Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 24

So you not on cliffhanger too long ... ENJOY!!!

Brother's Love

Bagian 24

Semakin berdetak kencang, saat ia membuka pintu toko itu dan langsung membawa Sam ke pada saat itu.

‘Ini toko buku di mana aku mendapatkan buku cerita dengan cuma-cuma. Pemiliknya yang memberikan buku itu padaku. Dia menyukaiku.’

Ia masih ingat judul bukunya, ‘Oliver Twist’, dan segera mencari buku tersebut. Mungkin ia masih menjualnya.

Tidak ada. Buku itu sudah tidak lagi dijual. Ada perasaan sesal di hati. Ia tak sempat membacanya hingga selesai. ‘Di manakah buku itu sekarang? Aku kehilangannya setelah ‘dia’ membuatku tak sadarkan diri dengan pukulannya. Terakhir kalinya dia memukulku.’ Merinding Sam mengingatnya.

“Aku dan Dean pernah datang kemari. Aku tertarik dengan buku yang dipajang di etalase itu. Aku menginginkannya.”

“Dan kau berhasil memilikinya?”

Sam mengangguk tersenyum, “Pemilik toko ini sendiri yang memberikannya padaku secara cuma-cuma,” kemudian melayangkan pandangannya pada seseorang di balik meja kasir.

“Dia yang memberikannya,” ucapnya yakin dengan sosok wanita tua yang berdiri di belakang meja yang sedang melayani pelanggan dengan ramah. Sam tidak mungkin melupakan wajah wanita baik itu. ‘Siapa namanya? T…Tuck? Ya! Ny. Tuck!’ Dia ingat Dean memanggilnya Ny. Tuck.

“Di mana buku itu sekarang?”

“Entahlah. Hilang.”

Gabriel tak menyahut lagi.

Dengan berdebar, Sam menghampiri wanita itu setelah ia melayani pelanggannya.

“Selamat siang,” Sam menyapanya dengan sopan.

“Selamat siang, Anak Muda, ada yang bisa saya bantu?”

Suara ini tidak mungkin Sam lupa. Semua yang bersikap baik dan hangat padanya tidak akan terlupakan olehnya.

“Saya mencari buku Sam Sullivan yang terbaru, apakah sudah ada?”

Ny. Tuck menyambutnya dengan senyuman, “Kebetulan, baru saja datang lagi. Kami selalu kehabisan,” seraya mengambil salah satu buku di antara tumpukan buku baru, dan menyerahkannya. “Ini buku bagus, semua orang menyukainya. Ceritanya sangat menyentuh,” dengan sedikit menerangkan.

Sam hanya tersenyum. ‘Tentu, itu semua cerita tentang diriku sendiri.’

“Saya ambil satu.”

Ny. Tuck mengangguk, dan menghitungnya di mesin kasir.

Sam segera membayarnya.

Sesaat Ny. Tuck memperhatikannya, “Maaf, apa Anda pendatang? Saya belum pernah melihat Anda, tapi wajah Anda sepertinya tidak asing.”

Jantung Sam semakin tidak karuan. “Ya, saya memang baru datang kemarin.”

“Untuk urusan bisnis?”

“Bukan. Untuk pulang dan mencari saudara lama.”

Ny. Tuck tertegun, “Mencari?”

“Ya, kakak saya. Kami sudah berpisah lebih dari 10 tahun, dan sekarang saya sedang mencarinya.”

“Siapa nama kakakmu, mungkin saya bisa membantu?”

Sam tersenyum, “Mudah-mudahan Anda masih mengingatnya, Nyonya. Winchester, Dean Winchester.”

Seketika itu juga Ny. Tuck terpaku, dan lebih lekat memandang Sam, seperti yang memastikan dengan tidak percaya.

“Kau…?”

Sam mengangguk dengan tersenyum, “Ya, Nyonya, saya Sam.”

“Ya Tuhan, Sam!” mata Ny. Tuck mulai berkaca-kaca. “Kau sudah kembali, nak? Aku sangat terkejut saat mendengar kau pergi bersama keluarga itu. Dan kau pun kini sudah dapat berbicara,” setengah takjub.

Sam langsung tersipu merah. Dia masih mengingatnya.

“Maaf,” Ny. Tuck menjadi salah tingkah. “Terakhir aku melihatmu, kau masih belum mau bicara.”

Sam hanya tersenyum dengan mengangguk.

“Keluarga itu merawatmu dengan baik, bukan?” dengan tersenyum memandang Sam kagum.

“Ya, sangat baik, Nyonya,” penuh rasa syukur di hati. “Dan ini, kakak angkat saya, Gabriel Sullivan,” Sam tidak lupa mengenalkan Gabriel, sosok yang juga berjasa untuknya.

Gabriel menjabat tangan Ny. Tuck dengan hangat.

“Dan lihatlah kau kini, sudah menjadi pemuda tampan yang gagah.”

Sam hanya bisa tersenyum.

“Dan sekarang kau telah kembali. Dean tentu senang melihatmu pulang kembali.”

“Mudah-mudahan, nyonya. Karena itu saya ingin memastikan apakah dia masih tinggal di sini?”

“Tentu dia masih tinggal di sini. Belumkah kau mencoba pergi ke rumahmu dulu? Dia masih menempati rumah ayahmu.”

Seketika itu juga jantung Sam terasa berhenti berdetak. ‘Dean masih di sana? Masih bersama ‘dia?’

“Belum, saya belum pergi ke sana. Berlalunya waktu, sedikit membuat saya lupa jalan menuju rumah,” Sam berusaha menutupi kegugupannya.

Ny. Tuck memberinya senyuman, “Wajar, sudah 12 tahun berlalu, dan saat itu kau masih sangat kecil, bukan?”

“Ya, Nyonya.”

Ny. Tuck kembali tersenyum.

“Dia masih di sini, menempati rumah kalian. Mungkin satu-satunya peninggalan John yang tersisa. Tentu kau tahu ketika ayahmu meninggal, bukan?”

Sam terpaku mendengarnya ‘Dia’ sudah meninggal?’ jantungnya benar-benar berhenti. Diliriknya Gabriel yang sama-sama terpakunya.

Ny. Tuck, menangkap keterpakuan dan kepucatan Sam, “Kau tidak tahu?”

Sam menggeleng lirih, “Dean tidak pernah memberitahukannya.”

Membuat Ny. Tuck terkatup. “Oh,” menunjukkan penyesalannya. “Sudah lama, hanya berselang beberapa tahun setelah kau pergi, nak.”

Sam masih terkatup. ‘Dean tidak memberitahukanku!’

“Kasihan dia. Ayahmu hanya kesepian sejak ditinggal ibumu.”

Sam semakin terkatup, ‘Dan ‘dia’ menyalahkanku atas kepergian mama.’

“Mungkin kini dia sudah berbahagia bersama ibumu kembali.”

“Ya.”

Sam menarik nafas dalam-dalam. “Nyonya, terima kasih banyak. Mungkin saya akan segera menemui Dean.”

“Ya, temuilah dia, nak. Dia pasti sudah sangat merindukanmu.”

“Ya.”

Diliriknya Gabriel sesaat, kemudian kembali lagi pada Ny. Tuck. “Baiklah kami permisi. Sekali lagi terimakasih banyak, Nyonya.”

Ny. Tuck mengangguk, dan melihat dua pemuda itu beranjak menuju pintu.

“Sam,”

Panggilan Ny. Tuck membuatnya ia kembali menoleh, “Ya, Nyonya?”

“Senang melihatmu kembali, nak,” dengan tersenyum hangat.

“Terima kasih, Nyonya. Saya juga senang bisa kembali pulang ,” disertai senyumnya.

Di luar toko,

“ ‘Dia’ sudah meninggal, Gabriel,” dengan nanar.

“Tidakkah itu membuatmu lega? Kau tidak perlu lagi bertemu dengannya.”

Sam terdiam, dan sulit untuk menjawabnya.

“Kita ke sana sekarang,” ajaknya langsung.

“Bukankah kamu juga harus menanyakan di mana rumahmu itu?” Gabriel seakan mengingatkan apa yang terlupakan Sam. “Kamu lupa di mana letaknya, kan?”

Tapi Sam tersenyum, “Tidak lagi. Mungkin aku tidak terlalu ingat, tapi samar-samar aku bisa mengingatnya dengan menyelusuri jalan yang selalu kulewati bersama Dean bila sepulang kerja. Itu juga kalau jalannya masih belum berubah.”

“Mudah-mudahan.”

Semakin Sam menyelusuri jalan yang diingatnya menuju rumahnya dulu, semakin yakin ia akan segera menemukan rumahnya.

Hingga akhirnya ia sampai di seberang sebuah rumah kecil yang langsung membawanya pada 12 tahun yang lalu. Rumahnya dulu.

Sam segera turun dan sesaat hanya berdiri memandangi rumahnya.

Tiba-tiba seorang anak kecil keluar dari sana dengan berusaha berlari. Sam memperhatikannya dari tempat ia berdiri.

Tak lama kemudian anak itu kembali, dengan terengah-engah dan terlihat pincang membawa beberapa botol minuman besar. Ia terlihat ragu untuk masuk ke dalam. Ada wajah ketakutan yang besar di sana. Namun akhirnya ia masuk ke dalam.

Sam mengikutinya dan mencoba melihatnya dari balik kaca yang kusam

Dilihatnya anak itu menunduk ketakutan di hadapan pria besar yang kumal,

“Kenapa cuma tiga botol? Bukankah kusuruh empat botol?”

Anak kecil itu hanya diam tak menjawab.

Tiba-tiba pria itu menjambak rambut anak itu, “Jawab! Kamu ke manakan satu lagi, hah!?”

Anak itu tetap tak menjawab dengan wajah tertahan menahan sakit.

Dua kali pukulan tiba-tiba mendarat dengan keras di pipi anak itu, membuat Sam tersentak .

“Ke tembok! Lepas celana!” seraya mengambil sebuah ganggang sapu.

Anak itu segera ke tembok dan membuka celananya, dan segera menerima hukumannya. Dia tidak berteriak kesakitan dan tidak menangis.

Sam tak kuat melihatnya lagi. Kakinya lemas, dadanya sesak tak dapat bernafas.

“Sam..?” suara Gabriel yang halus bernada cemas masuk ke telinganya, dan langsung menghilangkan pemandangan mengerikan di balik kaca itu.

“Aku tak sengaja memecahkan satu botolnya. Tanganku tidak kuat membawa empat botol bir besar itu. Satu terlepas, dan pecah. Seharusnya aku lebih kuat memegangnya!” penuh sesal.

“Shss… sudah Sam, itu sudah berlalu, jangan diingat lagi. Dia sudah tidak ada.”

Sam masih terpaku dengan pemandangan tadi. Pemandangan dirinya dulu.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?” Keduanya dikagetkan dengan teguran halus dari samping mereka. Seorang wanita cantik dengan membawa barang belanjaan, bersama seorang bayi berusia beberapa bulan.

Sam segera tersadar, “Oh, ya, apakah benar ini rumah Tn. Winchester?”

“Ya, benar.”

Tidak terlalu kaget Sam mengetahui keyakinannya akan rumah ini sebagai rumahnya dulu.

“Maaf, Anda siapa, ya?”

“Saya…,” ragu Sam melirik Gabriel sesaat, tapi Gabriel mengangguk yakin. “Saya, Sam, adiknya.”

Bruk!

TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar