Kamis, 28 Oktober 2010

BEAUTY LOVE BROTHER - 21

Yes, aku tahu chapter sebelumnya terasa pendek, karena itu aku akan membayarnya dengan ini. I'm in the good mood!!!! *grining

SO ENJOY Hope you like it!!!!

Brother's Love

Chapter 21

“Winchester!!!”

Dean hanya menoleh sekilas, dan melihat seperti biasa Castiel tergopoh-gopoh mengejarnya.

“Katamu, barang belum bisa dikirim?” Castiel meminta kepastian.

“Memang belum”

“Lalu kenapa barang itu sudah terdaftar di pintu pelabuhah, tersegel dan siap untuk dikirimkan? Kapal akan berangkat dalam beberapa menit lagi.”

“Apa!? Bodoh!” secepat kilat Dean menuju pelabuhan.

Bersama Castiel, Dean berusaha mengejar kapal yang membawa barang mereka, sebelum diberangkatkan.

Sesampai di sana, mereka mendapati, salah satu pegawainya sedang mengawasi keberangkatan kapal.

Dean hampir saja lepas emosi dengan kecerobohan pegawainya ini yang nekat mengirimkan barang, walau tidak mendapat persetujuan darinya. Dia justru meyakini tidak akan ada badai, dan bila pun ada, barang akan sampai duluan sebelum badai menerjang. Dean sampai pusing mempunyai pegawai yang bodoh dan ceroboh seperti ini.

“Kamu dipecat!” putus Dean setelah berhasil menurunkan kembali barang dari kapal.

“Tapi, Tuan…?”

“Kamu sudah bertindak ceroboh, bodoh, dan sangat kurang ajar, melakukan sesuatu di luar wewenang kamu!”

Dengan begitu pegawai itu hanya menunduk dan menerima pemecatan dirinya.

Castiel hanya memperhatikan sahabatnya yang sangat tegas.

Dean menarik nafas dalam-dalam menenangkan kepalanya dan hatinya.

“Katakan, Castiel, aku tidak bertindak keterlaluan, bukan?”

Castiel memberinya senyuman, “Tentu tidak, teman. Kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan. Semuanya sudah kamu pikirkan. Kamu selalu memikirkan semuanya terlebih dahulu sebelum bertindak dan mengambil keputusan. Kamu selalu tahu apa yang kamu lakukan.”

Dean terpekur. Membenarnya ucapan sahabatnya. Apa yang ia lakukan selalu sudah ia pikirkan baik-baik, dan selalu menjadi keputusan yang terbaik, termasuk melepaskan Sam dari pelukannya.

‘Sam…’

Seperti yang sudah diperkirakan Dean, keesokan harinya badai menerjang dengan kuatnya, dan hampir melumpuhkan aktifitas masyarakat sekitar. Mereka harus berlindung di rumah masing-masing.

Gemuruh kilat dan hujan lebat bersahut-sahutan, diikuti kuatnya angin, terdengar mengerikan dari luar rumah. Namun kehangatan rumah dan keluarga membuat orang yang ada di dalamnya terasa nyaman. Dean cukup lega, telah mengambil keputusan yang tepat, dan juga telah membawa keluarganya untuk menemani ibu angkatnya.

“Bagaimana Sam? Dia sudah bisa tidur lagi?” tanya Lisa saat suaminya kembali ke kamar setelah menidurkan Sam yang terbangun karena suara badai.

“Sudah. Kunina-bobokan dia, dan kubacakan dia buku sebentar.”

Lisa tersenyum melihat buku yang dibawa suaminya. Buku yang selalu ia bawa. Terlebih saat dimasukkannya buku tersebut ke dalam bawah bantalnya. Lisa tahu buku apa itu.

“Selamat malam sayang,” dikecupnya kening istrinya.

“Selamat malam. Tidur yang nyenyak,” dengan tersenyum dan kecupan di bibirnya.

Dean hanya mengangguk. Entah, dia akan bermimpi Sam lagi atau tidak.

*

Jauh di tengah laut saat, sebuah kapal terombang-ambing oleh ganasnya badai laut.

Sam terbangun dengan goncangan kuat yang membuatnya tidak bisa tidur. Perutnya terasa mual, terkocok-kocok.

“Hey, Sam?” suara Gabriel menyambutnya.

“Gabriel?” Tapi dia tak dapat menahan lagi. Segera ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

“Sam, kamu tidak apa-apa?” Gabriel sudah bersimpuh di sampingnya.

“Tidak, aku tidak apa-apa, aku hanya mual,” dengan berusaha menarik nafas.

“Mabuk laut?” seraya mengusap-usap punggung adiknya.

“Mungkin.” Sam sendiri tidak yakin. Dia belum pernah mabuk laut sebelumnya.

Gabriel masih mengusap-usap punggung Sam, hingga Sam sedikit lebih enak.

“Apa kapalnya berhenti?” tanya Sam terheran.

“Ya. Kapal terpaksa berhenti karena badai terlalu besar. Berbahaya kalau memaksakan untuk tetap melaju.”

“Apakah kita akan selamat?” wajahnya menjadi pucat.

Gabriel harus tersenyum geli, “Tentu. Badai akan segera berlalu dan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat.”

Sam segera menarik nafas lega, “Oh, syukurlah.”

Gabriel semakin tersenyum geli, dengan tetap mengusap-usap punggung Sam. Hingga Sam bangkit.

“Bagaimana sekarang?”

“Ya, sudah agak lebih baik. Terimakasih,” tersirat malu di wajah Sam.

“Goncangan kapal yang kuat membuatmu mabuk laut. Wajar Sam,” dengan senyuman hangat.

Sam hanya mengangguk.

Gabriel menyuruhnya duduk di sofa, sementara dia mengambilkan minuman hangat untuk mengurangi rasa mualnya.

“Terimakasih,” Sam menerima gelas yang diberikan Gabriel, dan meminumnya.

“Jangan takut, kita akan baik-baik.”

Sam hanya mengangguk, “Aku hanya takut kita tidak akan sampai dengan selamat.”

Tapi Gabriel menggeleng, “Tenanglah, kita akan selamat.

Duk…Duk… “Permisi, Tuan, pelayanan kamar!”

Gabriel terjaga dengan seseorang yang mengetuk pintu kamar.

“Permisi, Tuan, pelayanan kamar!”

Diliriknya Sam yang masih tertidur di sofa . “Ya, sebentar,” sahutnya dan segera membuka pintu.

“Selamat malam, Tuan, maaf mengganggu.”

“Ya?”

“Mohon Anda memakai ini,” seraya memberikan dua buah pelampung, membuat Gabriel curiga.

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Tidak ada apa-apa Tuan. Hanya berjaga-jaga.”

‘Berjaga-jaga?’ Gabriel penuh keheranan.

“Apakah ada kerusakan pada kapal? Kita akan tenggelam?”

“Saya tidak tahu, Tuan. Tugas saya hanya memastikan semua penumpang memakai ini untuk berjaga-jaga. Permisi,” dan segera pergi dari hadapan Gabriel.

‘Sial!’

‘Apa yang tengah terjadi? Apa kita akan tenggelam, di tengah badai di malam buta seperti ini?’

‘Ya Tuhan tolong kami.’

Entah dari mana, Gabriel memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Dengan terpaksa, ia meninggalkan Sam sendirian di dalam kamar.

Gabriel turun ke dek kapal dengan menyelusuri lorong-lorong sempit. Hingga saat ia sampai di dek paling bawah. Air sudah menggenangi lantai. Itu artinya lambung kapal sudah penuh dengan air. Juga dilihatnya sebuah kapal barang yang besar tak jauh dari sana. Ia menyimpulkan, mereka pasti baru saja bertabrakan, dan menyebabkan kerusakan.

Ia segera tersadar dengan kakinya yang dingin. Dilihatnya air yang sudah menggenangi kakinya hingga mata kaki, semakin tinggi. Para penumpang mulai terlihat dikeluarkan untuk evakuasi. “Sam!!”

Secepat kilat ia kembali ke kamar, dan langsung menarik nafas lega. Sam masih tertidur di sofanya, tidak terganggu dengan kegaduhan di luar sana.

“Sam, bangun!”

“Huh?” mata kecil Sam terbuka perlahan. “Ada apa?”

“Sam, kamu harus pakai ini,” dan langsung memakainya pada Sam.

“Apa ini?” Sam masih kebingungan.

“Hanya untuk berjaga-jaga.”

“Ini pelampung,” setelah menyadari apa yang dipakainya, juga Gabriel yang telah memakainya.

“Gabriel…?” wajah Sam langsung pucat.

“Sam, dengarkan aku. Jangan panik. Kapal kita bertabrakan dengan kapal barang, hingga merusakkan dinding lambung kapal. Air sudah masuk ke dalam kapal.”

Sam semakin pucat. “Kita akan tenggelam?”

“Tidak. Kita akan selamat.”

Serta merta Sam memeluk Gabriel dengan penuh ketakutan.

“Stss, tenang, kita akan baik-baik saja. Kapal sekoci akan membawa kita ke daratan,” dengan menarik tangan Sam keluar kamar menuju kapal sekoci.

Dek kapal atas sudah dipenuhi penumpang yang panik dan berebutan untuk menaiki sekoci di tengah derasnya hujan badai.

Muatan barang-barang dari kapal barang itu sudah tumpah ruah di atas air. ‘Ini gawat’

Gabriel mencari sekoci yang sekiranya masih kosong. Akhirnya Gabriel menemukan sebuah sekoci yang tersisa satu penumpang. Namun tertahan dengan petugas yang menghalanginya karena diprioritaskan wanita dan anak-anak.

"Dia Sam Sullivan!" seru Gabriel

Sam sempat terkaget, Gabriel menomor satukan dirinya. Dan sudah pasti begitu mendengar nama Sam Sullivan, seluruh penumpang yang ada di atas sekocil bersorak, dan langsung berusaha berebut menarik tangan Sam.

“Sam kau turun dulu!” Gabriel menyuruh Sam untuk naik ke sekoci terlebih dahulu.

"Tapi_?" Sam tak sempat menyelesaikan ucapannya, saatnya ditarik oleh penumpang lainnya. Tapi sayang, kehebohan berakibat fatal. Sam tidak dalam posisi seimbang dan akhirnya sebuah selip tangan membuatnya terjun bebas ke laut.

“SAAMM!!!” Gabriel memekik dengan paniknya, diikuti jerit panik penumpang sekoci. Tanpa berpikir panjang Gabriel langsung terjun menyusul Sam.

*

Dean hanya bisa melihat dengan geram barang-barangnya terapung-apung dia atas laut, diterpa badai besar, tanpa bisa ia berbuat sesuatu. Seharusnya barang-barang ini tidak dikirimkan sebelum badai datang. Nah, inilah akibatnya!

Matanya penuh kemarahan memandangi kotak-kotak itu. Ia akan rugi besar!

Tiba-tiba matanya menangkap dua sosok tersangkut di salah satu kotak barang itu. Sulit untuk melihat siapa mereka. Tapi mengapa insting Dean mengatakan ia mengenalnya? Diperhatikannya sedikit lebih jelas.

“Sam?”

Hampir pingsan Dean meyakini salah satu dari orang yang hanyut itu adalah Sam, adiknya yang sudah 12 tahun tidak bertemu. Wajah kecil itu tidak mungkin ia lupakan. Wajah Sam.

“Ada orang di bawah sana!!! Cepat tolong mereka!!!!” pekik Dean penuh kegirangan. “SAAAAMMMM!!!!!”

Samar-samar Sam mendengar pekikan itu. Pekikan memanggil namanya. Di antara derasnya hujan badai, ia melihat sosok yang ia kenal di atas kapal itu.

“Dean?”

‘Ya, itu Dean!’ Sam hampir menangis, meyakini kakaknya yang menemukan mereka.

“DEAN!!!!”

“SAM!!!! TUNGGU SEBENTAR, KAMI AKAN MENOLONG KALIAN!!!”

“CEPAT, DEAN, AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!!!”

“BERTAHANLAH, SAAAMM!!!” hampir tak percaya Dean mendengar suara Sam. Sam yang tidak pernah berbicara, berteriak padanya.

Tapi badai terlalu besar, juga angin yang bertiup sangat kencang, membuat kapal sulit mendekati kotak tersebut, sementara kotak tersebut semakin menjauh terbawa arus laut oleh angin.

“SAM!!!!” Dean semakin yakin melihat mereka menjauh dan menjauh. “SAM JANGAN PERGI!! KITA BELUM SEMPAT BERTEMU! JANGAN TINGGALKAN AKU LAGI, SAM!!!!”

Tapi apa daya, kotak semakin jauh tak terjangkau lagi.

“SAAAMMM!!!!!!!” pekikannya mengantarkannya terbangun dari tidurnya, dan mendapati Lisa menyambutnya dengan wajah cemas seperti biasa.



TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar