dean melakukannya!

“Betapa kau sudah sangat menderita, Sam. Kalau saja aku dapat mengambil tempatmu,” Dean mengusap air matanya. Buku yang ia baca adalah buku karya adiknya, Sam. Meski sam sudah mengganti nama tokoh, tetap Dean dapat mengenali tokoh malang yang di dalam buku adalah Sam sendiri.

Dean tidak pernah menyangka Sam akan sangat berani menceritakan kisah hidupnya, dan ia baru mengetahuinya secara keseluruhan setelah membacanya. Semua perlakuan yang dilakukan ayahnya pada Sam tertulis dengan gamblang di sana. Dean tidak akan mengetahuinya kalau Sam tidak menulisnya, karena bagaimana mungkin Dean mengetahuinya kalau Sam tidak bisa berbicara dulu. Dean hanya mendapatkan luka-luka di seluruh tubuh Sam tanpa tahu dari mana saja luka-luka tersebut. Yang ia tahu hanyalah ayahnya memukul sam dengan sabuk tuanya yang keras, ganggang sapu dan sundutan rokok, tidak lebih. Dean tidak tahu ada jepitan jari pintu, atau menyundutkan rokok di daerah sensitif Sam, dan yang terparah, ayahnya melecehkan Sam secara sexual. Dean tidak mengetahuinya. Dan sekarang ia dihantui rasa bersalah, karena tidak mengetahuinya. Kalau saja ia tahu, tentu ia akan sekuat tenaga melawannya, bahkan menggantikan tempat Sam. Tapi ayahnya tidak pernah tertarik pada Dean, dia hanya tertarik pada Sam. Ayahnya sangat membenci Sam,Dean tahu itu. Dan Dean sudah merencanakan untuk membawa Sam keluar dari rumah. Ia sudah menabung dengan sekuat tenaga. Ia hanya bekerja untuk Sam. Dia sudah melakukan semuanya untuk Sam, meski itu harus melepas Sam untuk pergi bersama keluarga itu. Keluarga yang ia percayai dapat memberikan Sam hidup yang lebih baik dan normal, dan satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan Sam dari ‘dia’.

Melepaskan Sam adalah hal yang terberat yang Dean lakukan, dan dia berharap tidak pernah melakukannya. Rasa berat kehilangan adik satu-satunya yang sangat ia sayangi melebihi apapun terlalu besar. Ia masih ingat rasa sesak membuatnya hampir tak dapat bernafas saat melihat kapal besar itu membawa Sam pergi bersama keluarga itu, terlebih setelah mendengar suara lamat-lamat Sam yang sudah 4 tahun tidak ia dengar. Sam meneriakkan namanya! Ingin rasanya ia berlari mengejar kapal itu dan berteriak ‘Sam, jangan pergi!’ tapi ia tahu sudah tidak mungkin ia lakukan, dan ia harus melepaskan Sam untuk menyelamatkannya. Dean sudah memilih ayahnya yang jahat di atas Sam. Meski ia tahu,dengan tidak adanya Sam, dirinya yang akan menjadi pengganti dari perlakuan sadis ayahnya. Tapi itu keputusan bulat yang sudah ia ambil 12 tahun yang lalu untuk Sam. Terkadang ia berpikir untuk tidak pernah melakukannya, tapi dengan melihat Sam yang sekarang, Dean yakin itulah keputusan terbaik yang pernah ia buat untuk adik tercintanya. Keputusannya telah memberikan kehidupan baru untuk Sam yang jauh lebih baik. Keluarga yang hebat yang begitu menyayanginya, dan pendidikan yang baik. Dean bahagianya setengah mati mendapatkan surat pertama dari Sam yang hanya tertulis tiga huruf S.A.M yang ditulis tangan oleh Sam sendiri, yang artinya Sam siap bersekolah. Kini Sam dapat bersekolah di manapun yang Sam inginkan karena kecerdasaannya. Dean tahu Sam anak yang cerdas, dan dia berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dean dapat tersenyum sekarang, Sam telah menjadi orang yang hebat, penulis terkenal, dan pemuda terpelajar. Sam kini sangat jauh dengan Sam kecil dulu. Sam sudah berubah, dan itu membuat Dean sangat lega dan sangat bersyukur. Sam sudah tidak lagi membutuhkannya.

Kini Sam sudah memiliki keluarga yang hebat, bukan dirinya. Sam sudah memiliki kehidupan baru yang baik, tak perlu lagi diganggu dengan masa lalunya, termasuk kakaknya, yang yang hanya mengingatkan dia akan masa kecilnya yang buruk. Dean tidak mau Sam teringat kembali. Sudah cukup Sam memikulnya. Sam tidak butuh apapun dari masa lalu, begitu juga dengan kakaknya di sini. Dean harus meninggalkannya dan membiarkan Sam hidup dalam kehidupan barunya. Dean pun memutuskan untuk tidak lagi membalas ataupun menulis surat pada Sam. Dean harus memutuskan komunikasi. Memang sangat berat, tapi ia harus melakukannya, untuk kebaikan Sam. Dean akan melakukan apapun untuk Sam. Dan lebih baik kalau mereka menjalankan kehidupan masing-masing dan tidak saling bersinggungan lagi. Dean sudah memiliki kehidupan lain selepas Sam pergi.

Banyak yang sudah terjadi selepas Sam pergi. Dengan tidak adanya Sam, Dean menggantikan posisi Sam, menjadi bulan-bulanan ayahnya yang semakin tidak terkendali emosi dan amarahnya, terlebih dengan dia tak lagi sempurna. Percayalah, meski sudah tak lagi dapat berjalan dengan benar, ayahnya masih bisa mengayunkan sabuk dan sapu ke tubuh Dean, dan tenaganya masih sangat kuat untuk menahan tubuhh ringkih Dean dari berontak. Dean menerima hampir tiap hari pukulan dan dan cambukan dari ayahnya, meski tidak separah saat ia masih sehat dulu. Dean pun masih bekerja di pelabuhan. Tapi Dean kuat, dan dengan bertambahnya umur, Dean semakin kuat. Dia menjadi tangan kanan Tuan Singer dan dipercaya untuk mengurusi urusan pengiriman barang. Tak diragukan lagi Tuan Singer sangat menyukai Dean, dan sudah melihatnya seperti putranya sendiri yang tidak ia miliki. Tn. Singer seperti menjadi ayah kedua bagi Dean dan mendapatkan kasih sayang ayah dan ibu dari Tn. dan Ny Singer. Hanya Tn. Singer terlambat menyadari, Samlah yang sebenarnya membutuhkan kasih sayang itu, bukan Dean. Jadi sebenarnya tidak terlalu buruk kehidupan selepas Sam pergi, selain harus tersiksa dengan rasa kehilangan Sam.

Hidup tanpa Sam adalah siksaan. Ia sangat mencintai adiknya, dan selalu ada di samping adiknya, dan saat adiknya tidak ada, menjadi siksaan yang terberat untuknya. Dean selalu memimpikan sam. Dean sangat merindukan Sam. Tapi ia yakin ini keputusan yang terbaik dan tidak akan menyesalinya. Kehidupan Sam sudah jauh di atas dirinya dan Dean tidak perlu masuk menjadi bagian dari kehidupan adiknya yang baru. Dean harus mundur dan membiarkan Sam hidup dengan tenang. Dean hanya ingin membuat Sam bahagia, dan dia yakin Sam akan bahagia tanpa dirinya.

***

Gabriel masih meragukan niat Sam untuk pulang ke Amerika. Banyak yang ia pertimbangkan jika Sam pulang dan tidak akan mudah Sam untuk menghadapinya. Sam tidak hanya akan bertemu Dean kakaknya, tapi juga ayahnya, orang yang sudah menciptakan neraka untuk Sam yang harus dilaluinya selama 9 tahun. Dan Sam tidak menyadari itu. Dia hanya terkatup pucat saat Gabriel menyinggungnya.

“Kau belum siap bertemu dengan ‘dia’, Sam.”

“Tapi aku tidak menemui ‘dia’ Gabs, aku menemui Dean!”

“Dan Dean masih tinggal bersama ‘dia’, kau juga tahu itu. Kau akan bertemua dengan ‘dia’ lagi!”

“Pulang ke Amerika akan mengembalikan semua kenangan burukmu. Di rumah itu kau menghabiskan hidupmu penuh siksaan, Sam. Kau sudah siap dengan itu semua?”

Sam semakin pucat dengan ucapan Gabriel. Matanya memandang nanar kakaknya, lalu tersenyum tipis,

“Kau tidak ingin aku pulang, kan, Gab? Kau tidak ingin aku bertemu lagi dengan Dean. Kau cemburu kan, kalau aku bertemu lagi dengan Dean, dan kau akan kehilangan aku sebagai adikmu? Kau tidak bisa menghalangiku, Gab,”

Ucapan Sam membuat Gabriel ternganga dan pening. “Bukan, Sam. Aku tidak akan menghalangimu bertemu dengan kakakmu, demi tuhan, dia kakak kandungmu yang sangat kamu cintai, jadi mana mungkin aku berani menghalangimu. Meski kalaupun aku cemburu, aku tidak akan bisa menggantikan posisi dia sebagai kakak terbaik di hati kamu sekuat apapun aku mencobanya. Tapi ingat, Sam, Dean masih tinggal bersama ‘dia’, laki-laki yang sudah menyakitimu. Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi, Sam, hanya itu, tidak lebih. Aku benci kalau melihatmu terluka,” Gabriel menelan ludah perih.

Sam terkatup mendengarnya. Dia tahu Gabriel menyayanginya seperti kakak sendiri, tapi tak pernah menyangka sebesar ini.

“Maafkan aku, Gab,” Sam penuh sesal.

Gabrile mengangguk.

“Tapi jangan takut, aku kuat sekarang. Aku siap bertemu dengannya lagi. Aku hanya ingin bertemu Dean. Aku butuh dia. Aku sangat merindukannya. Aku harus menemuinya, Gab,” suara Sam terdengar sangat memohon. “Itu tidak akan melukaiku, ‘dia’ tidak akan bisa melukaiku lagi sekarang.’

Gabriel memandang keyakinan besar di mata Sam, dan ia tahu tidak ada yang bisa menggoyahkan mata itu. Ia menghela nafas, dan mengangguk,

“Aku akan menemanimu.”

Senyum Sam merekah memunculkan lesung pipitnya. Gabriel tidak kuat melihatnya.

“Terima kasih, Gab, kupikir aku harus memohon padamu.”

Gabriel tersenyum tipis, “Kalaupun aku tidak berniat pergi, akankan Ibu membiarkan kau pergi sendiri?”

Sam tersenyum kulum. “Aku sudah besar sekarang.”

“Tapi tidak di mata Ayah dan Ibu. Kau masih dianggap bayi oleh mereka.’

Sam tersenyum malu. “Yeah”

“Tapi jangan minta aku membujuk mereka kalau mereka tidak setuju kau pergi.”

Sam sempat memprotes, tapi terhentikan dengan tangan Gabriel yang tidak mau dibantah.

“Baiklah, akan kulakukan sendiri,” lanjut Sam pasrah.

Gabriel harus tersenyum geli. Meski ia tahu ayah-ibu pasti akan mengabulkan permintaan Sam, meski dengan berat hati.

“Terima kasih, Gab.”

Gabriel hanya mengangguk dengan tersenyum.

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar