And the next chapter ... 20 ....
ENJOY!!!!
Brother's Love
Chapter 20
Tentu ayah ibu angkatnya sangat terkejut dengan rencana kepulangan Sam. Mereka ingin mencegahnya, mareka sangat mengkhawatirkan perasaan dan emosi Sam, tapi tetap Sam meyakinkan merek bahwa dirinya kiat untuk menghadapi semua kemungkinan yang akan ia hadapi nanti di sana. Dan merekapun tidak bisa menghalanginya, bahkan bersikap mendukung, walau tetap masih ada kekhawatiran tersebut.
“Kau masih tetap ingin pergi, nak?” Catherine memastikan kembali saat Sam berpamitan.
“Iya, Bu. Saya harus pulang. Dean sudah menunggu saya.”
“Dan kau akan menetap di sana?”
“Saya belum tahu, bu. Saya pun belum tahu, bagaimana saya nanti di sana. Apakah akan kembali bertemu dengan Dean atau tidak. Kami sudah hilang kontak sejak tiga tahun ini. Dia tidak pernah lagi membalas surat-surat saya. Dan bila saya tidak dapat bertemu dengannya, kami akan segera kembali.”
Catherine tersenyum dengan lega.
“Tenang, ada aku yang menjaganya,” Gabriel menyela dengan renyah.
Catherine harus mengangguk dengan tersenyum.
“Ibu hanya mengkhawatirkanmu, Sam.”
“Jangan khawatir, saya akan baik-baik saja, bu.”
Catherine hanya mengangguk pasrah.
“Kapan kalian akan pergi?”
“Dalam beberapa hari.”
Catherine menghela nafas dengan memandangi Sam. Tidak percaya secepat ini ia akan melihat kepergian Sam. Waktu 12 tahun memang tidak berlalu sekejap mata. Tapi sepertinya baru kemarin, dia membawa Sam kecil yang rapuh, tidak dapat menulis dan tidak mau berbicara, yang merasa tidak memiliki siapa-siapa tanpa kakaknya, dengan trauma fisik dan mental, dengan setiap malam terbangun histeris karena mimpi buruk. Tapi kini Sam sudah akan pergi lagi, untuk pulang ke tanah Amerika, tanah kelahirannya, untuk bertemu kakaknya. Catherine tak dapat menolaknya. Sam bukan miliknya sepenuhnya, dan lagi Sam kini bukanlah Sam yang dulu. Sam kini telah menjadi pemuda terpelajar dengan tutur bahasa dan perilakunya yang sopan. Kemampuan menulisnya sudah menghasilkan karya-karya yang terkenal dan digemari banyak orang. Sam telah menjadi sosok yang berbeda dari Sam kecil dulu. Dan Catherine semakin mencintai dan menyayanginya.
Dipeluknya Sam dengan erat, dan mengecupnya.
“Terima kasih untuk semuanya,” ucapnya dengan tulus.
Catherine hanya tersenyum, “Ibu sangat menyayangimu, Sam.”
“Saya juga, bu.” Tidak dapat digambarkan kebahagiaan Sam, mendapatkan Ny. Catherine Sullivan sebagai ibu pengganti. Gambaran tentang ibu yang selalu ia bayangkan di kepala setelah mama tidak ada, benar-benar terwujud. Ibu yang baik, penuh sayang, lembut dan halus.
*
“Winchester!!!”
Dean segera menengok dengan seruan keras dari belakang yang sepertinya sudah mengiringi hidupnya. Terlihat Castiel tergopoh-gopoh mengejarnya.
“Kamu gimana, dipanggil dari tadi tidak dengar,” sungutnya.
“Maaf, sedang banyak pikiran,” Dean hanya tersenyum tipis.
“Bagaimana tidak jadi pikiran, kalau pesanan untuk minggu depan, belum juga dikirim. Besok harus segera dikirim, Dean,”
“Kayaknya belum bisa. Cuacanya semakin buruk. Akan ada badai minggu ini. Barang tidak akan sampai dengan selamat.”
“Tapi mereka minta barang sudah diterima Kamis depan.”
“Aku lebih memilih menunda pengiriman daripada barang tidak selamat,” sahut Dean dengan tegas.
Castiel menghela nafas, “Ok, terserah kau, boss.”
Dean tak menyahut lagi. Ia yakin yang dilakukannya benar. Ia bertanggung jawab dengan nama baik perusahaannya yang selalu mementingkan mutu barang dan juga keselamatan barang saat pengiriman. Perusahaan yang diberikan Tn. Singer untuk diteruskan olehnya.
Kebaikan Tn. dan Ny. Singer membuat Dean sudah menganggap mereka seperti orangtuanya sendiri, bahkan sebagai ayah kedua untuknya. Terlebih setelah ayahnya meninggal dengan tiba-tiba, sepenuhnya Dean mengabdi pada Tn. Singer. Kini, walau Dean masih menempati rumah ayahnya bersama istri dan anaknya, Dean masih sering mengunjungi Ny. Singer yang mulai kesepian setelah suaminya meninggal karena penyakit akut yang sudah lama diidapnya dua tahun lalu.
Banyak yang berubah sejak kepergian Sam, seperti Sam yang telah banyak berubah. Sam… ‘Kapan kita bisa bertemu lagi, Sam?’
“Hey, melamun lagi,” senggolan Castiel menyadarkannya.
Dean hanya tersenyum tipis.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Dean tidak perlu menjawabnya.
*
“Kau sudah siap?” Gabriel dengan halus menjelang keberangkatan mereka.
Sam kembali tercenung. Dean pun mengucapkan kalimat ini sebelum ia pergi, 12 tahun yang lalu.
Sam menarik nafas dalam-dalam. Dia sangat siap, bahkan dia tidak sabar lagi untuk segera dapat menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.
Anggukan mantap disertai senyuman Sam, meyakinkan Gabriel Sam ingin segera pulang.
“Kita pergi sekarang?”
Sam mengangguk pasti. Didekapnya erat buku yang ia bawa. Buku yang akan ia persembahkan untuk Dean. Buku yang tidak pernah ia publikasikan.
Tn. dan Ny. Sullivan, mengantarkan mereka sampai pelabuhan. Semua mengingatkan Sam kembali pada saat ia akan pergi dulu. Saat Dean masih bersamanya. Dean yang telah membohonginya, Dean yang telah meninggalkannya, dan Dean yang telah membuat hidupnya berubah bersama Kel. Sullivan
“Jaga dirimu baik-baik, nak. Kirim kabar jika kau sudah sampai di sana, juga jika kau sudah bertemu dengan kakakmu. Sampaikan salam kami padanya. Kami sangat merindukan dia.”
“Baik, Bu, akan saya sampaikan.”
Catherine menghela nafas berat, sama beratnya saat Dean memutuskan untuk tidak ikut bersama mereka.
Sam memeluk erat Ibu angkatnya, juga Ayah angkatnya.
“Jaga Sam, Gab,” pesan Peter pada putranya
“Pasti, Yah!” Gabriel mengangguk.
Hingga terdengar peluit panjang dari kapal, memberi-tahukan kapal akan segera berangkat. Sam dan Gabriel, segera naik, dan mereka pun sudah berada di atas balkon, hingga kapal benar-benar membawa mereka pergi menuju tanah Amerika.
TBC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar